Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 46



Rayhan berlari dengan berbagai macam pertanyaan memenuhi benaknya. Dimatanya selama ini Pamela adalah gadis kecil polos yang dulu dikenalnya. Gadis kecil yang dengan mudahnya mengungkapnya cinta pada dirinya dulu. Tapi ternyata ah! Mungkin dirinyalah yang terlalu naif! Atau bodoh? Pamela dengan wajah cantiknya dan tubuh mungilnya, pasti banyak laki-laki lain yang menyukainya. Juga Pamela anak orang kaya, anak aktris ternama sekaligus seorang biduan sekelas Luna Husein. Apakah mungkin benar Pamela sepolos apa yang terlihat selama ini? Atau justru Pamela punya dua sisi kehidupan yang tidak diketahuinya? Apalagi cukup lama mereka terpisah sebelum akhirnya bertemu kembali. Dalam sekejap berbagai prasangka buruk menyergap pikirannya. Rayhan menyesal, mengapa tadi dia bisa bersikap begitu impulsif dengan memanggil Pamela, lalu dengan bodohnya bertanya tentang pria yang sedang bersama kekasihnya itu. Dia seperti layaknya pecundang yang hanya datang untuk mempermalukan diri sendiri. Maka sekarang Rayhan hanya ingin berlari sejauh-jauhnya, atau bahkan menghilang saja, agar Pamela dan pria yang entah siapa itu, tak perlu menyadari kehadirannya.


Namun tiba-tiba, saat sedang berlari sekuat tenaga, Rayhan mendengar suara hantaman keras dari arah belakangnya, kemudian disusul dengan suara teriakan tertahan seorang gadis, yang amat dikenalnya. Reflek Rayhan menoleh, dan pemandangan yang dilihatnya di belakang sungguh sangat menghancurkan hatinya. Pamela jatuh tersungkur dengan darah yang cukup banyak.


Yah, meski Rayhan baru saja terpikir untuk membenci Pamela, namun sekarang nyatanya dia sungguh sedih dan khawatir melihat keadaan Pamela. Andai saja kecelakaan itu bisa berpindah padanya saja?


Disisi lain, Zein sedang keheranan melihat tingkah aneh Pamela yang terlihat gusar sejak seorang pemuda menyapanya. Apakah itu lelaki yang pernah membuat Pamela sedih tempo hari? Sungguh Zein merasa penasaran. Zein berusaha bersikap setenang dan serileks mungkin, lalu memperkenalkan diri. Biar bagaimanapun dia juga tidak ingin teman-teman Pamela berfikir buruk tentang Pamela karena dirinya. Tapi belum habis rasa penasarannya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kepergian pemuda itu yang pergi secara mendadak dengan berlari. Dan lagi disusul Pamela dengan berlari juga. Pemuda itu bahkan tak menghiraukan Pamela yang coba mrmanggil dan menahannya. Sampai kemudian peristiwa naas itu terjadi di depan kedua matanya. Hati Zein hancur sehancur-hancurnya, melihat gadis yang dicintainya jatuh dengan berlumuran darah.


Dalam kepanikan itu, Zein berlari mendekati Pamela dan meminta siapapun yang ada di sekeliling mereka untuk ikut menolong. Untunglah dalam waktu singkat ada orang yang mengerti tentang pertolongan pertama dan membantu memasang perban dengan kain seadaanya untuk menghentikan perdarahan. Rayhan segera menelpon ambulan, dan hanya berselang lima belas menit ambulan sudah tiba. Orang-orang masih sibuk menghakimi sang penabrak, tapi Zein yang masih panik tidak terlalu perduli, yang dipedulikannya hanyalah keselamatan Pamela.


Zein ikut mengangkat tubuh Pamela bersama perugas ambulan.


"Om, saya ikut ya? Saya teman Pamela yang tadi..."


Tanpa banyak berfikir Zein mengizinkan pemuda yang tadi menyapa Pamela dan kemungkinan adalah penyebab Pamela tertabrak. Tapi Zein sedang tidak ingin memperpanjang masalah dan membiarkannya saja.


Tiba dirumah sakit, Pamela langsung mendapatkan pertolongan pertama. Sementara salah satu petugas menanyainya tentang kronologi kecelakaan. Zein menceritakan detail seperti apa yang dilihatnya. Hingga kemudian sampailah pada pertanyaan.


"Maaf, apa hubungan anda dengan korban? Apa ada pihak keluarga korban yang bisa dihubungi?"


Seketika Zein terdiam, bingung bagaimana harus menjawab.


"Saya teman Pamela dan saya mengenal orang tuanya, saya akan menghubungi Ibunya sekarang!"


Pemuda itu dengan lancang menjawab. Zein tidak bisa berbuat apa-apa.