
Pamela memandang cincin yang masih berada ditangan Kak Rayhan. Terlihat indah dan sangat menggiurkan. Tapi bukan berarti Pamela akan terlonjak senang dan menerimanya begitu saja. Perasaannya masih ada, tapi hatinya belum yakin sepenuhnya.
"Kita baru saja bertemu Kak, apa ini tidak terlalu cepat?"
"Kita sudah saling mengenal sejak kecil bukan? Apa itu tidak terlalu lama?, balas Rayhan tak mau kalah.
"Aku masih perlu waktu untuk memikirkannya..."
"Baiklah, aku mengerti, berapa waktu yang kamu butuhkan satu jam atau satu hari? Aku sudah tidak sabar, tolong beritahu aku batasnya..."
"Hmm, satu minggu Kak, aku akan memikirkannya dulu...bagaimana?"
"Baiklah, tidak masalah, satu minggu, semoga jawabannya tidak mengecewakan..."
Kak Rayhan tersenyum lembut, lalu menyimpan kembali cincinnya.
"Mari kita bicarakan hal lain, apa kesibukanmu sekarang Pamela?"
"Aku....sekarang sibuk jualan online saja.."
"Bagus sesuai rencanamu dulu kan?"
"Ya..."
Pamela tertawa.
"Kakak sendiri bagaimana, sudah sukses jadi youtuber?"
"Gagal total! Kayaknya kurang bakat...", jawab Rayhan santai.
"Lalu sekarang Kakak sibuk apa?"
"Aku akhirnya suka bikin animasi saja sama teman-teman..."
"Oh, baguslah kalau Kakak nggak jadi terkenal..."
Lalu mereka terkekeh bersama. Suasana jadi lebih cair kemudian. Mereka masih melanjutkan obrolan ringan sampai tanpa terasa jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Zein turun dan diam-diam mengawasi putri kesayangannya yang nampak tertawa akrab dengan Rayhan.
"Ehm..ehm...Sudah akrab rupanya sekarang..."
Menyadari kehadiran Zein, Rayhan berhenti tertawa dan langsung salah tingkah. Rayhan mengerti maksud tatapan Zein yang terlihat mengintimidasi.
"Sudah malam, saya pamit dulu Om...Pamela..."
Rayhan melangkahkan kakinya keluar. Sepeninggal Rayhan, Zein langsung habis-habisan menggoda Pamela.
"Bagaimana pilihan Daddy? Nggak salah kan?"
Wajah Pamela langsung memerah.
"Malu-malu, tapi mau kan? Apa Daddy bilang, pilihan Daddy pasti sesuai sama seleramu!"
"Kenapa Daddy tidak bilang dari awal kalau itu Kak Rayhan?"
"Ini namanya kejutan sayang..."
"Tapi kan dandananku jadi malu-maluin begini..."
"Makanya kalau dikasih tahu orang tua jangan ngeyel!"
"Uh, Daddy nyebelin!"
"Jadi bagaimana, kamu akan menerima perjodohan ini kan?"
"Ya nggak langsung gini juga Dad, aku masih perlu waktu buat berfikir..."
"Maka pikirkanlah baik-baik, Daddy sudah menyelidiki semuanya sebelum menjodohkannya denganmu. Dia pria yang baik. Dan kini kalian juga sudah sama-sama punya pegangan. Usahamu sudah berjalan cukup lancar. Rayhan juga sedang merintis perusahaan animasi yang meski masih kecil tapi punya potensi yang baik, jadi apalagi yang kalian tunggu?"
"Perusahaan animasi?"
"Ya, aku rasa selama ini dia benar-benar berjuang untukmu..."
Pamela merasa terharu, benarkah seperti itu.
"Pamela, jangan terlalu banyak mengulur waktu. Bukankah kalian sudah saling mengenal sejak lama. Kalau bisa, lakukan shalat istikarah dan serahkan keputusannya pada Allah. Insyaallah ini yang terbaik. Daddy dan Mommy selalu mendoakanmu. Kalau kamu sudah yakin, segera beritahu kami..."
"Ya Daddy, terimakasih banyak..."
Daddy beranjak meninggalkan Pamela yang masih duduk di meja makan. Pamela memilih menyeduh kopi lalu membawanya ke taman belakang. Seperti kebiasaan Mommy dulu, sekarang Pamela pun suka melakukannya.
Disana Pamela mulai memikirkannya semuanya. Rasanya semua terlalu cepat dan terasa seperti mimpi. Kemarin dia hanyalah gadis jomblo dan hari ini tiba-tiba seseorang yang telah menjadi masa lalu tiba-tiba datang dan melamarnya.
Apa ini kenyataan?
Tapi seperti yang Daddy bilang, dia pun tak ingin terlalu lama mengulur waktu. Bismillah. Semoga ini yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya. Selanjutnya Pamela mulai mencari putunjuk lewat sujud panjangnya.