
Pamela telah memikirkan semuanya dengan matang. Seperti nasehat Daddy, dia telah berdoa dan menyerahkan urusan ini pada Tuhan. Dan setelah bicara dari hati ke hati dengan Mommy, Pamela jadi lebih yakin akan langkah yang akan diambilnya. Mommy memang tidak pernah bertanya dan mengungkit tentang pernikahannya. Itu semua karena Mommy tidak ingin membebaninya dan membuat Pamela tertekan seperti yang terjadi pada Mommy dulu. Tapi saat mendengar kalau Pamela telah menemukan pangerannya dan dalam waktu dekat mungkin mereka akan segera menikah, Mommy adalah orang yang paling bahagia dan langsung heboh dengan segala persiapannya.
"Tidak secepat itu Mom, aku baru saja akan menjawab lamaran Kak Rayhan kemarin..."
"Tidak apa, semua memang harus dipersiapkan sebaik mungkin kan?"
Pada akhirnya Pamela tidak bisa mencegah Mommy yang langsung sibuk membicarakan rencana-rencana indah tentang konsep pernikahan.
"Biarkan Mommy-mu sayang, mungkin dia belum puas mewujudkan keinginannya karena dulu pernikahan Mommy dan Daddy hanya sederhana, mungkin Mommy akan membalas dendam di pernikahanmu, putri kesayangannya..."
Mendengar itu Luna hanya tersenyum, lalu melanjutkan keasyikannya berselancar mencari ide tentang konsep pernikahan yang cantik.
Memang aneh, saat pernikahannya dulu Luna ingin semuanya sederhana saja, tapi sekarang Luna ingin semua yang terbaik untuk pernikahan putrinya.
Pamela menggelengkan kepalanya dengan kesal.
"Tapi ini pernikahanku Daddy! Oh tunggu, jangan bicarakan tentang pernikahan dulu, bahkan aku belum membicarakannya dengan Kak Rayhan..."
Pamela merasa keluarganya terlalu berharap dan terlalu cepat berfikir tentang perbikahan. Pamela hanya takut jika segalanya tidak berjalan lancar.
Sore itu Kak Rayhan menjemputnya untuk pergi kerumahnya. Disana Pamela bertemu dengan orang tua Kak Rayhan yang menyambutnya dengan hangat. Meski tanpa ucapan, Rayhan ingin menunjukkan kesungguhannya untuk membawa Pamela ke jenjang yang lebih serius.
"Jadi, sudah ada jawabannya?"
Rayhan bertanya sambil menatap Pamela yang dari tadi tertunduk malu. Sekarang mereka sudah berada di sebuah garden caffe yang romantis. Mereka sudah makan malam dirumah Kak Rayhan tadi, tapi Kak Rayhan mengajaknya mampir kemari untuk menikmati desert dan tentu untuk bisa bicara berdua saja.
Pamela menganguk. Dan itu cukup sebagai jawaban.
Rayhan menguluarkan kotak cincinnya dan menyematkan cincin di jari manis Pamela.
"Terimakasih, calon istriku..."
Pamela semakin membeku ditempatnya tanpa bisa berkata-kata.
"Selanjutnya bagaimana? Kapan keluargaku harus datang melamar secara resmi?", tanya Rayhan dengan tidak sabar
"Tidak tahu, aku belum membicarakannya dengan Mommy dan Daddy...."
Lagi-lagi Pamela hanya mengangguk. Dan setelah itu Pamela menghabiskan eskrimnya dengan hati yang melelehkan.
Benar-benar seperti mimpi.
Kak Rayhan mengantarnya pulang, sampai dirumah ternyata Daddy sudah menunggunya di depan rumah. Seperti satpam yang sedang berjaga.
"Selamat malam Om..."
Sapa Kak Rayhan sambil menyalami Daddy.
"Kata siapa kamu boleh membawa putriku pergi sampai selarut ini?"
Tanya Daddy dengan nada digalak-galakkan.
"Daddy! Ini bahkan belum jam sembilan malam...tadi kami makan malam dirumah Kak Rayhan dan pulangnya jalanan lumayan macet..."
Daddy-nya tentu saja berlebihan, dan Pamela benci diperlakukan seperti anak kecil di depan Kak Rayhan.
"Maaf Om, kami pulang terlalu malam...tadi saya mengajak Pamela ke rumah...rencananya keluarga saya akan datang melamar Pamela dalam waktu dekat, saya ingin minta pendapat Om dan Tante, kira-kira kapan waktu yang tepat?"
Mendengar pertanyaan itu kemarahan Zein langsung lenyap.
"Tunggu sebentar, duduklah dulu, biar kupanggil istriku..."
Tidak berselang lama Zein kembali keluar bersama Luna.
Dengan antusias, Momny, Daddy, juga Kak Rayhan membicarakan tentang waktu dan detail acara lamaran. Sementara Pamela hanya berdiri mematung sebagai pendengar.
Lamaran akan dilangsungkan minggu depan dirumah Pamela. Pamela hanya mengangguk saja saat ditanya tentang persetujuannya.
Mommy yang akan mengatur semuanya. Keluarga Kak Rayhan tinggal datang saja ke rumah pada hari yang ditentukan. Begitulah inti dari keputusannya.
Semua terlihat puas dan bersemangat dengan rencana itu. Kak Rayhan akhirnya berpamitan dan pulang dengan diantar Mommy dan Daddy sampai ke gerbang.
Pamela masih berdiri mematung melihat pemandangan itu. Dirinya akan di lamar dan semua orang terlihat amat antusias. Tentu Pamela merasa bahagia. Atau karena terlalu bahagia Pamela menjadi bingung? Bagaimana bisa semua terjadi secepat ini?