
Hari-hari berikutnya entah mengapa Nadia masih sering menghubunginya. Padahal Rayhan merasa urusan diantara mereka sudah selesai. Dari sekedar menanyakan kabar, obrolan basa-basi, sampai beberapa kali mengajak untuk bertemu. Rayhan mencoba untuk menanggapi sewajarnya saja. Tapi kemudian Nadia malah semakin ngotot minta bertemu lagi. Akhirnya Rayhan menyerah dan setuju untuk bertemu Nadia lagi. Lagi pula mungkin dia juga harus menanyakan tentang sikap nadia yang mengubah kesepakatan dengan tiba-tiba.
"Akhirnya....susah banget sih mau ketemu sama lo.."
Kata Nadia dengan nada manja.
"Ada apa? Apa masih ada yang harus dibahas setelah lo ganti judul tanpa permisi?"
Tanya Rayhan dengan nada ketus
"Hahaha, lo marah? Maaf deh, gue rasa judul itu lebih menarik! Terbukti kan viewernya banyak dan chanel lo juga tambah banyak subscribernya? Jadi nggak masalah kan?"
"Terus sekarang ada apa lagi?"
Rayhan tak bisa memungkiri kalau hal itu juga menguntungkan dirinya. Tapi disisi lain Rayhan merasa sudah cukup dan tidak ingin berurusan dengan nadia lagi.
"Mau silaturahmi aja, kenapa? keberatan? atau jangan-jangan pacar lo yang anak seleb itu yang keberatan lo ketemu sama gue?"
"Jangan ngomongin pacar gue kayak gitu!"
"Emangnya kenapa kalau gue ngomongin dia? Pacar lo itu cuma anak manja yang udah kaya dari lahir, tenar juga cuma kecipratan dari nyokapnya, nggak ada prestasi! Udah gitu nggak jelas juga asal usulnya! Mendingan gue dong, udah cantik, seksi, gue terkenal juga kerja keras sendiri!"
"Apa urusannya sama gue?"
"Kalau lo cerdas lo harusnya lebih pilih gue daripada dia!"
"Kok jadi gitu? Kita cuma kerja profesional, jangan berharap lebih dan Pamela tetap pacar gue!"
"Emang susah ngasih tahu orang yang lagi bucin! Jangan salah paham dan nggak usah ge er, gue juga nggak mungkin naksir sama lo. Tapi di dunia maya yang penuh dengan kepalsuan ini, skandal dan kehaluan bisa jadi lebih laku dijual, jadi gue pikir kalau kita pacaran atau lo jadiin gue selingkuhan pasti kita berdua bakal lebih terkenal! Jadi gimana? Mau terima tawaran gue?"
"Lo gila Nad? Ini masalah hidup dan masa depan, segampang itu lo anggap main-main?"
"Santai bro, lo pikir semua berita-berita yang boming di sosmed itu nyata? Nggak mungkinlah! Sebagian pasti cuma settingan. Apa lagi tujuannya kalau bukan demi cuan dan popularitas. Kita cari hidup dari dunia ini Bro. Realistis ajalah! Kalau mau idealis mendingan lo jadi guru atau peneliti. Jaman sekarang ustadz aja pada nyambi jadi artis!"
Rayhan tersentak dengan kalimat yang diucapkan Nadia. Terasa benar. Tapi Rayhan juga tidak mau melangkah sejauh itu.
"Nggak lah, gue masih mau kerja pake cara bener! Makasih banyak Nad masukannya, tapi kayaknya setelah ini kita nggak perlu ketemu lagi."
"Fine! Oke kalo itu mau lo! Gue pengen lihat sejauh mana lo bisa bertahan dengan gaya idealisme lo itu! Masih banyak cowok pinter yang bisa gue ajak kerjasama! Bye..."
Tanpa disangka Nadia langsung melangkah pergi.
"Tagihannya lo yang bayar!"
Kata Nadia sambil menghentikan langkahnya sesaat. Rayhan hanya mengangguk, lalu Nadia melanjutkan langkahnya.
"Luar biasa cewek selebgram zaman sekarang!"
Komentar Rayhan sambil geleng-geleng kepala.
Rayhan lanjut menghabiskan makannya sekaligus menyantap makanan pesanan Nadia yang belum disentuhnya.
"Sial! Dia yang ngajak ketemu, gue yang disuruh bayarin! Harus dihabisin biar nggak mubadzir..."
Rasa kesal Rayhan sedikir terbayar dengan rasa makanan yang lezat. Rekomendasi Nadia tentang tempat makan memang selalu memuaskan.