Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 58



Nenek Zubaedah sudah lama berdamai dengan kekecewaan itu. Usianya sudah semakin tua sekarang, tidak terlalu banyak yang dia inginkan. Cita-citanya untuk berangkat umroh dan pergi haji sudah dipenuhi oleh Luna, anaknya. Ternyata kalau punya banyak uang, banyak hal terasa jadi mudah. Namun kemudian terkadang dia merasa hidupnya hampa. Kemewahan dan segala fasilitas nomor satu yang diberikan Luna untuk kehidupan keluarganya, terasa hambar dan berkurang kenikmatannya. Hanya satu hal yang membuatnya merasa hidupnya masih berguna. Yaitu mendidik dan membesarkan Pamela, cucu kesayangannya.


Bagi nenek Zubaedah, Pamela bukan sekedar cucu kesayangan, namun dia kerap memandangnya sebagai selayaknya anak. Sebab sedari bayi, dialah yang turun tangan untuk merawat dan membesarkannya. Hingga Pamela mulai beranjak dewasa, dia pula yang selalu mendidik Pamela agar memiliki budi pekerti dan sopan santun yang baik. Nenek Zubaedah pula yang selama ini bertindak sebagai keamanan, mengawasi dan melarang hal-hal yang sekiranya akan berbahaya bagi kehidupan dan masa depan Pamela. Begitulah cara Nenek Zubaedah untuk menyayangi dan melindungi Pamela. Meski semua uang yang digunakan adalah dari Luna, Ibunya Pamela, tapi dia merasa dirinyalah yang berperan lebih besar dan selalu ada untuk cucu kesayangannya itu.


Tidak ia pungkiri sikapnya pada Pamela memang posesif dan terkadang itu berlebihan. Tapi tak ada asap kalau tak ada api. Semua itu ada penyebabnya. Nenek Zubaedah tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kali. Dulu dia pernah lengah dalam mengawasi pergaulan Luna. Hingga berujung, Luna terjerumus dalam perbuatan zina dan akhirnya lahirlah Pamela ke dunia tanpa kehadiran seorang Ayah. Meskipun dulu ketika menghadapi masalah itu Nenek Zubaedah terkesan yang paling tenang dan tanpa emosi dibandingkan suaminya yang marah besar. Namun sebenarnya dalam hatinya Nenek Zubaedah menyimpan kekecewaan yang mendalam. Bukan karena dia marah pada Luna, melainkan Nenek Zubaedah justru merasa dirinyalah yang turut andil dalam menjerumuskan putrinya. Sebagai seorang Ibu, dia merasa gagal dan salah mengambil langkah. Yah, Nenek Zubaedah tahu siapa pacar Luna ketika itu. Nenek Zubaedah sesekali mengobrol dan menyelidiki asal-usul kekasih putrinya itu. Berasal dari keluarga terpandang dengan sikap sopan dan manis penuh perhatian, membuat nenek Zubaedah turut terpesona dan jatuh hati pada Zein Wiradinata. Hingga kemudian Nenek Zuabaedah begitu percaya dan berpesan agar Zein menjaga dan melindungi Luna saat mereka bepergian bersama. Nenek Zubaedah menjadi lupa, bahwa bagaimanapun mereka manusia biasa. Dan tak seharusnya kita manusia meremehkan aturan yang diberikan Tuhan untuk kebaikan diri kita sendiri. Yah, mungkin karena kedekatan yang terlalu intens, hingga akhirnya mereka terjerumus ke lubang dosa. Nenek Zubaedah sadar, bahwa putrinya juga turut andil dalam kesalahan ini. Tapi betapa hancur hatinya saat itu, ketika melihat Luna, putri kesayangannya begitu terpuruk saat ditinggalkan kekasihnya dalam keadaan mengandung. Habis manis sepah dibuang. Begitulah nasib perempuan kalau dengan gampang menyerahkan kehormatannya. Perempuan harus hidup menanggung aib dan berjuang seorang diri, sementara laki-laki yang tak bertanggung jawab masih bisa bebas menikmati hidupnya seolah tak terjadi apapun. Yang bisa dilakukannya untuk Luna ketika itu hanyalah memberikan bantuan semampunya, terutama untuk merawat Pamela.


Nenek Zubaedah sudah mengikhlaskan semua tragedi yang terjadi pada keluargamya di masa lalu. Sekarang fokusnya adalah menata hidup yang baik untuk masa depan anak cucunya nanti. Tapi kemudian, saat sosok dari masa lalu itu datang di depan matanya, kebencian dan rasa sakit hatinya tiba-tiba kembali menyeruak. Apa yang harus dilakukannya pada Zein saat ini? Dan berani-beraninya sekarang lelaki itu muncul di depan matanya setelah dulu dia meninggalkan Luna di masa terpuruknya.