
Dear Readers, otor punya novel baru nih, semoga berkenan mampir ya, makasih...
Bab 1
Nabila Fitri Ramadhani. Dia biasa dipanggil Fitri. Arti namanya adalah suci. Tapi perbuatannya jauh dari arti namanya. Sebab dirinya tak lagi suci. Pekerjaannya adalah wanita malam. Orang-orang menyebutnya kupu-kupu malam.
Sore itu Fitri sedang bersiap-siap. Mandi dibawah guyuran shower yang amat segar. Membasuh setiap jengkal dan lipatan tubuhnya sebersih mungkin. Lalu menggosokkan sabun dengan busa melimpah yang harumnya menguar ke seluruh ruangan. Lalu mencuci wajahnya dengan sabun khusus muka, kemudian sikat gigi. Dan tidak lupa berkumur dengan cairan khusus agar nafasnya selalu segar. Ritual itu selalu dilakukannya tak kurang dari tiga puluh menit. Demi menjaga kebersihan tubuh yang akan dia jajakan. Agar pembelinya puas dan tak kecewa. Meski Fitri tahu, hal itu takkan pernah bisa membersihkan dirinya yang telah membusuk di dalam.
Fitri keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di tubuhnya. Lalu berjalan di depan cermin besar yang menempel di lemari bajunya. Wajah ayu-nya, kulit mulus kuning langsat, juga badan sintalnya. Tubuhnya sempurna sebagai seorang wanita. Kalau saja dia bukan seorang pe la cur murahan. Dan Fitri sadar, seberapun cantik fisiknya di hanyalah seonggok sampah. Sampah masyarakat yang meresahkan.
Tapi dia tentu sudah tak peduli apa kata orang. Tidak ada keluarga. Tidak ada nama baik yang harus dia jaga. Dia hidup sebatang kara. Lalu kemudian terdengar suara adzan dari masjid di depan gang.
Fitri yang telah berwudhu kemudian mengenakan baju dan mengambil mukenanya. Yah, meski pekerjaannya haram tapi Fitri masih ingat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Kebiasaan yang ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil untuk menunaikan kewajiban kepada Sang Pencipta. Wujud dari rasa syukur kita karena telah diberi hidup dan rezeki. Fitri tak peduli meski orang-orang yang melihatnya hanya akan mengatainya munafik. Sholatnya adalah urusannya dengan sang pencipta. Tidak ada hubungannya dengan penilaian manusia. Karena hanya itulah yang tersisa dari hidupnya. Untuk apa dia susah-susah hidup dunia? Tanpa keluarga dan tak lagi mengharap cinta manusia. Karena manusia tak akan ada yang memandangnya.
Saat matahari mulai tenggelam dan hari beranjak gelap, barulah dirinya melangkahkan kaki untuk keluar. Jam kerjanya memang terbalik. Disaat orang-orang normal dengan pekerjaan terhormat sudah pulang untuk beristirahat, dirinya baru melangkahkan kaki keluar rumah. Tidak banyak yang diharapkannya, sekedar pelanggan yang sudi memperlakukannya dengan lebih manusiawi, lalu membayarnya dengan pantas. Hanya sebatas itu saja, sebab dirinya hanya wanita hina. Tubuhnya hanyalah barang dagangan, yang bebas di tawar, lalu dipakai, lalu ditinggalkan, dan begitu seterusnya.
Dan dari hasil jerih payahnya itu dia akan mendapatkan beberapa lembar uang. Mungkin akan dipakainya untuk makan, lalu membayar sewa kamar kos, lalu untuk sedikit perawatan menjaga asetnya, lalu membeli beberapa lembar baju, dan entah apa lagi. Fitri berharap ada sedikit yang tersisa. Yang bisa dikumpulkannya sedikit demi sedikit, lalu bisa menjadi modal untuk keluar dari dunia malam. Mungkin untuk melamar pekerjaan halal atau untuk sekedar berjualan. Tapi, ah sudahlah. Namanya saja uang haram. Kadang terlihat banyak tapi kemudian lenyap begitu saja, menguap entah kemana. Fitri mulai pasrah. Jika memang nasibnya harus demikian.
Tuhan, Engkau yang mengharamkan. Tapi kenapa Engkau izinkan orang-orang jahat itu menjerumuskanku ke jalan haram ini?
Sering pertanyaan itu muncul di benak Fitri. Lalu kemudian ditepisnya sendiri. Tidak, dia tidak boleh berfikir demikian. Orang tuanya dulu mengajarkan agar tidak berprasangka buruk pada sang pencipta. Maka dia kini hanya menjalani hidupnya, sambil terus berusaha dan berdoa. Sebab, apalagi yang bisa dilakukannya?