Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 96



Seperti biasa, pagi ini Luna bangun kesiangan karena semalam harus pulang sangat larut. Pamela dan Chika, adiknya sudah tidak ada dirumah. Yang ada tinggal Ayah dan Ibunya, yang sedang duduk-duduk di ruang tengah. Ayahnya membaca koran sedangkan Ibunya menonton televisi, katanya jam sepuluh nanti mereka berdua akan menghadiri pengajian di masjid komplek. Itu artinya Luna hanya punya satu jam untuk membicarakan masalahnya.


Luna segera menghampiri orang tuanya dan duduk diantara mereka berdua.


"Ada apa? tumben deket-deket Ibu?"


Ibunya memang paling sensitif terhadap perubahan sikapnya.


"Ah, Ibu bisa aja!"


"Pasti ada maunya ya?"


"Bu, nanyanya yang bagus, nggak baik suudzon sama anak sendiri..."


Luma menjulurkan lidah dengan nakal, senang dapat penbelaan dari Ayahnya.


"Luna, apa ada yang mau kamu bicarakan?"


Tanya Kakek Husein dengan nada serius.


" Sepertinya Zein ingin melamarku secara formal dalam waktu dekat, menurut Ayah dan Ibu, kapan waktu yang tepat?"


"Ah, sudah kuduga, pasti kamu sidah kebelet kawin kan?"


"Ehmm"


Nenek Zubaedah langsung diam mendengar suamuminya berdehem.


"Lebih cepat lebih baik, niat baik harus disegerakan. Kami selalu ada waktu, tinggal sesuaikan dengan waktumu dan Zein, Ayah doakan semoga kalian berjodoh dunia akhirat..."


"Terimakasih Yah, nanti aku bicarakan dengan Zein, lalu kita rencanakan lagi detail untuk acara..."


Luna lalu memeluk Ayah dan Ibunya bergantian sambil berurai air mata. Entah mengapa Luna jadi mudah sekali menangis.


"Sudah-sudah, kamu bukan anak kecil lagi, jangan nangis terus...Ayo yah berangkat, nanti telat..."


"Iya...iya...cerewet..."


Kakek Husein mengusap-usap kepala Luna, lalu berjalan mengikuti istrinya.


Luna baru ingat kalau kemarin dia belum membalas pesan dari Zein. Luna lalu mengambil ponselny dan mengerik pesan untuk calon suamunya itu.


"Maaf baru membalas, aku baru saja bicara pada Ayah dan Ibu, bisa nanti malam kita bertemu?"


Kali ini Luna yang dibuat sebal karena menunggu. Zein masih ada meeting, hingga baru membuka ponselnya saat jam makan siang, lalu segera membalas pesan dari Luna.


"Baiklah, kita bertemu nanti malam ditempat dan waktu biasa kan?"


Jawaban yang singkat dan padat. Tidak ada kata romantis. Kenapa Luna jadi sebal? Ternyata begini rasanya diabaikan.


"Ya"


Jawab Luna tak kalah singkat.


Akhirnya mereka bertemu di tempat biasa. Tempat yang akan menjadi saksi perjalanan cinta mereka. Mungkin kalau nanti sudah menikah, mereka harus mengadakan anniversary disini juga.


"Selamat malam, kau terlihat cantik malam ini..."


"Sudah berani menggombal rupanya.."


"Haha, aku bingung harus bicara apa, tapi yang kukatakan tidak bohong..."


"Tentang waktu lamaran..."


"Tunggu-tunggu. .jangan terburu-buru...sebaiknya makan dulu cake mu..."


Zein tadi datang lebih dulu dan sudah memesan beberapa desert. Luna menurut dan mulai menyuap cake itu ke mulutnya, sebab tadi dia belum makan apapun saat berangkat kesini.


Namun pada suapan ketiga, saat menyendok cake nya sendok Luna menghantam sesuatu benda yang keras. Luna memeriksa lebih dekat dan mendapati benda kecil berkilauan di dalam cake nya.


"Apa ini?"


"Apa?"


Zein pura-pura tidak tahu. Tapi kemudian Luna malah tertawa keras.


"Kamu bisa romantis juga ya? Tapi sebenarnya ini cara kuno..."


Luna membersihkan cincin yang diambilnya dari dalam cake.


"Kau yang mau pakaikan atau aku pakai sendiri?"


Zein lalu mengambil cincin dari tangan Luna, memegang tangan Luna dengan lembut, lalu menyematkan cincin cantik itu dijari manis Luna.


"Luna, maukah kau menjadi istriku?"


"Kan kemarin aku sudah menjawabnya..."


"Tapi belum pakai cincin!"


"Coba katakan sekali lagi!"


"Luna, maukah kau menjadi istriku?"


Luna mengangguk sambil tersenyum manis sekali.


"Terimakasih banyak..."


Luna terlihat malu-malu dan tersipu. Membuat Zein gemas dan ingin menciumnya, tapi Zein memutuskan untuk menahan diri. Kali ini dia tak ingin menodai kisah cinta mereka.


"Nah, begini baru cara melamar yang benar"


Lalu kemudian mereka berdua tertawa.