Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 116



"Trade record nya bersih, tampaknya dia pemuda yang baik, pekerja keras, dan setelah putus dari putri anda sepertinya dia belum punya kekasih sampai sekarang..."


Zein mengangguk-angguk sambil membaca lembar laporan yang disodorkan Hartono.


"Baiklah, kamu boleh keluar dan lanjutkan pekerjaanmu..."


"Baik Pak..."


Zein lalu menyimpan nomor ponsel lelaki muda itu ke ponselnya, lalu menelponnya.


"Bisa kita bertemu sekarang?"


Kata Zein begitu teleponnya tersambung. Sedangkan laki-laki di ujung telepon masih bingung.


"Maaf, anda siapa ya?"


"Saya Zein, Ayah Pamela, bagaimana apa kamu bisa?"


"Oh, apa ada masalah dengan kerja sama Pak?"


"Tidak ada, apa kita bisa bertemu sekarang?"


"Baiklah, saya akan pergi ke kantor Bapak..."


"Ya saya tunggu sekarang!"


Setengaah jam berselang, Rayhan benar-benar datang menemuinya. Cepat juga reaksi anak ini. Pikir Zein dalam hati. Dan tanpa di duga, Rayhan tersenyum ramah lalu menyalami dan mencium tangannya dengan penuh hormat. Tapi Zein buru-buru, menarik tangannya dan pura-pura jijik.


"Hey anak muda, kenapa kamu betah sekali menjomblo lama sampai sekerang?"


Pertanyaan yang meluncur dari mulut Zein, benar-benar diluar dugaan Rayhan.


"Maaf, apa tadi yang Bapak tanyakan?"


Rayhan benar-benar tak mempercayai pendengarannya.


"Hmm, apa saya salah. Jadi sekarang kamu sudah punya pacar?" Zein mengganti pertanyaannya.


"Tidak, saya memang tidak punya pacar. Tapi apa hubungannya dengan kerja sama kita?"


"Tidak ada!"


"Lalu?"


"Saya ingin kita melakukan kerjasama di bidang lain?"


"Bidang lain, bagaimana maksudnya Pak?"


"Saya ingin menjodohkan kamu dengan putri saya, Pamela, bagaimana?"


Rayhan terkejut dan wajahnya mendadak pucat.


"Kenapa, kamu tidak mau?"


"Hmm, bukan begitu, tapi...apa Pamela akan menerima perjodohan mendadak ini?"


"Itu urusan saya, bagaimana denganmu? Apa ada wanita lain yang kamu suka?"


"Tidak ada!"


"Bagus, jadi kamu akan menerima perjodohan ini kan?"


"Ya, saya mungkin akan memikirkannya dulu..."


"Baik, saya mau!"


"Nah begitu baru namanya laki-laki! Apa kau masih mencintai putriku?"


Rayhan tersenyum sambil menunduk malu-malu.


"Baiklah, besok malam datanglah untuk makan malam di rumahku! Ini alamatnya!"


"Baik Pak terimakasih banyak!"


"Sudah sana! Sekarang kamu boleh pergi!"


Rayhan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Entahpah perasaan seperti apa yang dirasakannya sekarang ini. Perasaan kaget dan bingung, tapi juga senang. Seperti mendapat durian runtuh! Benarkah dia akan menikahi Pamela? Seperti yang selama ini diimpikannya? Entahlah, dia tak ingin terlalu banyak berkhayal. Semua terasa benar-benar seperti mimpi. Disaat dia mulai putus asa menelusuri keberadaan Pamela, kejutan justru datang tiba-tiba. Dan sekarang Rayhan mulai bingung, apa yang harus dipersiapkannya untuk makan malam besok? Baju apa yang harus dipakainya? Apakah dia harus membawa oleh-oleh atau semacamnya? Ah, Rayhan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Sementara di tempat lain, sepulang kerja Zein langsung mencari keberadaan Pamela, yang ternyata sedang sibuk di dapur bersama Luna.


Sejak kapan anak dan istrinya jadi hobi ke dapur?


Entahlah, Zein tidak ingin memikirkannya. Zein menunggu sampai mereka selesai dan Pamela masuk ke kamarnya. Zein harus membicarakan hal ini berdua dulu dengan Pamela, baru kemudian membicarakannya dengan Luna.


Saat dikira waktunya sudah tepat, Zein mengetuk pintu kamar Pamela.


"Boleh masuk? Daddy ingin bicara sebentar..."


"Tentu saja, tapi tumben sekali Daddy kekamarku, apa ada hal yang penting?"


Zein segera masuk dan menutup pintu kamar Pamela.


"Pamela, seperti yang kamu minta Daddy akan menjodohkanmu!" Kata Zein tanpa basa-basi yang langsung membuat Pamela terkejut.


"What? Daddy! Apa-apan ini? Aku kan cuma bercanda!"


"Terlambat, Daddy terlanjur menganggapnya serius! Besok laki-laki itu akan datang untuk makan malam bersama kita, jadi bersiap-siaplah sayang!"


"Daddy!"


"Tenang saja, Daddy jamin kamu akan menyukainya, Daddy paling mengerti seleramu!"


"Bagaimana kalau aku tidak mau?"


"Nanti kau akan menyesal! Dan aku akan menarik semua modal yang kau pinjam anak manis!"


"Dasar Daddy licik!"


Zein hanya tersenyum melihat raut Pamela yang kesal tapi semakin menggemaskan.


"Tenang sayang, temuilah dulu, kalau kamu tidak suka, aku janji akan membatalkannya!"


"Janji Dad? Aku yakin aku tidak akan menyukainya, jadi Daddy benar-benar harus membatalkannya!"


"Ya, dengan satu syarat!"


"Apa syaratnya?"


"Besok kau harus menemuinya dengan baik, setelah itu aku akan menurutimu!"


"Baiklah Dad, apa boleh buat!"


Zein tersenyum lega, sekarang saatnya memberi tahu Luna tentang rencananya.