
"Pamela, bersihkan wajahmu dulu, setelah ini Mommy ingin bicara denganmu di taman belakang!"
Kata Luna saat mereka baru saja memasuki rumah.
"Ya Mom, ada apa?"
"Nanti kita bicarakan, sekarang bersihkan dirimu dulu dan pakai baju tidurmu..."
"Baik Mom..."
Pamela masuk kekamarnya, membersihkan diri dan memakai pakaian tidurnya, menuruti instruksi Mommynya. Setelah selesai Pamela bergegas ke taman belakang. Pamela tidak ingin Mommy menunggunya.
Tak berselang lama Luna menghampirinya sambil membawakannya segelas coklat hangat.
"Minum dulu sayang..."
"Trimakasih banyak Mom, ada apa?"
Pamela meminum sedikit coklat hangatnya.
"Dasar anak nakal! Kamu sengaja mengerjai Mommy ya?"
Kata Luna sambil mencubit pipi Pamela.
"Aw, sakit Mom! Apa maksudmu?"
"Kau tahu bukan aku takut nonton film horor!"
"Kan ada Daddy disamping, jadi Mommy tak perlu takut lagi!"
"Pamela!"
Luna memanggil dengan nada tinggi. Pertanda dirinya sedang tak ingin bercanda.
"Ya Mom?"
"Jangan pernah bersikap tidak sopan begitu lagi! Kau pasti tahu maksudku bukan?"
"Ya Mom, maafkan aku, aku hanya berharap...."
"Jangan berharap apapun lagi! Dia memang Ayah kandungmu, tapi tidak ada hubungan lagi denganku!"
"Tapi Mom, Daddy tak punya pacar dan Mommy juga tidak, apa salahnya kalau kalian saling membuka diri?"
"Pamela! Jangan lakukan hal semacam tadi lagi! Kami sudah berakhir lama dan sekarang kami punya kehidupan masing-masing. Aku mau bertemu dengannya hanya demi dirimu. Aku harap kamu bisa mengerti hal itu...."
"Tapi Mom, aku rasa Daddy masih tertarik padamu!"
Jawab Pamela tak mau kalah.
"Ya Mom maaf, tapi bagaimana kalau dia benar-benar masih menyukaimu?"
"Itu bukan urusanmu sayang, dia pria dewasa, seharusnya dia tahu apa yang dia inginkan dan bagaimana harus bersikap, jadi tolong biarkanlah kami dengan kehidupan masing-masing, kau bisa mengerti kan?"
"Ya Mom, sekali lagi maafkan aku.."
Mommy hanya tersenyum sekilas, lalu berlalu masuk ke kamarnya.
Pamela tahu, kejahilan dan rasa penasarannya untuk mendekatkan Mommy fan Daddy Zein mungkin akan membuat Mommy marah. Dan sekarang semua terbukti sudah. Mommy memang sangat sensitif jika disinggung tentang masalah pasangan atau pernikahan. Dan hal ini buka lah yang pertama kali terjadi.
Dulu, jauh sebelum Pamela bertemu dan mengenal Daddy Zein, Nenek pernah minta tolong padanya untuk bicara pada Mommy.
"Pamela, apa kau keberatan kalau Mommy-mu menikah dengan seorang pria?"
Tanya Nenek saat itu.
"Apa Mommy akan menikah Nek? Setahuku Mommy tidak punya kekasih?
Tanya Pamela heran.
"Justru itu, jika kau tak keberatan, mintalah Mommy-mu untuk mencari calon pendamping. Mungkin dia belum menikah karena memikirkanmu. Mommy-mu akan marah, kalau aku terus-terusan menyuruhnya menikah. Mungkin kalau kamu yang bicara reaksinya akan berbeda. Tapi Pamela, aku tanya padamu dulu, apa benar kau tidak beberatan jika nanti ada seorang pria yang jadi suami Mommy-mu?"
Pamela terdiam sejenak. Hal itu sama sekali tak pernah terpikir di benak Pamela yang sedang beranjak remaja. Bahkan harapannya untuk bertemu Ayah kandungnya coba dikuburnya dalam-dalam saat itu. Namun kemudian Pamela merasa, dia tidak berhak menghalangi langkah Mommy, apalagi demi kebaikan Mommy.
"Aku tidak keberatan, asalkan Mommy bahagia dengan hal itu Nek..."
"Baguslah kalau begitu, bicaralah pada Mommy-mu, bilang kalau tidak keberatan seandaianya Mommy-mu menikah, mungkin itubakan meringankan langkahnya..."
"Ya Nek, nanti aku akan bicara..."
Tapi kemudian, saat Pamela menyampaikan hal itu pada Mommy, Mkmmy justru tersinggung.
"Untuk apa kamu ikut-ikutan menyuruh Mommy menikah Pamela?"
"Apa menurutmu Mommy-mu ini tidak laku dan terlihat menyedihkan?"
"Bukan begitu Mom, aku hanya tidak ingin menghalangi langkah Mommy, kalau memang aku alasannya..."
"Dengar sayang, Mommy masih sendiri bukan karenamu. Mommy belum bertemu orang yang tepat dan Mommy tidak ingin menikah dengan orang yang salah. Mommy sudah cukup bahagia hidup bersamamu dan keluarga ini. Jadi tolong jangan pernah menyuruh-nyuruh Mommy menikah! Kau mengerti?"
"Mengerti Mom...dan maaf sudah membuat Mommy kesal!"
"Sekarang tidurlah dan lupakan apa yang kita bahas barusan!"
Sejak saat itu Pamela tidak pernah berani bertanya pada Mommy lagi. Tapi sejak bertemu dengan Daddy Zein dan menerimanya sebagai ayah kandungnya, Pamela mulai menyemai harapan itu lagi. Berharap Mommy akan menikah dan hidup dengan bahagia.