Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 82



Demi mengabulkan sebuah keinginan sederhana dari anak tercinta.


"Aku ingin pergi bertiga dengan Mommy dan Daddy!"


Begitu kata Pamela. Dan entah mengapa kini permintaan anak ini baginya seperti titah raja, harus diikuti agar tuan puteri bahagia dan semakin sayang padanya. Yah, bagi Zein demi mengambil hati Pamela lagi, apapun akan dilakukannya.


"Bilang pada Mommy-mu juga, aku akan meluangkan waktuku kapan saja Mommy-mu dan kamu mau, juga kemana kita akan pergi, aku ikut saja..."


Tapi ternyata tidak cukup sampai disitu.


"Daddy saja yang hubungi Mommy. Sekarang Mommy sedang sibuk-sibuknya, pulangnya larut malam bahkan kadang tidak pulang ke rumah. Daddy saja yang hubungi Mommy dan ajak Mommy pergi bersama kita!"


"Baiklah, akan ku coba menghubungi Mommy-mu nanti!"


Bagai kambing yang dicucuk hidungnya, Zein mau-mau saja meniruti perintah otoriter dari si tuan puteri.


Dan malam ini, entah mengapa dia harus gelisah hanya untuk mengirim sebuah pesan kepada Luna. Padahal sebelumnya dia biasa saja jika mengirim pesan untuk meminta izin pergi bersama Pamela. Seolah-olah dirinyalah yang mengajak Luna untuk pergi bersama.


"Luna bisakah kita pergi bertiga dengan Pamela? Kapan kamu ada waktu? Ini permintaan dari Pamela..."


Ketik Zein setelah beberapa menit mencari kata-kata. Zein tidak ingin terkesan bahwa dirinya yang menginginkan pertemuan itu.


"Nanti biar aku bicarakan dengan Pamela sendiri. Aku sedang banyak pekerjaan, mungkin sekitar dua minggu lagi baru bisa!"


Dan seperti biasa, jawaban dari Luna selalu lugas tanpa basa-basi. Apakah Luna selalu menanggapi orang dengan seperti ini? Baguslah kalau begitu. Mungkin karena banyak pria yang mencoba berbasa-basi dengannya. Dan apakah dirinya salah satunya? Zein geli sendiri dengan pikirannya.


"Baiklah, kutunggu kabarnya. Dan Maaf, aku menghubungimu karena Pamela yang memintanya..."


Balas Zein lagi. Zein juga seorang lelaki dengan harga diri yang tinggi. Jadi pantang baginya terkesan diacuhkan oleh seorang wanita. Beberapa saat Zein menunggu balasan. Namun sepertinya Luna memang tak berniat membalas pesannya lagi. Sudahlah.


Zein mencoba tidur. Besok masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tapi entah mengapa matanya tak kunjung bisa terpejam. Oh, ada apa ini dengan dirinya?


Dua minggu. Tepat seperti janji Luna, Pamela akhirnya mengabarinya kalau mereka akan pergi nonton bertiga di akhir pekan besok.


"Ok, aku akan menjemputmu dan Mommy-mu besok!"


Dia harus mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk pergi besok. Dan hey, ini bukan acara kencan! Zein mencubit pipinya sendiri untuk mengingatkan pikirannya yang mulai ngawur.


Zein menjemput Pamela dan Luna, lalu melajukan mobilnya ke sebuah mall dengan terburu-buru. Pamela sudah memesan tiga tiket bioskop dengan film bergenre horor yang jadwal tayangnya jam tujuh malam. Tapi, siapa yang punya ide nonton film horor murahan? Seingatnya saat pacaran dengan Luna dulu, Luna tidak suka film horor. Karena Luna selalu ketakutan meski hantunya sama sekali tidak seram, dan Luna tidak menyukainya karena hal itu akan menganggu pikirannya sepanjang waktu dan membuat pekerjaannya berantakan. Sedangkan Zein sendiri selalu merasa jijik sebab, film horor dalam negeri kerap kali menyuguhkan keerotisan perempuan yang terkesan murahan.


"Sejak kapan kamu suka film horor?" Tanyanya pada Pamela saat mobil mereka terpaksa berhenti di lampu merah.


"Aku tidak terlalu suka, tapi film yang lain sudah kutonton bersama temanku sepanjang minggu yang lalu..."


Jawab Pamela berkilah. Setelah beberapa saat bergelut dengan macetnya jalannya, sampailah mereka ketempat yang di tuju. Tak ingin membuang waktu mereka langsung naik ke lantai atas dimana bioskop berada. Zein membeli tiga kantong besar popcorn rasa karamel dan tiga cup besar soft drink untuk menemani mereka menonton.


Namun saat memasuki ruangan dan berjalan menuju bangku mereka, Pamela justru mengambil tempat duduk di bangku paling ujung, menyisakan dua bangku di sebelahnya untuknya dan Luna. Zein menunggu dan mempersilahkan Luna duduk lebih dulu, tapi Pamela malah memanggilnya.


"Daddy, sini duduk disampingku!"


Zein mengikuti instruksi putri kesayangannya untuk duduk, diikuti Luna yang duduk disampingnya dengan jengah. Dalam hati Zein membatin, ini pasti skenario Pamela.


Lampu dimatikan, dan film mulai ditayangkan. Pamela disampingnya sibuk mengunyah popcorn dan Zein pun melakukan hal yang sama untuk mengusir kejenuhan. Hingga kemudian saat adegan si hantu seksi keluar, Luna menjerit dan reflek menutup wajah sambil bersandar di dada bidang Zein.


Setelah berhasil menguasai diri, Luna segera beranjak dan kembali ke posisinya semula.


"Maaf..."


Kata Luna, namun tak berani memandangnya.


"Tidak apa, kamu masih saja takut nonton hantu ternyata..."


Ledek Zein sambil tersenyum geli. Luna hanya diam dan menyibukkan diri dengan popcornnya untuk menyembunyikan kegugupannya.


Setelah film selesai mereka segera keluar dan menuju salah satu resto di mall untuk makan malam. Namun sepanjang makan malam baik Luna maupun Zein lebih banyak diam. Hanya Pamela saja yang aktif memulai percakapan yang hanya ditanggapi sekenanya oleh Mommy dan Daddy-nya.


Hingga akhirnya Zein mengantar Luna dan Pamela pulang tanpa banyak bicara.