Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 104



Luna mengumumkan pernikahannya dengan memposting sebuah foto di sosial medianya, sehari setelah hari H. Dan pengumuman secara tidak langsung itu langsung menghebohkan jagad dunia maya. Postingan Luna langsung dibanjinri komentar dan doa-doa dari para penggemarnya, juga di repost oleh berbagai akun hingga menyebar menjadi head line news.


Tidak, Luna tidak bermaksud menutupi pernikahannya dari publik. Luna hanya ingin pernikahannya berlangsung sakral dan khidmad, tanpa diliput oleh wartawan dan awak media, serta menjadi tontonan publik. Luna sudah menduga kalau berita pernikahannya yang terkesan mendadak di mata orang-orang, akan heboh. Jadi untuk sementara waktu rencananya Luna akan tinggal di apartement Zein untuk menghindari kejaran wartawan. Tapi sepertinya mereka jauh lebih pintar, hingga bisa mengendus lokasi tempat tinggal Luna.


"Kenapa tidak kamu hadapi saja? Kasihan mereka terus mencarimu begini..."


"Itu sudah pekerjaan mereka untuk mencari berita, tapi terkadang mereka tidak sopan dan sering melanggar privasi orang!"


"Santai saja, pernikahan kita bukanlah aib sayang, umumkanlah dengan gembira...ayo, aku akan menemanimu...."


"Benarkah, kamu tidak keberatan?"


"Sudah konsekuensiku untuk menjadi suami seorang superstar sepertimu, dan aku bangga karenanya...."


Luna tersenyum, meski hatinya masih gelisah. Sejujurnya, kejaran wartawan ketika dia bersembunyi untuk melahirkan Pamela masih sangat membekas. Luna ingat bagaimana para wartawan itu sangat bringas dalam mengejar berita yang tak lain adalah rahasia dan aibnya saat itu, lalu menyebarkannya dengan semena-mena pada publik dengan narasi yang memojokkannya. Tapi Luna berusaha untuk menenangkan hatinya. Ini memang sudah resiko pekerjaannya sebagai seorang aktris. Dan tak bisa dipungkiri, berkat berita-berita yang disebarkan wartawan jugalah namanya bisa terangkat.


Zein menggenggam tangannya sambil berjalan ke arah wartawan yang sudah menunggunya di lobby apartement. Seperti yang sudah di duga, begitu Luna datang mereka langsung mengerubungi Luna dan Zein, mengarahkan kamera dan membrondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Luna tersenyum, sambil melangkah mundur dan meminta mereka memberi jarak.


"Terimakasih atas perhatiannya dan ucapannya, Ya saya telah menikah tanggal 12 Juni kemarin di sebuah villa di puncak. Acaranya digelar tertutup hanya untuk keluarga dan kerabat dekat. Dan perkenalkan, ini suami saya Zein Wiradinata...Mohon doanya untuk kami berdua..."


Sorot kamera terus mengarah pada Luna dan Zein untuk mengambil gambar mereka sebanyak-banyaknya. Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh para wartawan. Luna hanya tersenyum menanggapinya.


"Sudah cukup ya, mohon maaf saya dan suami harus kembali bekerja, terimakasih banyak, dan permisi..."


Zein menggenggam tangan Luna melewati kerumunan wartawan. Para wartawan itu memberi jalan, tapi tetap terus memotret, mengabadikan momen kemesraan Luna dan Zein untuk di jadikan berita. Hingga keduanya masuk ke mobil dan melaju, baru mereka berhenti.


Tanya Zein begitu mereka berada di dalam mobil.


"Tidak, hanya kalau sedang ada berita yang dikejar..."


"Rasanya seperti mimpi..."


"Apa?"


"Sekarang aku jadi suami artis, hahaha"


Luna mencubit lengan Zein dengan gemas.


Mereka tiba di rumah lama Luna dan Pamela langsung berlari keluar begitu tahu Mommy dan Daddy-nya datang.


"Pamela, apa kabar sayang? Mommy kangen sekali sama kamu..."


Setelah bulan madu singkat di Bali selama tiga hari, lalu lanjut memginap di apartemen Zein selama tiga hari, Luna dan Zein belum bertemu Pamela sejak hari pernikahannya. Dan waktu satu minggu terasa amat lama, sebab Luna sudah merindukan buah hatinya itu.


"Apa setelah kalian menikah aku justru terlupakan dan akan sering ditinggal seperti ini?"


Tanya Pamela dengan nada menggoda.


"Tidak sayang, setelah ini kami akan pindah kemari, lalu nanti kita akan pindah ke rumah baru sama-sama."