
Luna benar-benar menikmati kehamilannya kali ini. Berbeda dari kehamilannya terdahulu dimana Luna sering merasa stres dan tertekan, kali ini Luna merasa lebih santai dan rileks. Luna masih ingat benar bagaimana dulu dirinya harus berjuang seorang diri, bahkan terus bekerja sambil menyembunyikan kehamilannya. Sekarang Luna merasa sangat bersyukur karena dilimpahi perhatian dan kasih sayang dari suami dan keluarganya. Meskipun banyak keluhan yang dirasa karena usia yang tak lagi muda, tapi Luna bisa melewati semuanya dengan tenang dan sabar berkat dukungan orang-orang disekelilingnya. Luna juga memilih mengurangi aktivitasnya di luar agar bisa lebih fokus menjaga kehamilannya. Luna tidak ingin egois karena tahu Zein dan keluarganya sangat menantikan kehadiran anak ini dalam rumah tangganya.
Tak terasa sembilan bulan berlalu cepat karena dijalani dengan suka cita. Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga. Luna sudah merasakan perutnya mulas sejak malam harinya, tapi masih bisa di tahannya. Luna merasa sangat mengantuk dan masih ingin tidur, meski setelah itu ternyata tidurnya tak nyenyak karena merasa tidak nyaman. Pagi harinya setelah menghabiskan sarapan dengan susah payah, Luna merasa mulasnya datang semakin sering dan semakin hebat. Luna tahu itu tandanya dia akan segera melahirkan. Luna memberi tahu Zein dan Pamela. Tanpa berfikir panjang, mereka bertiga langsung pergi ke rumah sakit. Zein dan Luna sudah mempersiapkan dua tas besar berisi peralatan Ibu dan bayi jika sewaktu-waktu Luna akan melahirkan. Jadi jika waktunya tiba, mereka tinggal membawanya saja seperti sekarang.
Semula Luna masih bisa tenang, mengatur nafas sambil menggenggam tangan Zein, berusaha meredam sakit yang dirasanya. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakitnya semakin dasyat, dan Luna tak bisa menahan diri untuk berteriak sambil mencakar lengan dan perut Zein yang berada disampingnya.
"Bisa cepat sedikit Pak!"
Seru Zein pada pak supir yang mengantar mereka.
"Saya sudah berusaha Pak, Bu, jalanan sedang ramai, mohon di tahan sebentar..."
"Harusnya kita berangkat dari semalam Luna, kalau sudah merasa mulas harusnya kamu langsung bilang!"
Zein bicara begitu karena begitu panik dan khawatir kalau waktunya tak cukup. Tapi Luna tak terima karena seolah Zein menyalahkannya.
Jadi di tengah rasa sakitnya, Luna semakin ingin melampiaskannya pada Zein dengan mencengkram lengan suaminya sekuat tenaga.
Reflek Zein berteriak, tapi kemudian meralat ucapannya.
"Maaf sayang, tidak apa, lalukan sesukamu asal kau baik-baik saja..."
Zein lalu memijat punggung Luna dan melafalkan doa-doa sepanjang perjalanan sambil berusaha menenangkan Luna. Sejenak Luna berhenti berteriak dan mencakar, hanya diam sambil terengah-engah mengatur nafasnya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Setelah diperiksa oleh perawat dan bidan di UGD, Luna langsung dibawa ke ruang tindakan karena ternyata sudah sampai bukaan delapan. Zein dan Pamel selalu mendampingi Luna sejak dari rumah sampai ke rumah sakit, tapi begitu sampai di ruang tindakan hanya Zein yang diizinkan masuk menemani Luna. Zein tetap disamping Luna meski sebenarnya dirinya merasa takut menyaksikan proses persalinan dengan banyak darah.
Luna merasakan sakit yang semakin dasyat di bagian bawah perutnya, lalu semakin meremas tangan Zein untuk pelampiasan. Tapi untunglah itu tak berlangsung lama, karena dokter segera menginatruksikan untuk mengejan.
"Pembukaan lengkap, sekarang sudah boleh mengejan..."
Luna merasakan dorongan yang kuat untuk mengejan, lalu berusaha mengikuti instruksi dokter untuk mengatur nafas. Setelah tiga kali mengejan dengan mengeluarkan seluruh tenaganya, akhirnya seorang bayi kecil yang tampan menangis kencang menyapa dunia untuk pertama kalinya. Puncak rasa sakit yang baru saja dirasa seketika sirna, berganti suka cita melihat sang buah tercinta terlahir sehat tanpa kurang suatu apapun. Lengkap sudah kebahagian mereka. Keluarga kecil yang bahagia, seperti yang sedari dulu diidam-idamkan.