
Suasana canggung kembali terjadi di ruang perawatan Pamela. Lagi-pagi Kak Rayhan memergokinya sedang bersama Daddy Zein. Dan di tambah lagi ada nenek yang mungkin kebetulan datang di waktu yang sama dengan Kak Rayhan. Pamela hanya diam menunduk sambil memainkan ujung selimutnya. Seperti pencuri yang tertangkap basah. Tapi tunggu, Daddy Zein pamit dan menyempatkan menyapa nenek. Apakah mereka saling mengenal sebelumnya? Tapi, untunglah Daddy Zein sudah pergi. Sekarang tinggal dirinya harus menghadapi tatapan bertanya dari Kak Rayhan dan neneknya.
"Gimana kabarnya Pamela, sudah baikan kan? Apa masih sakit?"
Kak Rayhan memecahkan keheningan dengan pertanyaan basa-basi.
"Alhamdulillah sudah baikan Kak, masih terasa sakit sedikit, tapi sudah tidak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri, kata dokter mungkin besok sudah bisa pulang...."
"Alhamdulillah kalau begitu, jangan lama-lama sakitnya, nanti ketinggalan pelajaran lagi, kan sudah mau ujian..."
"Iya...aku sambil belajar juga kok disini, tuh dibawain buku sama Mommy..."
Percakapan basa-basi itu diharapkan Pamela bisa mengalihkan perhatian, tapi ternyata tidak. Karena sepertinya Nenek sangat penasaran.
"Pamela, siapa laki-laki yang tadi di sini? Mau apa dia kesini?"
Tanya Nenek dengan tatapan penuh selidik.
"Itu teman Mommy nek, dia cuma menjengukku sebentar..."
Semoga saja Mommy bisa diajak bekerjasama. Tidak mungkin Pamela mengaku pada nenek soal sugar daddy. Bisa-bisa nanti nenek pingsan dibuatnya.
"Oh, apa diam-diam Mommy-mu berhubungan dengan pria brengs*k itu lagi?"
Nenek tampak bergumam sendiri.
"Ada apa nek?"
"Tidak-tidak, tidak apa-apa...Pamela, kamu makanlah yang banyak biar cepat sembuh. Lain kali hati-hati dan jangan suka ceroboh!"
"Ya nek..."
"Kakek, Nenek, saya pamit duluan ya, sudah cukup menjenguk Pamela...Oh ya, Pamela ini ada titipan buah dan kue dari Ibu, titip salam buat kamu katanya..."
"Oh ya? Terimakasih banyak Kak, salam kembali untuk Ibu..."
"Oh ya Rayhan, bagaimana kabar orang tuamu, sehat-sehat kan? Sampaikan juga salam Nenek untuk mereka..."
"Sehat Nek, alhamdulillah...Nanti saya sampaikan salamnya. Sekerang saya pamit dulu ya Nek, masih ada keperluan..."
"Terimakasih banyak Rayhan, hati-hati di jalan...Terimakasih sudah menjenguk Pamela..."
Kata Nenek dengan tulus. Sepertinya Nenek mulai kembali luluh pada Kak Rayhan. Kak Rayhan pun mengangguk, bersalaman dan pergi meninggalkan ruang perawatan Pamela sambil mengucapkan salam. Kehadiran Nenek dan Kakek membuat Kak Rayhan kikuk hingga memilih untuk cepat pergi. Pamela tahu itu, tapi Pamela juga bersyukur karena itu artinya dia tak perlu membicarakan banyak hal dengan Kak Rayhan. Pamela belum siap sekarang, tapi nanti Pamela berjanji akan bercerita yang sejujurnya.
"Kamu sudah makan Pamela? Sini biar Nenek suapi ya? Kalau sakit harus teratur makannya..."
"Sudah Nek, tapi aku sudah makan sarapan yang dibelikan Mommy sebelum Mommy pulang. Aku nggak suka makanan rumah sakit Nek..."
Tidak mungkin Pamela bilang sarapan bubur ayam bersama Daddy Zein. Pamela tersenyum geli di dalam hati.
"Ya sudah, kalau begitu istirahat saja, biar nenek pijat kakimu...."
Nenek memijat kaki Pamela dengan lembut. Sudah lama nenek tidak melakukannya. Hal yang paling Pamela suka dari neneknya. Kalau dipikir-pikir Nenek sebetulnya sangat baik. Merawat dan memperhatikannya sedari kecil. Hanya saja belakangan, Pamela yang sedang beranjak dewasa dan mulai banyak maunya sering tak sejalan dengan pemikiran Nenek. Beberapa kali mereka berdebat dan tentu saja selalu Pamela yang harus mengalah dan menurut. Karena itu belakangan ini Pamela lebih sering memilih menghindari Nenek. Pamela lebih suka Mommy yang pikirannya lebih terbuka dan lebih memahaminya. Tapi sekarang Pamela jadi merasa bersalah. Nenek tetap punya tempat tersendiri di hatinya. Yah meskipun Nenek sangat cerewet dan suka memarahinya. Tapi Pamela ternyata juga merindukan kedekatan dengan Neneknya seperti saat masih kecil dulu.
"Enak Nek, jangan berhenti..."
Kata Pamela saat Nenek mulai berhenti memijat.
"Kamu ini, katanya sudah besar tapi masih saja manja..."
Meski mengomel, nenek lalu masih lanjut memijat. Pamela menikmati pijatan nenek meski sambil terus mengomel menyampaikan petuah-petuahnya seperti kaset yang terus di putar ulang. Hingga akhirnya Pamela jatuh tertidur dan berpindah ke alam mimpi. Ah, nikmatnya.