Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 79



Zein bersyukur Pamela akhirnya setuju untuk menemuinya seminggu sekali, seperti kesepakatannya dengan Luna. Itupun dengan mempertimbangkan kesibukan dan waktu luang Pamela. Dan sepertinya saat ini Pamela sudah selesai ujian dan punya banyak waktu luang, jadi Zein ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.


Kali ini Pamela memintanya bertemu di malam hari. Tepatnya malam minggu. Mungkin karena Pamela sedang tidak punya kekasih. Zein tahu dari Luna kalau Pamela belum lama putus dari kekasihnya. Anak laki-laki yang cemburu saat melihatnya saat itu. Dan entah mengapa Zein merasa senang memdengarnya. Bukan senang karena melihat Pamela patah hati. Tapi seperti kebanyakan Ayah pada umumnya Zein merasa kekasih putrinya adalah saingannya, apalagi dia baru punya kesempatan untuk bertemu Pamela belakangan ini.


Berbeda dari sebelumnya, Zein melihat Pamela bersikap lebih santai dan banyak tersenyum, tidak lagi terasa dingin sikapnya. Hal itu juga membuatnya lebih rileks untuk membuka percakapan.


"Malam-malam begini, bagaimana kalau kita cari tempat makan yang romantis?"


"Hmm, nanti dikira aku pacaran sama om-om lagi!"


Tuh kan. Pamela mulai mau melemparkan candaan.


"Terus maunya kemana? Kalau restoran korea fovoritmu gimana?"


"Bosen ah, udah sering kesana...gimana kalau ke warung lesehan kaki lima aja?"


"What?"


Seru Zein tanpa sadar karena saking terkejutnya.


"Kenapa? Apa Daddy nggak mau le tempat semacam itu?"


"Selera kamu sudah berubah rupanya! Ok, kita makan di lesehan. Kamu mau yang dimana?"


Pamela menyebut letak warung lesehan yang pernah dikunjunginya bersama Vanessa. Disana ikannya kering dan sambalnya enak. Terasa nikmat dan cocok di lidah Pamela.


"Ok, kita meluncur kesana..."


Sampai di warung yang dituju, suasana tampak ramai oleh pembeli. Mereka melangkah ke sebuah meja kosong yang terletak di pojok. Suasana warung yang ramai membuat kebisuan diantara mereka tak terlalu kentara.


"Mau pesan apa Dad, disini tidak akan ada pelayan yang mendatangimu, semua terlalu sibuk..."


Ucap Pamela, yang ternyata lebih dulu memulai percakapan.


"Hmm, kalau kamu mau apa? Aku ingin makan sepertimu, biar aku yang pesankan!"


"Aku mau ikan nila dan tahu tempe.."


"Baiklah, biar kupesankan dulu...."


Zein memang jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah makan di tempat semacam ini. Tapi lidahnya fleksibel dan bisa menerima jenis makanan apapun.


Meskipun terhitung ramai, tidak berselang lama makanan mereka segera tersaji. Penjual dan pelayan ditempat ini cukup cekatan rupanya.


"Jadi, bagaimana rencanamu kedepan? Sudah tidak belajar untuk persiapan ke perguruan tinggi?"


"Oh, baguslah..."


"Otakku tak sepintar Daddy, dan aku malas bersaing hanya untuk masuk ke kampus yang di bilang bonafit..."


"Haha, semua orang akan pintar dalam bidangnya masing-masing kalau sungguh-sungguh belajar dan berusaha, Mommy-mu bilang diam-diam kamu pintar menggambar design pakaian? Belajarlah sungguh-sungguh, kamu pasti akan berhasil"


"Terimakasih Dad, tapi kurasa Mommy terlalu berlebihan. Aku hanya iseng dan belum pernah mempelajarinya dengan serius..."


"Maka kalau serius, pasti akan lebih baik dan jangan sungkan kalau perlu bantuan Daddy sayang..."


"Daddy, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa? Tanyakan saja..."


"Waktu pertama kita bertemu, apa Daddy sudah tahu kalau aku anakmu?"


"Ya, aku sudah tahu"


"Apa kau kecewa aku melakukan perbuatan seperti itu?"


"Pada awalnya iya...dan aku sempat menyalahkan Mommy-mu karena hal itu, tapi kemudian aku kecewa pada diriku sendiri, dan lagi...akupun melakukan kesalahan yang sama denganmu..."


Entah mengapa Pamela lalu tertawa. Dan Daddy Zein oun ikut tertawa.


"Memalukan! Aku bertemu denganmu dengan cara paling memalukan!"


Kata Pamela kemudian.


"Tidak apa, manusia melakukan kesalahan, tapi manusia juga bisa memperbaikinya dan jadi lebih baik...."


"Daddy, aku sudah kenyang...mari kita pulang..."


"Baiklah, terimakasih sudah banyak bicara padaku hari ini..."


Bagi Zein perubahan sikap Pamela sangatlah berarti dan membuatnya merasa mulai diterima.


"Sama-sama Dad, aku pun juga banyak melakukan kesalahan dalam hidupku, meskipun aku belum bisa sempurna memaafkanmu, aku akan berusaha..."


Zein laku mengantarkan Pamela ke rumah lalu bertemu dan mengbrol dengan Luna sebentar.


"Terimakasih banyak sayang, sampai bertemu lagi...."


Zein pun pulang ke Apartemennya dengan perasaan hangat yang baru dirasakannya.