Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 121



Acara lamaran berlangsung dengan khidmat dan lancar dengan dihadiri keluarga besar dari kedua calon mempelai. Pamela terlihat cantik dan anggun dengan kebaya warna pastel. Pun Kak Rayhan terlihat amat tampan dan menawan dengan baju batik warna senada.


Nenek Zubaedah bahkan menangis haru melihat cucu kesayangannya yang dulu dia besarkan, sekarang sudah akan menikah. Nenek Zubaedah bisa tersenyum lega, bahwa Pamela masih tetap terjaga hingga saatnya tiba. Sebab Nenek Zubaedah tahu benar beratnya menjaga anak gadis dimasa sekarang.


Selain keluarga, dua sahabat Pamela juga hadir disana. Vanessa dan Siska, dua sahabat yang melihat jatuh bangun kisah cintanya, juga yang tahu benar tentang sisi gelap hidupnya, tapi tetap berada disampingnya melalui suka dan duka.


"Selamat ya bestie, akhirnya lo duluan yang pecah telor, hidup lo udah perfect banget sekarang! Kita doain bahagia selalu buat lo!"


Vanessa dan Siska memeluknya bergantian. Pamela sangat terharu, dalam hati Pamela mengucap doa yang sama untuk kedua sahabatnya. Semoga kalian secepatnya mendapatkan kebahagian yang akan melengkapi hidup kalian...


Mommy dan Daddy, tentu adalah dua orang yang paling berbahagia di hari itu. Meski disisi lain mereka juga merasa kehilangan anak kesayangannya. Tapi yang terpenting bagi keduanya tentu adalah kebahagian putrinya.


Pamela menjalani prosesi itu dengan rasa haru dan syukur yang membuncah. Pamela mengingat, betapa jalan yang tidak terduga telah mengantarkannya kembali pada sang pujaan hati. Dan betapa banyak kasih sayang yang mengantarkannya pada hari bahagianya ini.


Setelah hari lamaran, Pamela lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama Mommy dan Daddy, juga adik kecilnya Lionel. Sesekali Pamela juga menyempatkan waktu untuk bertemu sahabatnya. Sementara dengan Kak Rayhan, Pamela malah jarang bertemu. Bukan karena dipingit, tapi Pamela berfikir nanti setelah menikah mereka akan terus bersama, jadi sebelum menikah, selagi ada waktu, Pamela ingin menghabiskannya bersama keluarga dan sahabatnya.


Malam itu entah mengapa, Pamela ingin sekali tidur bersama Mommy, Daddy, dan adiknya. Akhirnya mereka tidur berempat. Meski berdesak-desakkan terasa sangat nyaman begini. Mereka saling memeluk dengan Lionel yang sudah tertidur ditengah. Suasana hening, sesaat mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Zein adalah orang yang paling bersyukur dengan kehadiran keluarganya saat ini. Bertahun-tahun dia hidup seorang diri dengan dihantui rasa bersalah. Beruntung akhirnya Tuhan berbaik hati memberinya keluarga kecil yang hangat. Dalam hati Zein berjanji akan menjaganya sepenuh hati. Sebenarnya juga Zein adalah orang yang paling berat untuk melepas Pamela pergi. Bertahun-tahun Zein menunggu untuk bisa bertemu putri kesayangannya, tapi kini seakan baru sejenak hidup bersama, dia sudah harus kembali melepaskan putrinya kepada laki-laki lain. Tapi demi kebaikan dan kebahagian putrinya, dia rela.


"Kamu sudah siap menikah sayang?"


Tanya Luna memecah keheningan.


"Belum Mommy, rasanya aku ingin seperti ini lebih lama lagi..."


"Haha, Mommy mengerti, kamu tidak akan merasa siap tapi kamu akan menjalaninya. Kamu bahagia bukan akan menikah dengan Rayhan?"


"Ya Mommy, Kak Rayhan laki-laki yang baik dan selalu memperlakukanku dengan baik, insyaallah Kak Rayhan akan jadi suami yang baik sama seperti Daddy....tapi kenapa rasanya semua terlalu cepat Mom? Aku masih ingin lebih lama bersama Mommy dan Daddy begini..."


"Tentu saja, kita akan menghabiskan waktu yang tersisa bersama-sama, ayo katakan, apa yang ingin kamu lakukan? Daddy akan mewujudkannya!"


"Haha, tidak perlu apa-apa Daddy, begini saja aku sudah senang. Oh ya, mungkin malam ini sampai aku menikah aku ingin tidur disini, bagaimana?"


"Tentu saja boleh sayang..."


Mereka saling berpelukan bertiga, merasakan kehangatan keluarga yang pernah begitu lama mereka impikan dulu.


"Pamela, dengarkan Mommy...kamu anak yang baik...meskipun dulu keluarga kita tidak sempurna dan Mommy sadar banyak kesalahan yang Mommy lakukan padamu, tapi Mommy kagum bagaimana kamu tetap tumbuh jadi anak yang baik hati...karena itu Mommy yakin ini adalah takdir yang baik untukmu dan kamu akan tetap dikelilingi kebaikan saat kamu menikah nanti...rumah tangga tidak akan selamanya berjalan mulus, meskipun Momny dan Daddy terlihat harmonis di depanmu, tapi sebenarnya kami juga sering bertengkar dan ada beberapa masalah, itu juga yang akan kamu jalani nantinya. Sebaik apapun kamu dan suamimu, seberapa besarpun cinta diantara kalian, akan tetap ada masalah di dalam rumah tangga. Maka sabar dan ikhlaslah dalam menjalaninya. Lakukan kewajibanmu sebelum menuntut hakmu, insyaallah pernikahanmu akan dilimpahi keberkahan..."


"Ya Mommy, manusia memang tempatnya salah, tapi Mommy tetap yang terbaik untukku, terimakasih sudah berjuang untuk membesarkanku selama ini. Aku tahu perjuangan Mommy tidak mudah..."


Mommy dan Pamela berpelukan erat malam itu, sebelum akhirnya mereka terlelap bersama dengan penuh rasa syukur.