
Zein tertegun saat memeriksa ponselnya dan mendapati pesan dari Luna.
"Bisa kita bertemu nanti malam?"
Zein masih berada di kantor sore itu, dan sudah tiga hari Zein selalu harus lembur sampai malam untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dialami perusahaan. Tapi Zein tidak mungkin menolak permintaan Luna, sebab kesempatan mungkin tidak datang dua kali.
"Ya tentu saja, dimana?"
"Ditempat seperti sebelumnya kita bertemu, pukul delapan malam!"
"Baiklah, nanti aku akan datang..."
Zein berusaha secepat mungkin membereskan pekerjaannya, mendahulukan yang penting dan menunda yang masih bisa ditunda. Pukul enam nanti dia sudah harus pulang. Butuh waktu beberapa saat untuk bersiap dengan penampilan terbaik dan dia harus datang tepat waktu.
Zein bergegas melajukan mobilnya di tengah kemacetan ibu kota. Beberapa kali Zein memeriksa jam di pergelangan tangannya. Dia harus tiba tepat waktu untuk memberikan kesan terbaik untuk calon istrinya. Zein bisa menghembuskan nafas lega saat tiba di parkiran restoran. Namun langkahnya kembali tergesa memasuki restoran. Zein menemukan Luna sudah duduk di salah satu sudut, lalu menghampirinya.
"Maaf, aku terlambat..."
Pukul delapan lebih lima menit sekarang. Namun Luna malah tersenyum melihat wajah panik Zein. Zein terlihat berkeringat dengan nafas memburu. Meski begitu wajahnya justru terlihat semakin tampan dan maskulin di mata Luna.
"Terimakasih sudah datang, dan maaf aku memberitahu mendadak, kau pasti sangat sibuk..."
"Iya, aku memang sangat sibuk, tapi kamu tetap yang utama..."
Luna tertawa kecil mendengar gombalan Zein. Berani sekali dia?
"Maaf, apa yang ingin kau bicarakan denganku? Apa kau sudah punya jawaban?"
"Jangan terburu-buru, ayo kita makan dulu..."
Kali ini Luna sedang suka menggoda Zein. Zein menurut, dengan memesan makanan. Sedangkan Luna sudah mulai menikmati steak yang tersaji di depannya.
Zein baru saja akan menyantap sup iga pesanannya yang baru datang ketika Luna mulai bicara.
"Baiklah, ayo kita menikah!"
Kata-kata Luna langsung tepat sasaran dan membuat Zein terkejut hingga terbatuk-batuk.
"Kau mengagetkanku!"
Gerutu Zein tanpa bisa menyembunyikan senyum senangnya.
"Waktu itu juga kau yang mengagetkanku!"
Balas Luna tak mau kalah.
"Jadi kau benar-benar menerimaku dan mau menikah denganku?"
"Maaf, aku belum membawa cincin. Aku akan segera mencarinya saat pulang nanti..."
"Apa-apaan ini? Berani melamar tapi tidak membawa cincin?"
"Maaf-maaf, aku pasti akan mengulang melamarmu nanti, tapi apakah ini kenyataan?"
Tanya Zein tak percaya. Luna malas menjawab lagi dan memilih melanjutkan makannya.
"Terimakasih banyak. Semoga ini akan jadi awal yang baik untuk kehidupan kita bersama, aku mencintaimu Luna..."
Luna pura-pura tidak menghiraukan ucapan Zein, berusaha tetap anggun sambil menyantap makanannya, padahal hatinya berdebar tak karuan.
Zein pun terlihat salah tingkah. Mereka berdua sama-sama pura-pura sibuk dengan makanannya untuk beberapa saat.
Zein begitu senang sqmoai bingung harus bagaimana dan bicara apa. Setelah diterima, lalu apa yang harus dia lakukan? Bagaimana caranya melamar dan mempersiapkan pernikahan. Pikirannya benar-benar kacau dan buntu. Sepertinya dia benar-benar butuh berkonsultasi dengan Hartono setelah ini.
Malam itu pun mereka habiskan dengan sikap canggung dan tak banyak bicara.
Setelah mereka berdua menghabiskan makanannya. Barulah Zein mulai bicara dengam sangat berhati-hati.
"Luna, terimakasih banyak. Aku senang sekali kau menerimaku dan memberiku jawaban secepat ini. Mungkin setelah ini aku ingin melamarmu secara resmi kepada kedua orang tuamu, lalu kita akan segera merencanakan teknis pernikahan? Bagaimana menurutmu? tidak terlalu cepat kan?"
Luna hanya menggeleng dan tersenyum. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan di mata Zein jika sedang malu-malu begini.
"Beritahu aku kapan waktu yang tepat, jika ada yang kamu inginkan, tolong katakan dengan jelas...aku sebatang kara sekarang, oeang tua ku sidah meninggal. Tapi aku akan berusaha mempersiapkan segalanya sebaik mungkin..."
"Baiklah, aku akan membicarakannya dulu dengan keluargaku, setelah itu aku akan menghubungimu..."
"Baiklah, aku akan tunggu kabar darimu..."
Beberapa saat hening. Makanan mereka sudah habis dan mereka sama-sama kebaisan kata-kata.
"Sudah selesai kan? Aku kan pulang..."
Kata Luna akhirnya, memecahkan keheningan.
"Biarkan aku mengantarmu..."
"Tidak usah, aku pulang sendiri saja..."
"Baiklah, hati-hati di jalan..dan terimakasih banyak..."
Mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing dengan hati berdebar sekaligus berbunga-bunga. Ah, indahnya jatuh cinta.