
Ini hari minggu. Pamela sudah pulang sejak pagi-pagi sekali dengan diantar Daddy Zein. Dan hari ini Pamela ada janji untuk bertemu dengan Kak Rayhan. Ah, dalam sekejap hidupnya tidak sepi lagi. Kemarin malam dia menginap di hotel bersama Daddy Zein. Dan hari ini Pamela akan berkencan dengan Kak Rayhan. Pamela sedikit bangga dengan dirinya. Apa sekarang dia sudah pandai menjadi player? Ah, pasti orang-orang hanya akan menyebutnya gadis murahan. Sudahlah, jangan pikirkan kata-kata orang!
Sekarang Pamela kembali sibuk mematut-matut dirinya di depan cermin. Wajahnya segar dan rambutnya masih basah sehabis mandi (lagi!). Yah, Pamela memutuskan untuk mandi lagi dirumah karena akan pergi berkencan. Kali ini Pamela memilih memakai celana jeans dan t-shirt seperti biasa, karena dia akan pergi bersama Kak Rayhan dengan menggunakan motor bebeknya. Hihi, Pamela belum pernah pergi berkencan dengan naik motor! Pasti akan romantis sekali. Apa yang harus dilakukannya nanti? Apa dia harus memeluk Kak Rayhan erat-erat dari belakang? Ah, memikirkannya saja Pamela jadi malu sendiri.
Ada suara motor berhenti di depan rumah. Itu pasti Kak Rayhan. Pamela bisa mendengarnya karena kamarnya ada di bagian depan. Pamela langsung bergegas keluar. Tapi ternyata sampai di luar Kak Rayhan sedang di interogasi oleh Nenek Zubaedah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi baik Nenek maupun Kak Rayhan sama-sama tersenyum. Jadi Pamela pikir, tidak ada yang harus dikhawatirkan kalau dia kelauar dengan Kak Rayhan.
"Nek, Pamela pergi dulu ya sama Kak Rayhan.."
Pamit Pamela sambil mencium tangan neneknya. Kak Rayhan pun melakukan hal yang sama.
"Pamit dulu ya nek..."
"Ya, hati-hati di jalan, cepat pulang Pamela!"
Ye, belum juga pergi, sudah disuruh cepat pulang saja!
Omel Pamela dalam hati. Lalu merekapun berangkat. Dalam perjalanan, Pamela bingung bagaimana harus berpegangan, sebab Kak Rayhan membawa ransel kecil di punggungnya.
"Kenapa bawa-bawa ransel segala sih Kak?"
Tanya Pamela kesal.
"Nggak papa, takut khilaf! Kamu pegangan pinggang Kakak aja nggak papa..."
Dan Pamela pun memegang pinggang Kak Rayhan erat-erat karena takut jatuh.
"Jangan ngebut-ngebut Kak!"
Omel Pamela lagi.
"Yaelah neng, ini baru 60 km per jam, kalau pelan-pelan kapan sampeknya?"
Maklum saja, pamela sudah jarang sekali membonceng sepeda motor, jadi sedikit takut. Kalau pesan g*jek pun Pamela selalu memilih taksi online nya.
Dan kemudian Kak Rayhan baru menyadari sesuatu.
"Ngomong-ngomong kita mau pergi kemana Pamela?"
"Apa Kak?"
Pamela kurang jelas mendengar, karena suara mesin motor dan kendaraan lain yang cukup bising.
"Kita mau pergi kemana?"
Ulang Kak Rayhan sambil berteriak.
"Terserah Kakak saja..."
Balas Pamela juga sambil berteriak.
"Ke Mall mau?"
"Udah bosen, yang tempat lain Kak!!"
"Ka taman hiburan gimana?"
"Kemaren baru pergi kesana sama temen Kak, yang lain!"
"Terus kemana donk? Katanya terserah!! gimana sih?"
"Haus Kak, berhenti dulu yuk cari minum! Tenggorokanku sakit ngobrolnya teriak-teriak terus begini!"
"Hahaha..."
Kak Rayhan terkekeh geli, lalu menghentikan motor bebeknya di sebuah warung kaki lima di pinggir jalan.
"Minum es teh di pinggir jalan mau?"
"Mau Kak!"
"Tapi nanti kamu sakit perut! Biasanya kan minumnya Boba yang di mall-mall itu kan?"
"Ih Kakak, apaan sih?"
Dan karena Kak Rayhan takut Pamela beneran sakit perut, akhirnya dia mengambil sebuah teh dalam kemasan botol.
"Yang ini aja ya? lebih higienis..."
"Serah Kakak deh!"
Pamela pun langsung menyambar teh botol itu dan menenggak isinya sampai setengah.
"Ayo Kak, kita jalan lagi!"
"Terserah!"
"Ih, sekali lagi bilang terserah, ku jitak kepalamu Mel!"
Kata Kak Rayhan dengan gemas.
"Ih..Kakak jahat! Kita puter-puter aja dulu deh Kak! Nanti kalau aku udah ada ide yang menarik, baru aku bilang!"
"Siap tuan puteri!"
Dan pergilah mereka, berputar-putar keliling kota tanpa tujuan yang jelas. Hari beranjak siang, sinar matahari semakin terik membakar. Bulir-bulir keringat mulai menetes membasahi wajah Pamela.
"Panas Kak! Aku sampai keringetan nih!"
Protes Pamela di belakang.
"Ya emang panas, motorku nggak dilengkapin AC soalnya!"
"Ayo kita kemana kak! Masak cuma muter-muter aja?"
"Ye! Kan kamu yang bilang mau muter-muter, gimana sih? Yuk kita ngadem di Mall aja, mau?"
"Nggak mau! Yuk kita ke rumah Kakak aja, udah lama nggak ke kampung duren, Pamela kangen!"
"Kangen ke kampung Duren atau kangen sama Kakak?
Goda Kak Rayhan. Pamela pun tersipu malu.
Dan akhirnya Kak Rayhan melajukan motornya pulang ke rumahnya.
"Rumahku kecil, masih sama kayak yang dulu, nggak papa ya?"
"Nggak papa Kak, emangnya kenapa sih?"
Dan setelah lelah berputar-putar tak tentu arah, Pamela dan Kak Rayhan yang kepanasan sukses menghabiskan satu teko es teh manis yang dihidangkan Mama-nya Kak Rayhan.
"Makasih banyak tante, es tehnya enak banget!"
Dan merekapun makan siang dengan lahap di rumah Kak Rayhan.
"Ray, kalau nge date modal dikit donk, masak makan siang aja di ajak pulang kerumah, kamu ngirit atau pelit hah?"
"Aduh ini Pamela sendiri yang minta Ma! Lagian kan Mama sendiri yang bilang kalau pacaran jangan gengsi!"
Mendengar percakapan Ibu dan anak itu, Pamela jadi salah tingkah. Emangnya sejak kapan dia pacaran sama Kak Rayhan? Ditembak saja belum, sudah ngaku-ngaku pacar!
Setelah selesai makan, Pamela berbincang-bincang dengan Mama Kak Rayhan. Tak terasa hari sudah beranjak sore. Pamela pun berpamitan untuk pulang.
Namun saat dalam perjalanan, Pamela tiba-tiba malas untuk pulang.
"Kak, jangan langsung pulang dulu!"
"Terus kamu mau kemana?"
"Mau makan jagung bakar Kak!"
"Kedai jagung bakar kan bukanya masih nanti malam Mel!"
"Ya sudah sekarang kita muter-muter aja dulu..."
Dan jadilah sore itu mereka berputar-putar lagi tanpa tujuan yang jelas.
Setelah puas berputar-putar, mereka akhirnya berhenti di sebuah kedai jagung bakar. Pamela memesan satu jagung dan dua gelas minuman.
"Haus Kak!"
"Ya jeaslah, siapa suruh minta muter-muter terus!"
Kak Rayhan pun memesan menu yang sama dengan Pamela. Lalu mereka berdua makan dengan lahap.
"Ayo sekarang kita pulang Kak!"
Hari sudah malam, matahari sudah tenggelam. Pamela merasa lelah tapi hatinya puas bisa berpetualang seharian. Biasanya hari liburnya hanya dihabiskan dirumah saja tanpa kegiatan berarti. Maklum saja, anak rumahan dan tak punya pacar.
Pukul sembilan malam saat Pamela sampai dirumahnya. Belum terlalu malam sebenarnya, tapi sepertinya nenek akan marah karena Pamela pergi seharian. Jadi Pamela menyuruh Kak Rayhan langsung pulang agar tak perlu mendengar ribut-ribut di rumahnya.
"Pamela! Dari mana saja seharian baru pulang?"
Tuh kan, benar saja, baru juga membuka pintu, suara omelan nenek sudah terdengar nyaring.