Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 101



Zein keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju pantry untuk menyeduh secangkir kopi. Malam ini Zein dan keluarga besarnya menginap di salah satu villa mewah yang ada di puncak. Luna dan keluarganya pun juga melakukan hal yang sama, hanya di villa yang berbeda. Hal ini mereka lakukan agar acara pernikahan mereka besok berjalan lancar.


"Belum tidur Bro?"


Sapa Hartono yang melihat bos nya sudah duduk di balkon dengan secangkir kopi. Hartono pun melakukan hal yang sama, menyeduh kopi lalu duduk disamping Zein.


"Nggak bisa tidur gue..."


"Kenapa malah ngopi? Lo tetap harus istirahat, nggak lucu kan kalau mau akad malah bangun kesiangan..."


"Gue tetep bisa tidur kok meski habis ngopi, gue butuh kopi supaya bisa lebih rileks dan tenang..."


"Haha, gimana rasanya mau jadi pengantin? di bawa santai aja bro, banyak-banyakin berdoa supaya tenang...udah ngapalin ijab-nya kan?"


"Apal si udah, semoga aja gue nggak kebawa grogi!"


"Tenang semua pasti terlewati, kalau udah habis ngopinya mendingan lo tidur, nikah juga butuh stamina prima, acara besok seharian dan malamnya tetap harus 'On', hehe..."


"Sialan lo! Ya udah gue masuk dulu..."


Zein akhirnya masuk ke kamarnya, dari pada terus diceramahi Hartono. Tapi di kamarnya Zein juga tak kunjung bisa memejamkan mata. Begini ternyata rasanya mau menikah. Zein akhirnya baru bisa memejamkan matanya setelah membaca doa berulang-ulang. Hal yang sangat jarang dilakukannya. Tapi ternyata bisa membuat hatinya tenang.


Disana Luna sudah menunggu bersama keluarga, Luna tampak anggun dalam balutan kebaya modern panjang berwarna putih. Didepan Luna, Kakek Zein dan Bapak Penghulu sudah duduk dan bersiap. Zein melangkah mantap menghampiri calon istrinya, lalu duduk disamping Luna yang sedang tertunduk malu-malu. Zein pun tersenyum dan mengangguk, mengisyaratkan bahwa dirinya telah siap melafalkan kalimat akad.


"Zein Wiradinata, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Luna Husein binti Husein Alatas dengan mas kawin satu kilogram logam mulia dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai..."


"Saya terima nikah dan kawinnya Luna Husein binti Husein Alatas, dengan mas kawin tersebut, dibsyar tunai...."


Seperti memiliki daya magis, Zein dengan mengucapkan kalimat akad itu dengan lancar dan tegas.


"Bagaimana saudara-saudara? Sah?"


" Sah...sah..."


"Alhamdulillahirabbil alamin..."


Zein dan Luna sama-sama mengucap syukur, lalu dengan khusyuk mengikuti doa yang dibacakan Pak Penghulu. Begitupun semua keluarga yang hadir, turut mendoakan dengan khusyuk agar kedua mempelai menjadi keluarga yang akina, mawaddah, warahmah, diberikan keberkahan dan langgeng hidup bersama sampai ke surga.


Setelah acara doa selesai, Zein dan Luna saling menatap lalu tersenyum. Terlihat Zein amat lega dan senang setelah akad nikah berjalan dengan lancar. Mereka menandatangi buku nikah masing-masing. Zein lalu mencium kening Luna dan Luna mencium punggung tangan Zein. Lalu mereka berfoto bersama menunjukkan buku nikah.


Kedua mempelai terlihat lepas, senyuman lebar terukir di bibir di bibir keduanya meski masih malu-malu untuk mengumbar kemesraan. Pamela menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk erat mereka dengan air mata haru. Setelah itu mereka sibuk berfoto dengan seluruh anggota keluarga. Dan kemudian bersama-sama menyantap hidangan yang telah disediakan di area samping masjid.