
Zein tidak menyangka, makan malam mereka yang romantis bisa berubah menjadi penuh ketegangan hanya karena suatu masalah sepele. Zein memang tidak suka melihat Luna pulang terlalu larut atau hidup terlalu bebas. Tapi juga bukan berarti dia akan melarang Luna begitu saja. Namun sepertinya membahas hal ini sangatlah sensitif dan Luna menjadi mudah tersinggung.
"Luna, maafkan aku...aku tidak bermaksud melarangmu atau apapun...aku harap masalah ini tidak mempengaruhi rencana kita. Aku akan datang bersama keluargaku untuk melamarmu....tunggu aku ya...I love you..."
Seperti biasa pesannya untuk Luna tak kunjung berbalas. Tapi kali ini Zein benar-benar membutuhjan jawaban agar hatinya menjadi tenang.
"Luna tolong balaslah sekali ini saja agar aku tenang. Apakah kau memaafkanku?"
Tidak berselangblama pesannya mendapat balasan dari Luna.
"Ya, aku juga minta maaf. Sampai jumpa di acara Lamaran. Kita bahas masalah lainnya setelah lamaran terlaksana...."
"Baiklah, terimakasih banyak..."
Setelah membaca balasan dari Luna hati Zein menjadi tenang. Dan Zein pun semakin antusias mempersiapkan lamarannya yang akan diadakan sebentar lagi. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Sebentar lagi Zein akan menikahi pujaan hatinya sejak dulu.
Zein menghubungi keluarga Ibu dan Ayahnya, untuk menemaninya melamar Luna. Syukurlah semua menyambut dengan baik dan setuju untuk meluangkan waktu. Zein juga minta tolong pada asistennya, Hartono untuk membantu memyiapkan segala keperluan lamarannya. Anehnya, meskipun pekerjaannya bertambah Hartono malah terkekeh senang.
Memang selama ini Hartono adalah salah satu orang yang paling menantikan dirinya untuk menikah, selain kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Tidak lupa Zein juga datang ke makam kedua orang tuanya untuk meminta restu sekali lagi.
Tak terasa waktu berjalan cepat, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Zein bersama rombongan keluarganya dengan lima buah mobil SUV mewah. Hartono telah mempersiapkan segala keperluannya dengan sangat baik. Berbagai macam barang seserahan sudah dikemas dengan snagat cantik. Juga berbagai macam kudapan terbaik yang di beli Hartono juga ikut melengkapi seserahan Zein untuk Luna. Meski mendadak, Hartono juga sempat membantunya memperispkan seragam untuk keluarga yang akan ikut melamar. Zein sendiri tanpil tampan dan gagah dalam balutan jas berwarna gold, serasi dengan kabaya yang akan dikenakan Luna nanti. Sebagai perwakilan keluarga Zein meminta Pakde Jaka, kakak dari Ayahnya untuk melamarkan Luna untuk dirinya. Meski tidak terlalu dekat, Zein tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga besarnya.
Rumah Luna terlihat biasa saja dari depan. Sama sekali tidak terlihat dekorasi yang mencolok, hanya pintu gerbangnya saja yang terbuka lebar dengan di jaga beberapa satpam, tidak seperti biasa. Tapi kemudian saat mobil rombongan Zein mulai memasuki pekarangan, barulah terlihat tenda dengan dekorasi mewah bernuansa putih dan gold, tempat di mana acara lamaran mereka akan dilangsungkan.
Zein terpana saat melihat Luna tampak cantik dan anggun dalam balutan kebaya bernuansa gold. Luna memang selalu cantik, tapi penampilannya kali ini benar-benar mampu menghipnotis orang-orang yang menatapnya.
Acara hari itu berlangsung cukup lancar. Pakde Jaka sebagai perwakilan keluarga menyampaikan maksud kedatangan untuk melamar Luna menjadi isteri keponakannya, Zein. Ikrar lamaran itu disambut dan dijawab dengan baik oleh Kakek Husein, sebagai wali Luna. Setelah selesai Bude Jaka secara simbolis menyematkan sebuah cincin cantik di jari manis Luna. Zein dan Luna tidak banyak berinteraksi secara langsung dalam acara itu. Mereka hanya beberapa saat berdiri berdampingan untuk mengambil foto. Namun hal itu justru membuat Zein semakin berdebar tak menentu. Begitupun dengan Luna, yang sesekali mencuri pandang ke arah Zein dengan tatapan malu-malu.
Secara keseluruhan prosesi Lamaran berjalan lancar dan khidmad. Zein bersama seluruh rombongan keluarga pulang dengan perasaan lega dan hati yang membuncah bahagia.
Dan tentu saja yang paling bahagia dengan terlaksananya acara ini adalah Pamela. Pamela setia mendampingi Mommy dengan selalu berdiri di samping Luna. Bahkan saat ikrar lamaran tadi dijawab dengan lancar, Pamela adalah satu-satunya yang meneteskan air mata karena terharu.