
Jeda. Semua orang seolah sedang memerlukan jeda saat ini. Masalah yang terjadi belakangan terasa amat menguras energi bagi Pamela. Terakhir, beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit akhirnya Kak Rayhan meminta bertemu dengannya. Tapi siapa sangka, makan malam di sebuah resto romantis yang diharap menjadi momen manis bagi mereka berdua justru berakhir sebaliknya. Tidak ada rayuan dan kata-kata manis yang terucap dari mulut Kak Rayhan. Kak Rayhan seolah melambungkannya setinggi-tingginya untuk menghempaskannya ke jurang yang dalam. Sebab acara kencan di tempat romantis itu justru menjadi penghakiman atas segala prasangka yang selama ini selalu tertunda untuk diluruskan.
"Jadi siapa sebenarnya laki-laki itu?"
Tanya Kak Rayhan langsung tanpa basa basi.
"Maaf Kak, aku kenal dia sebelum aku ketemu Kakak lagi. Aku tahu aku salah. Aku merasa kesepian waktu itu dan iseng sama temen aku buat cari pelarian itu. Dia....Sugar Daddy aku....tapi untungnya kita nggak pernah melakukan perbuatan yang terlarang. Mungkin...kita cuma sama-sama kesepian dan butuh teman buat berbagi cerita..."
Braakk.
Kak Rayhan menggebrak meja hingga menimbulkan suara keras dan membuat Pamela terkejut.
Meski sempat menduganya, tapi penjelasan Pamela tetap membuatnya terkejut. Bukan sebuah penjelasan yang diharapkan. Dan egonya sebagai laki-laki seperti jatuh tiba-tiba. Gadis yang disayangi dan dipercayainya, melakukan sebuah kesalahan yang amat hina di matanya.Bagaimana mungkin gadis yang dimatanya polos dan tulus seperti Pamela bisa melakukan hal itu?
Pamela yang melihat Kak Rayhan marah amat marah tak kuasa bicara meski banyak hal yang ingin dia jelaskan. Tubuhnya gemetar sebab rasa takut.
Sementara Kak Rayhan benar-benarerasa kalut dan kacau malam itu. Berbagai perasaan buruk bercampir menjadi satu. Rasa sedih, kecewa, dan marah membuncah di dalam dada hingga rasanya ia ingin meledak. Tapi melihat wajah cantik Pamela yang pucat dan ketakutan, rasanya dia tak tega untuk menumpahkan amarahnya pada gadis itu.
Akhirnya hanya kata-katanya itu yangbkeluar dari mulutnya sambil menahan geram. Kak Rayhan sendiri hanya memesan minum dan kentang yang sudah dihabiskannya sebelum mereka bicara tadi. Sedanh di hadapan Pamela masih ada sepiring pasta. Pamela memaksakan diri menelan beberapa suap, sisanya hanya dimainkan dengan tidak berselera lalu meneguk es coklat yang terasa manis dan dingin di mulutnya.
"Aku sudah selesai Kak..."
Kata Pamela dengan raut takut yang tak bisa disembunyikan.
"Ayo kita pulang..."
Dan sisa malam itu mereka habiskan dengan saling diam. Sejak pertemuan malam itu komunikasi keduanya putus total. Kak Rayhan yang mungkin masih marah enggan menghubungi Pamela. Dan Pamela juga terlalu takut untuk saling memulai. Entah bagaiamana perasaannya pada Kak Rayhan. Pamela merasa begitu terluka dan terhina dengan perlakuan Kak Rayhan. Dia tahu dirinya memang salah. Tapi apakah dia sehina itu di mata Kak Rayhan? Tak bisakah Kak Rayhan sedikit memahami perasaannya?
Di sisi lain Pamela juga enggan memghubungi Daddy Zein dan entah mengapa Daddy Zein juga tidak menghubunginya. Sementara Mommy kembalu sibuk di dunia hiburan sebab baru saja merilid sebuah album baru. Dan untuk beberapa waktu ke depan ada jadwal show di beberapa daerah untuk mempromosikan albumnya.
Pamela merasakan kekosongan di dalam hidupnya. Rasanya begitu sepi dan sendiri. Seperti melakukan sebuah kesalahan besar lalu tiba-tiba semua orang meninggalkannya sebagai hukuman.