Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 73



"Ya, kamu masih punya Ayah, meskipun Mommy tidak pernah menikah dengan Ayahmu...maaf, Mommy merahasiakannya darimu selama ini. Ada banyak hal yang terjadi dan Mommy belum siap untuk menghadapinya, maafkan Mommy yang telah bersikap egois selama ini..."


"Tidak Mom, Mommy sudah melakukan banyak hal untukku dan terimakasih banyak..."


"Jadi bagaimana? Apa kamu senang akan bertemu Ayahmu?"


"Aku tidak tahu Mom, sebenarnya aku sudah tidak mengharapkannya. Bagiku sekarang Momny dan keluarga ini sudah cukup. Tapi kalau Mommy ingin aku bertemu dengannya aku akan mencobanya..."


"Bersemangatlah sayang, Ayahmu laki-laki yang hebat, kamu pasti akan bangga punya Ayah seperti dia..."


"Sehebat apa dia? Sampai tega membuangku selama ini?"


"Ah, bukan begitu sayang...Maafkan Mommy....Mommy harap kamu bisa memikirkannya baik-baik, besok Mommy akan berangkat untuk tour promo, akhir pekan nanti setelah Mommy pulang kita akan menemuinya bersama, Mommy harap kamu mempersiapkan diri..."


"Ya Mom, jangan khawatir...hati-hati di jalan dan sukses untuk konsernya..."


"Terimakasih sayang, Mommy mau istirahat dulu sekarang, kamu jaga diri baik-baik ya selama Mommy pergi nanti..."


"Ya Mom, tenang saja, aku bukan anak kecil lagi..."


"Buat Mommy kamu tetap putri kecil yang menggemaskan sayang..."


Luna mencubit pipi Pamela dan mencium keningnya, lalu keluar dari kamar Pamela.


Sepeninggal Mommy, barulah Pamela benar-benar memikirkan pembicaraan mereka barusan.


Kenapa dia tidak merasa senang dengan kabar gembira itu? Padahal selama ini bertemu dan mengenal sosok Ayahnya selalu menjadi mimpi yang hanpir mustahil baginya. Dan entah mengapa yang seketika terbersit di pikirannya saat mendengar kabar itu, justru rasa sakit yang terasa menusuk hatinya. Banyak pertanyaan yang terbersit di benaknya. Jika benar selama ini Ayahnya masih ada, kenapa baru sekarang akan menemuinya? Kenapa selama ini Ayahnya tega meninggalkan dirinya dan Mommy. Apakah selama ini keberadaannya dianggap aib seperti kata orang-orang selama itu? Jika memikirkan hal itu, Pamela jadi enggan untuk bertemu Ayah kandungnya. Mungkin benar kata Mommy dulu, kalau dirinya tidak perlu mencari tahu tentang Ayahnya karena hanya akan berbuntut kecewa. Tapi disisi lain Pamela juga tak bisa menyangkal, rasa penasarannya begitu besar. Seperti apa sosok Ayah kandung yang telah meninggalkannya selama ini?


Waktu berlalu tanpa terasa. Pamela menjalani rutinitasnya di sekolah dan dirumah seperti biasa. Luna juga sudah pulang dari konser promonya. Dan tibalah saat yang dijanjikan untuk bertemu Ayah kandung Pamela. Pamela datang bersama Mommy ke sebuah restoran fine dining yang cukup terkenal dengan pemandangan kota yang gemerlap di malam hari. Tempat itu dipilih Ayah Pamela karena mereka membutuhkan privasi sekaligus tempat yang akan berkesan untuk sebuah moment penting seperti ini. Tapi Pamela tidak merasa pertemuan ini cukup penting. Pamela tidak mempersiapkan apapun dan datang dengan hanya mengenakan pakaian kasualnya sehari-hari tanpa berdandan sedikitpun. Penampilannya sangat kontras dengan pengunjung lain di tempat itu yang kebanyakan memakai pakaian formal atau gaun mewah dengan polesan make up. Meski begitu Pamela justru tampak cantik natural dan cukup menonjol, seperti anak remaja yang dipaksa orang tuanya pergi ke pesta.


Dan kemudian, betapa terkejutnya Pamela saat melihat sosok yang duduk menunggu mereka.


"Daddy Zein?"


Reflek Pamela memanggil sosok yang dirindukannya itu. Tapi kemudian Pamela menyadari ada sesuatu yang janggal. Kenapa Daddy Zein bisa ada disini? Apa hubungan Daddy Zein dengan ayah kandungnya?


"Selamat datang Pamela, senang bisa bertemu denganmu lagi. Saya sudah pesankan beberapa menu favorit disini, tapi jika kalian ingin pesan menu yang lain silahkan..."


Kata Zein sambil menyodorkan buku menu.


Kemudian pelayan mulai datang mengantarkan menu pembuka. Pamela menikmatinya sambil mencerna situasi yang ada. Yang ada disana hanya Daddy Zein. Dan kemudian sambil menikmati hidangan Mommy dan Daddy Zein sedikit berbincang dan saling berbasa-basi menanyakan kabar.


"Mommy, apakah Ayah kandungku adalah Daddy Zein?"


Tembak Pamela, langsung ke inti masalah.


Semua seketika terdiam. Luna dan Zein saling berpandangan seolah memastikan sesuatu. Luna mengangguk dan kemudian Zein menjawab lugas pertanyaan Pamela.


"Ya, saya adalah Ayah kandungmu..."


Pamela menjatuhkan garpunya karena terkejut. Dia merasa tertipu dan sangat kecewa. Daddy Zein yang disangkanya baik adalah sosok Ayah yang tega meninggalkannya.