Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 31



Dan hari itu gantian Vanessa yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Pamela di sekolah. Vanessa sangat penasaran dengan kabar yang akan dibawa sahabatnya itu, sebab semalam Pamela bilang sudah bertemu Daddy-nya untuk membahas masalahnya.


"Bebeb, jadi gimana nih hasilnya semalam?"


"Ye, ada maunya aja panggil gue bebeb bebeb segala!"


"Hehe, nggak mempan ya gue gombalin? Ya udah to the poin aja deh! Gimana hasilnya?"


"Hasil apaan? Info penting nih! Muahall?"


"Berapa, berapa? Jadi lo ikut-ikutan mau nodong gue nih ceritanya?"


"Hehe, bercanda! Gitu aja sensi banget lo! Sabar, gue bakal kasih tau lo, asal lo janji nggak bakal emosi kalo tau siapa pelakunya?"


"Berat amat si syaratnya, padahal gue dah pengen makan tuh orang kalau sampai ketahuan!"


"Hush, masalah begini lo harus ati-ati! Gimanapun juga ini menyangkut aib lo sendiri! Mau kalau sampai nyokap lo tahu anaknya maen sama Om-om?"


"Ssst, jangan keras-keras ngomongnya!"


"Sorry keceplosan!"


Untunglah di sekitar mereka sedang sepi, jadi bisa dipastikan tak ada yang mendengar


"Iya deh kali ini gue nurut sama lo, jadi gimana cerita lengkapnya?"


"Ok, gue mulai dari nama dulu, tapi lo jangan kaget ya! Namanya Siska, Fransiska Priscilia, teman sekolah kita..."


"Hah? Siapa?"


"Tuh kan, belum-belum lo udah heboh?"


"Bukan begitu Mel, tapi dia kan kelihatannya polos gitu..."


"Iya, gue juga tahu, gue juga sama kagetnya sama lo waktu pertama denger nama dia dari Daddy!"


"Gue bener-bener nggak nyangka aja dia orangnya!"


"Nes, gue udah punya rencana sama Daddy gue, jadi gue harap lo jangan emosional dulu, Daddy gue yang mau bantuin, jadi kita bakal jalanin aja sesuai rencana, dan gue jamin dia nggak bakal berani macam-macam sama lo! Soalnya kalau dia sampai berani macam-macam, Daddy gue bakalan langsung turun tangan bantuin kita!"


"Ok deh, Mel, gue dengerin dulu rencana lo!"


Dan Pamela pun menceritakan detail apa yang sudah direncanakannya dengan Daddy kepada Vanessa. Yah, karena shock dan masih bingung akhirnya Pamela meminta pendapat Daddy Zein, dan Daddy benar-benar memberikan solusi yang briliant.


"Jadi gimana menurut lo?"


Tanya Pamela akhirnya.


"Ok deh, gue ikut aja...lagian yang nanggung Daddy lo ini juga! Btw, lo beruntung banget ya ketemu Daddy sebaik itu?"


Dan Pamela hanya bisa tersenyum jumawa membanggakan Daddy-nya.


Dan sore itu juga, sepulang sekolah, mereka melaksakan rencana yang telah disusun dengan matang. Pamela dan Vanessa datang ke rumah sakit dimana Ayah Siska sedang dirawat.


"Selamat sore Bu, perkenalkan kami teman Siska di sekolah..."


Pamela dan Vanessa hanya menanggapinya dengan senyuman. Siska memang tak punya banyak teman di sekolah. Bahkan hampir setiap hari Siska terlihat menyendiri di sekolah.


Beberapa saat Pamela dan Vanessa menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Ibunya Siska. Ternyata Ayah Siska sudah cukup lama sakit dan menghabiskan banyak biaya. Vanessa sendiri jadi jatuh iba. Ternyata ada orang yang kesulitannya jauh lebih mendesak dibanding dirinya. Vanessa jadi merasa malu, sebab selama ini dia sering merasa jadi orang paling menderita di dunia.


Selang beberapa saat, Siska datang dengan masih mengenakan seragam sekolah, dan terkejut melihat keberadaan dua teman sekolahnya di rumah sakit.


"Kalian??? Ngapain disini?"


Tanya Siska dengan wajah kaget dan bingungnya.


"Kita cuma mau jengukin bokap lo! Btw, bisa kita ngobrol di luar sebentar?"


Meski bingung, Siska mengangguk, menyetujui permintaan dua tamu tak diundang itu.


"Bu, kita sekalian pamit ya..."


Kata Vanessa sambil menyelipkan sebuah amplop tebal ke tangan Ibunya Siska.


"Ini apa Neng? Banyak sekali?"


"Nggak papa Bu itu untuk pengobatan Bapak, kita cuma dititipin sama donatur kok, semoga bisa meringankan beban Ibu sekeluarga..."


"Tapi neng.. ini kebanyakan..."


"Nggak papa Bu, mohon diterima...kami pamit dulu ya..."


Vanessa dan Pamela pun berjalan keluar dari ruang perawatan dengan diikuti Siska dibelakangnya.


Sampai di sebuah koridor yang lumayan sepi, mereka bertiga akhirnya berhenti.


"Langsung aja ya Sis, gue sama Pamela turut prihatin sama kondisi bokap lo, semoga cepat membaik ya...Oh ya, uang yang lo minta udah gue kasih ke nyokap lo, semoga bisa meringankan biaya pengobatan bokap lo! Sekarang gue ninta lo hapus video itu di depan kita!"


Siska mengambil ponselnya dan menghapus video yang dimaksud sambil memperlihatkannya pada Vanessa dan Pamela.


"Dari mana kalian bisa tahu?"


"Nggak penting dari mana kita tahu, yang jelas, kita tahu kartu lo! Nasib kita sama, gue harap lo nggak bertindak bodoh dengan menyebarkan video itu atau lo akan tahu sendiri akibatnya..."


Setelah mengatakan itu Vanessa langsung melangkah pergi dengan diikuti Pamela di belakangnya.


"Vanessa, Pamela tunggu!!!"


Teriak Siska sambil berusaha mengejar keduanya. Mereka berdua pun menoleh.


"Ada apa?"


"Makasih banyak ya..."


"Sama-sama, kita pulang dulu...Lo disini aja jagain bokap lo!"


Dan merekapun melanjutkan langkahnya untuk pulang.