
Sejenak Pamela dan Rayhan saling tatap dan sekejap seperti bumi berhenti berputar. Pamela sudah mengubur dalam-dalam kisahnya dan tidak berharap apapun. Bukan tak ada lekaki lain yang mencoba mendekatinya, tapi entah mengapa hati Pamela seakan dingin dan tertutup. Tapi saat kini melihat Kak Rayhan di depan matanya entah mengapa dadanya kembali berdesir. Sebuah perasaan yang lama tak dirasakannya.
Rayhan tersenyum hangat, tapi Pamela terlalu malu untuk membalasnya dan Pamela akhirnya hanya menundukkan kepalanya.
Makan malam berlangsung hangat. Luna dan Zein bergantian "mengintrogasi' calon menantunya dengan berbagai pertanyaan. Rayhan menjawab semuanya dengan jujur dan sopan. Luna terlihat lebih akrab dengan Rayhan karena dulu mereka pernah bekerjasama. Tapi kemudian Zein membicarakan masalah pekerjaan dengan Rayhan yang membuat Luna kurang mengerti. Ah, sepertinya Luna dan Zein sedang asyik berlomba mengakrabkan diri dengan calon menantunya. Sementara Pamela hanya diam sambil menatap kikuk pada orang tuanya yang terlihat sangat antusias. Jadi sepertinya, sekarang orang tuanya sudah terpesona dengan Kak Rayhan?
Sepanjang acara makan malam Pamela hanya diam sambil pura-pura sibuk dengan makanannya. Di tambah dengan panampilannya yang kacau sebenarnya Pamela ingin masuk dan bersembunyi saja di kamar. Sampai kemudian tiba-tiba Kak Rayhan bicara padanya.
"Pamela, boleh aku minta nomormu yang baru, sepertinya kita harus bicara berdua..."
Pamela mengangkat kepalanya dan pandangan mereka kembali bertemu. Tapi entah kenapa bibir Pamela berat untuk menjawab.
"Yah, tentu saja, kalian harus bicara berdua, sudah lama tidak bertemu kan? Pasti banyak hal yang harus diceritakan!"
Zein menyela mewakili putrinya. Pamela membuka ponselnya, lalu menyerahkannya pada Kak Rayhan. Bermaksud menyuruh Kak Rayhan menyimpan nomernya sendiri. Tapi kemudian Luna punya usul lain yang lebih bagus.
"Ada baiknya kalian bicara langsung saja, untuk apa repot-repot berbalas pesan atau menelpon kalau sekarang sudah bertemu! Ayo sayang, kita naik ke atas, aku sudah lelah dan mengantuk..."
Ajak Luma sambil memberi kode pada suaminya. Zein pun mengerti.
"Baiklah, aku tahu kalian perlu bicara berdua, tapi jangan berbuat macam-macam, karena rumah ini ada CCTV-nya...", kata Zein memperingatkan.
"Tenang saja, saya takkan berani macam-macam..."
Setelah merasa yakin barulah Zein melangkah pergi. Namun setelah Luna dan Zein meninggalkan meja makan, yang tertinggal hanya kecanggungan dan keheningan.
"Pamela, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?"
"Baik Kak, Kakak sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik. Aku sempat mencarimu beberapa waktu yang lalu, tapi kata satpam yang berjaga kamu pindah dan satpam itu tidak mau memberitahuku karena alasan keamanan dan aku tidak cukup punya nyali untuk bertemu nenekmu, lalu ternyata nomer ponselmu juga sudah ganti. Tapi kemudian tanpa sengaja aku malah bertemu Daddy-mu...", Jelas Rayhan panjang lebar.
"Untuk apa Kakak mencariku? Bukankah kita sudah punya kehidupan masing-masing?"
"Apa kau sudah punya kekasih? atau sekarang kedatanganku menganggumu? Kalau iya, aku akan pergi..."
"Jadi Kakak datang hanya untuk pergi?"
Terdengar nada sinis dari ucapan Pamela. Dan Rayhan mengerti itu.
"Aku minta maaf untuk apa yang terjadi dahulu. Aku tahu aku melakukan kesalahan dan juga banyak kesapahpahaman yang belum sempat kuluruskan. Tapi Pamela, sampai saat ini tidak ada perempuan lain dihidupku.."
Rasanya gombalan itu tak masuk akal, kalau saja Pamela mengingat Kak Rayhan pergi begitu saja tanpa memperjuangkannya.
"Jangan lupa Kak, kita putus karena ada perempuan lain diantara kita..."
"Banyak hal yang harus kita bicarakan sepertinya, Nadia hanya orang yang memanfaatkanku dan akupun hanya mengenalnya sekilas, lalu tidak bertemu lagi setelah itu..."
"Sudahlah, bukan urusanku lagi!"
"Pamela, aku rasa waktu itu kita sama-sama belum siap. Jadi aku tidak berusaha menemuimu dulu. Aku pergi untuk memperjuangkan masa depanku dan menyerahkan nasib kita pada takdir. Tapi sekarang berbeda. Alhamdulillah perjuanganku sudah menampakkan hasil dan ternyata kita dipertemukan lagi dengan cara yang tak terduga ini. Dan kali ini aku sudah siap lahir batin, aku akan memberikan apapun yang aku mampu dan tidak akan melepasmu lagi. Jadi, apa kau mau menikah denganku?
Rayhan menyodorkan sebuah cincin bermata berlian yang indah berkilau. Membuat Pamela yang dari tadi merajuk, kini terdiam dan membeku. Apakah hatinya telah luluh?
Entahlah, terlalu banyak kejutan yang didapatkan Pamela hari ini.