
"Pamela, dari mana saja seharian baru pulang?"
Teriak Nenek begitu Pamela masuk ke dalam rumah.
Pamela yang merasa lelah setelah seharian bepergian ingin segera mandi dan merebahkan tubuhnya. Jadi Pamela yang malas ribut-ribut hanya berlalu dan berjalan menuju kamarnya.
"Pamela!"
Teriak nenek lagi sebelum Pamela sampai ke pintu kamarnya.
"Ada apa Nek? Aku capek ingin istirahat"
"Jawab dulu pertanyaan Nenek! Sudah berani kurang ajar kamu hah? Dari mana saja seharian?"
"Aku hanya jalan-jalan sama Kak Rayhan Nek, kan tadi sudah pamit..."
"Kenapa malam-malam begini baru pulang? Pergi kemana saja kamu? Tadi kan Nenek sudah bilang, cepat pulang!"
"Aku hanya jalan-jalan keliling kota Nek, lalu ke rumah Kak Rayhan di Kampung Duren, lalu keliling-keliling lagi, makan jagung bakar terus pulang!"
Pamela mencoba menjelaskan dengan jujur.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar dengan laki-laki sampai larut malam begini? Bagaimana kalau nanti para tetangga menggunjingkanmu? Mau di taruh di mana muka Nenek, Hah?"
"Aku cuma keluar sekali dengan Kak Rayhan Nek dan sudah minta izin Nenek, kenapa Nenek harus selalu mendengarkan kata tetangga?"
"Sudah berani membantah kamu Pamela hah?"
Pamela sungguh merasa lelah dan serba salah. Neneknya ini sungguh menyebalkan. Dia diam di bilang kurang ajar. Dia menjawab di bilang membantah. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Tiba-tiba Mommy keluar dari kamarnya.
"Sudahlah Bu, Pamela sudah besar, biarkan saja dia bersenang-senang sedikit!"
"Ibu macam apa kamu? Membiarkan anak perempuan keluar malam dengan teman laki-laki!"
"Bu, sekarang zamannya sudah berbeda, biarkan Pamela bergaul dengan teman-temannya..."
"Luna! Jangan pengaruhi Pamela dengan pemikiran sesatmu! Hidupmu terlalu bebas dan kami sudah memaklumiya...Tapi jangan cemari Pamela juga!"
"Ibu, biar bagaimanapun Pamela anakku dan aku Ibunya, mana mungkin aku ingin menyesatkannya? Aku hanya ingin membiarkannya sedikit bersenang-senang supaya dia tidak bosan dikurung di rumah terus!"
"Memang kamulah Ibunya, tapi aku yang selalu ada untuknya dan akulah yang susah payah mendidik dan menjaganya! Jadi, jangan rusak dia dengan pemikiran bebasmu itu! Apa kau tidak dengar semua orang membicarakanmu!"
"Memang kenapa kalau orang-orang itu membicarakanku, aku tidak menumpang hidup pada mereka!"
"Luna! Apa kamu tidak merasa malu? Seharusnya kamu instropeksi dan memperbaiki hidupmu! Bukan malah semakin bebas pergi sesuka hati begini? Apa kamu pikir Ibumu ini tidak merasa malu saat semua orang membicarakanmu?"
"Jadi, apa selama ini Ibu merasa malu punya anak sepertiku?"
"Tentu saja Ibu merasa malu, kamu sekarang seorang Ibu Luna, sadarlah sedikit dan bersikaplah yang pantas!"
"Ibu! Bahkan setiap hari siang dan malam aku membanting tulang untuk membiayai keluarga kita, apa itu tidak cukup?"
"Apa kamu pikir kami hanya menumpang hidup padamu? Apa kamu merasa terbebani untuk menghidupi Ibumu ini? Lagi pula aku lah yang setiap hari mengasuh anakmu selama kamu pergi. Bahkan dulu, saat kamu tidak menginginkan anak itu akulah yang merawatnya!"
"Jadi berapa banyak lagi aku harus membayarmu, Bu?"
"Dasar anak kurang ajar! Tidak tahu terimakasih malah beraninya menghina Ibumu, Hah?"
Kepala Pamela terasa pening mendengar perdebatan antara Mommy dan Nenek. Bagaimana mungkin, keluarganya yang selama ini 'adem ayem' ternyata menyimpan rahasia yang terlalu rumit untuk dipahami otak kecilnya yang polos. Dan seperti bom waktu, aib demi aib diungkap dengan bumbu kemarahan yang membabi buta.
Pamela masuk ke kamar dan menutup pintu, lalu mengambil tas dan memasukkan beberapa potong bajunya. Diam-diam, Pamela melangkahkan kakinya keluar dari rumah, tanpa disadari Mommy ataupun neneknya yang masih sibuk berdebat.