
Ternyata memperjuangkan cita-cita memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Viewer dan subscriber chanel youtube nya memang meningkat tajam saat dia mengupload video wawancara dengan Luna Husein beberapa waktu yang lalu. Tapi kemudian saat dia mengupload video yang lain, viewernya tidak sebanyak saat video wawancara. Bahkan subscribernya agak berkurang. Meski begitu video-video yang diupload sebelumnya viuwernya juga ikut meningkat meski tidak sebanyak video wawancara itu.
Yah, memang begitulah, tidak ada cara yang instan untuk sebuah kesuksesan. Cara instan hanya hasilnya juga hanya bisa bertahan sementara. Rayhan kembali mengingat cerita perjalanan Luna Husein yang tidak mudah. Dia tahu jalannya masih panjang dan belum waktunya untuk menyerah. Maka Rayhan memilih untuk menerima dan menikmati masa-masa berjuangnya ini dengan lapang dada. Rayhan masih terus belajar untuk membuat dan mengedit konten dengan lebih baik. Rayhan juga selalu rutin mengupload video tiga sampai empat kali seminggu. Sedikit demi sedikit viewernya bertambah meski tidak drastis. Rayhan masih ingat apa yang diketakan Lunq, bahwa salah satu kunci sukses adalah konsistensi, meskipun usaha kita belum membuahkan hasil yang signifikan, lalu kemudian sabar dan berdoa. Untuk menyiasati masalah keuangan, Rayhan memilih produksi konten dengan biaya rendah atau bahkan tanpa biaya sama sekali. Semua dilakukannya sendiri. Pengorbanannya adalah menyisihkan waktu dan energi di sela-sela waktu kuliahnya. Hal itu tentu saja berimbas pada waktu kelulusannya yang mundur. Tapi tak mengapa, selalu ada hal yqng harus dikorbankan untuk sebuah kesuksesan. Rayhan yakin masih sanggup menyelesaikan kuliahnya meski harus sedikit tertunda. Karena bagaimanapun itu adalah wujud tanggung jawab pada orang tua yang telah membiayainya.
Hal lain yang juga harus dikorbankannya adalah hubungannya dengan Pamela. Rayhan menceritakannya kesulitannya pada Pamela dan untunglah Pamela mau mengerti dan mendukung usahanya.
"Bagus kalau Kakak mau berjuang, tapi ingat jaga kesehatan, jangan dipaksakan, jangan terlalu capek dan jangan lupa makan!"
Hanya itu pesannya pada Rayhan. Brnar-benar kekasih yang pengertian.
"Kamu juga, fokus belajar dulu buat ujian, semoga kita-kita sama-sama sukses biar nanti bisa secepatnya menikah!"
"Hah, menikah?"
Pamela cukup terkejut dengan ajakan itu. Entah serius atau hanya bercanda. Rencana menikah sama sekali belum terlintas di benak Pamela. Pernikahan yang harmonis memang menjadi impiannya. Tapi baginya hal itu adalah masa depan yang terasa masih jauh.
"Tapi kan nikahnya nggak sekarang-sekarang Kak!"
"Siapa juga yang ngajakin sekarang, kan aku bilang nanti, sekarang rencananya aja dulu!"
Wajah Pamela jadi memerah menahan malu.
"Ih, Kakak nyebelin..."
Dan sejak itu pertemuan mereka menjadi semakin jarang. Mereka hanya sesekali berkomunikasi lewat pesan atau telepon. Seperti pacaran LDR saja, padahal mereka masih tinggal dalam satu kota. Rayhan bersyukur, sebab Pamela yang sangat manja, ternyata mau bersabar untuk tidak bertemu dulu. Untuk sementara biarlah mereka tenggelam dalam kesibukan masing-masing sebelum nanti merajut masa depan bersama. Dan bersama itu Rayhan merasakan cintanya semakin kuat untuk Pamela, bersama rasa rindunya yang juga semakin menggebu. Mereka berjanji akan bertemu lagi setelah Pamela selesai dengan ujiannya. Masih sekitar tiga bulan. Waktu yang cukup lama untuk tidak bertemu sang kekasih. Semoga waktu itu juga cukup membuat chanelnya sedikit berkembang. Rayhan tidak bermimpi terlalu tinggi, setidaknya dia ingin ada kemajuan yang signigikan, meski chanelnya belum terkenal dan penghasilannya belum banyak.
Namun kemudian, yang terjadi adalah hal yang tidak pernah disangkanya. Saat sedang rehat sejenak usai membuat konten, di sebuah pusat perbelanjaan Rayhan melihat Pamela berjalan dengan lelaki lain. Lelaki yang terlihat berusia matang tapi masih tampan. Rasa penasaran membuat Rayhan membuntuti keduanya hingga Rayhan yakin kalau itu benar-benar Pamela. Tapi siapa laki-laki yang bersamanya?