Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 32



Keesokan harinya, Vanessa dan Pamela kembali datang ke sekolah seperti biasa. Akhirnya setelah satu per satu masalah yang dihadapinya selesai, Vanessa bisa bernafas lega.


"Akhirnya Mel, gue udah lega sekarang...makasih banyak ya? Gue nggak bisa bayangin nasib gue tanpa bantuan lo!"


"Akhirnya...lo ngakuin juga kan kalau gue berjasa? Eh tapi itu karena Daddy gue sih, lo harusnya berterimakasih juga sama dia!"


"Iya deh Mel, salam ya buat Daddy lo dan sampein terimakasih gue ke dia, gue males kalau harus berurusan sama om-om lagi!"


"Enak aja! Daddy gue bukan Om-om beristri ya, dia single and available!"


"Jadi? Lo beneran cinta nih sama Daddy lo?"


"Ya nggak juga sih, gue masih yakin cinta gue cuma buat Kak Raihan, tapi gimana ya, gue ngerasa nyaman aja sama Daddy!"


"Hati-hati neng, nyaman bisa lebih berbahaya dari cinta!"


Bel berbunyi dan seorang guru masuk menghentikan obrolan asyik dua sahabat itu. Namun ternyata Bu Sofia, guru kimia yang akan mengajar pagi itu, justru mengumumkan sebuah berita duka yang membuat Vanessa dan Pamela terkejut. Ayah dari Siska meninggal dunia. Dan setiap kelas diminta mewakilkan dua anak untuk melayat.


Entah mengapa Vanessa dan Pamela ikut merasa sedih mendengar berita itu. Padahal mereka tidak merasa ada hubungan apapun dengan Siska dan keluarganya. Tapi pertemuannya dengan keluarga Siska yang hanya berselang sehari sebelum kematian ayahnya nampaknya meninggalkan kesan tersendiri bagi keduanya. Apalagi bagi Vanessa yang pernah merasakan nasib yang sama karena ditinggal meninggal Ayahnya dulu. Maka hari itu mereka berdua mengusulkan diri untuk menjadi perwakilan kelas yang ikut melayat ke rumah Siska. Bu Sofia pun dengan mudah memberi izin pada keduanya. Karena memang tidak ada siswa lain yang berminat untuk pergi. Tidak ada anak yang merasa berkepentingan untuk melayat sebab mereka tidak merasa terlalu mengenal Siska.


Maka akhirnya, pagi itu setelah jam istirahat pertama, Vanessa dan Pamela pergi ke rumah Siska bersama siswa perwakilan yang lain dan beberapa guru.


Rumah siska hanya kecil dan terletak di sebuah gang sempit, mirip dengan rumah Vanessa. Siska hanya duduk sendirian, di kursi bagian depan rumahnya sambil menyambut dan menyalami para pelayat yang datang dengan wajah datarnya.


Merekapun turut ikut ke pemakaman saat jenazah akan dikebumikan. Suasana prmakaman tidak terlalu ramai. Hanya beberapa keluarga inti yang mengantar juga para tetangga. Selesai dari pemakaman itu pun Pamela dan Vanessa berniat untuk oulang bersama teman-teman yang lainnya. Namun kemudian Siska memanggilnya.


"Tunggu sebentar, ada yang pengen gue omongin sama kalian..."


"Nih.."


Siska menyerahkan sebuah amplop yang lumayan tebal pada Vanessa.


"Apa ini?"


"Itu uang sisa kemarin, gue udah ambil secukupnya, makasih banyak ya..."


"Nggak usah, lo simpen aja, setelah ini lo pasti masih butuh banyak biaya..."


"Gue bisa usahain sendiri nanti, cukup dan makasih banyak, gue nggak mau semakin merasa bersalah karena berlebihan pake uang ini!"


"Pake aja Sis, gue pernah ada diposisi lo jadi gue tahu gimana rasanya, lagian itu bukan dari gue, jadi gue nggak berhak merima ini.."


"Tapi gue nggak suka hutang budi, berat! Apa imbalan yang harus gue kasih buat ini?"


"Sesuai perjanjian di awal, cukup lo tutup aib gue rapat-rapat!"


"Ok, gue terima!"


Dan dengan begitu Vanessa dan Pamela pun bisa pulang dengan tenang.


Hari-hari berikutnya sesekali mereka saling bertegur sapa dan mulai berteman.