Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 45



Pamela mencoba untuk mengerti dan memahami keinginan Kak Rayhan. Mereka adalah dua orang yang berbeda, dengan latar belakang keluarga yang berbeda bahkan bertolak belakang. Jadi wajar saja kalau mereka mempunyai pemikiran dan cita-cita yang berbeda.


Pamela setuju saja saat Kak Rayhan meminta untuk tidak bertemu dulu selama tiga bulan ke depan. Kak Rayhan ingin fokus untuk mengelola chanelnya dengan lebih baik dan konsisten. Sedang Pamela sendiri sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir juga rencananya akan mengikuti beberapa tes masuk ke universitas. Tentunya dia juga harus belajar dengan lebih giat. Apalagi Mommy sudah mendaftarkannya ke lembaga bimbingan belajar juga memanggil guru les privat.


Urusan dengan Daddy Zein pun sebenarnya Pamela sudah mendapatkan kompensasi. Daddy Zein tidak keberatan kalau Pamela harus fokus untuk belajar dan sementara tidak bertemu. Namun ternyata hidup yang diiisi drngan belajar dan belajar saja terasa membosankan untuk Pamela. Rasanya Pamela butuh sejenak untuk melepas penat. Tapi untuk menghubungi Kak Rayhan Pamela merasa gengsi. Pamela tidak ingin terkesan terlalu mengejar disaat Kak Rayhan menjaga jarak. Jadi akhirnya Pamela memilih untuk menghubungi Daddy Zein.


"Daddy, bisa kita bertemu?"


Pamela yang sedang tidak ingin berbasa-basi langsung menyampaikan keinginannya setelah sambungan telepon tersambung.


"Ada apa sayang? Bukankah katanya kamu tidak mau bertemu dulu karena harus fokus belajar?"


"Aku bosan Daddy, rasanya ingin cari hiburan sebentar..."


"Haha, baiklah gadis kecil, kapan kamu mau bertemu? Dan apa yang ingin kamu lakukan denganku?"


"Bagaimana kalau besok minggu? Kita jalan-jalan ke Mall saja Daddy, mungkin makan, belanja, atau nonton?"


"Ok, kita lakukan apa saja yang kamu inginkan, sekarang kamu belajar dulu yang rajin, sampai ketemu hari minggu..."


"Ok Daddy, dah..."


Sambungan telepone ditutup. Pamela jadi kembali bersemangat untuk belajar. Dan tentunya juga lebih bersemangat lagi untuk menunggu datangnya hari minggu.


Akhirnya hari-hari yang ditunggu-tunggu oleh Pamela pun tiba. Hari minggu itu Pamela bersiao dengan mandi pagi-pagi dan berdandan dengan gaya simple seperti biasa. Penampilannya terlihat segar.


Daddy Zein bilang akan menunggunya di restoran jepang fovoritnya. Jadi Pamela langsung meluncur kesana. Dan bemar saja Daddy sudah menunggunya.


"Hey Daddy, sudah lama menungguku?"


"Hmm, aku tiba sekitar seouluh menit yang lalu, apa itu bisa dibilang lama?"


Pamela tersenyum mendengarnya.


"Ayo pesan makanmu? Bukankah katamu sudah lama tidak datang kesini, pesan yang banyak ya..."


"Ok Daddy, aku akan pesan yang banyak, nanti kita habiskan bersama ya?"


"Ya...ya...bukan ide yang buruk mencicipi anek makanan disisi, aku juga penasaran..."


Pamela memilih berbagai macam menu dan memesannya. aneka jenis sushi, ramen, dan takoyaki. Ada sepuluh jenis menu yang dipesan Pamela. Semua dalam porsi kecil. Dan sepertinya tidak terlalu susah untuk menghabiskannya berdua dengan Daddy. Saat pesanan mereka satu persatu tiba, Pamela langsung sibuk mencicipi makanan favoritnya itu. Dan tanpa ragu Pamela juga menyuapi Daddy Zein agar mencicipi makanan favoritnya itu. Tidak sampai satu jam makanan-makanan ity pun habis tak bersisa.


"Uh, kenyang sekali Daddy..."


"Kamu makan seperti orang kelaparan sayang..."


"Hehe benarkah?"


"Tapi rasanya memang enak, aku jadi ketagihan, lain kali kita makan disini lagi ya? Aku ingin coba menu yang lain juga.."


Tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di benak Pamela. Dan rasa penasaran mendorongnya untuk bicara begitu saja.


"Tentu saja, silahkan!"


"Kenapa Daddy membayarku menjadi baby tapi tidak menyentuhku?"


"Oh, ayolah, jangan mulai menggodaku gadis kecil?"


"Apa Daddy punya pacar?"


"Tidak!"


"Apa Daddy kesepian?"


"Entahlah..."


"Karena itu Daddy membayarku hanya untuk menemanimu seperti ini?"


Pamela merasa aneh dengan hubungan ini dan sangat penasaran dengan motif Daddy Zein. Bahkan selama ini Daddy Zein hampir selalu menuruti keinginannya bukan sebaliknya.


"Sejak mengenalmu hidupku tidak terasa sepi lagi Pamela...dan ini terasa menyenangkan..."


Pamela bingung dan tidak ingin merusak suasana dengan meneruskan pembiacaraan aneh itu.


"Ayo kita lanjut jalan-jalan Daddy!"


"Baiklah, ayo!"


Mereka berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan masuk dari satu gerai ke gerai yang lainnya. Tapi entah mengapa kali ini tak ada satupun barang yang menarik minat Pamela. Sampai tiba-tiba, sebuah suara yang sangat di kenalnya memanggilnya.


"Pamela!"


"Kak Rayhan?"


Pamela memang merinfukan Kak Rayhan. Tapi bertemu dengan cara seperti ini jelas bukan hal yang diinginkannya.


"Kamu sama siapa?"


"Oh, nama saya Zein, Om-nya Pamela..."


Rayhan sejenak terdiam, berfikir. Dia mengenal keluarga Pamela. Dan mendengar juga cerita dari Mommy Pamela. Pamela tidak punya saudara lain yang tinggal di jakarta. Juga tidak punya Om. Jadi "Om" macam apa pria ini? Rayhan tidak bisa menepis pikiran buruknya. Lalu lari keluar dari Mall.


Pamela menyadari tatapan tajam penuh selidik yang diarahkan bergantian dari dirinya dan Daddy Zein. Kak Rayhan pasti curiga dan berfikir buruk tentang dirinya. Bagaimana kalau Kak Rayhan tahu kalau dirinya seorang baby?


Pikiran Pamela kalut. Hingga saat melihat Kak Rayhan berlari keluar, Pamela pun reflek mengejarnya.


Tapi naas saat nenyebrang di jalan raya untuk mengikuti Kak Rayhan sebuah mobil menyerempet tubuhnya.