Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 9



Pamela melangkah dengan kaki gemetar ke arah seorang pria yang sudah menantinya di sebuah meja. Wajahnya terus menunduk. Seolah tak ingin ada yang memyadari kehadirannya.


Apa yang sedang kulakukan?


Umpatnya dalam hati, menyesali kebodohannya sendiri. Sampai di meja yang ia tuju Pamela hanya diam, sampai sebuah suara mengagetkannya.


"Pamela?"


Pamela reflek mengangkat wajahnya, dan terkejut mendapati sosok berwajah cukup tampan di depannya. Laki-laki itu belum terlalu tua ternyata. Tapi dari garis wajahnya terlihat matang. Pasti usianya sudah di atas tiga puluh tahun. Sosok yang cukup pantas untuk dijadikan pacar. Ah, tidak-tidak! Apa yang kupikirkan?


"Silahkan duduk..."


Pamela tersadar dari lamunannya.


"Ya Om, terimakasih..."


"Jangan panggil Om, panggil saya Daddy!"


"Daddy?"


"Ya, I'm your sugar daddy right?"


"Baik Om...eh Daddy..."


Pria itu tersenyum sambil menelisik penampilan Pamela. Pamela sedikit menyesal dengan penampilannya. Apa sekarang dirinya benar-benar terlihat seperti gembel sampai pria di depannya menatapnya heran? Rasanya Pamela seperti pembantu yang sedang diajak tuannya pergi makan.


"Santai saja, jangan terlalu tegang...mau pesan makan dulu?"


Pamela sebenarnya tidak merasa lapar. Apalagi dalam situasi menegangkan seperti ini. Tapi membolak-balik buku menu sepertinya ide yang bagus untuk menyamarkan kegugupannya.


"Ya daddy..."


"Silahkan pesan apapun yang kamu mau..."


Pamela segera menyibukkan dirinya dengan buku menu. Lalu Pria itu memanggil waitres untuk mencatat pesanan mereka.


"Oh ya, nama saya Zein, kalau kamu ingin tahu.."


"Ya Daddy, nama saya Pamela.."


"Hahaha, saya sudah tahu itu...mari kita mulai sesi wawancara nya, siap?"


Apa-apaan ini? Pakai wawancara segala!


"Ya Daddy..."


"Kamu masih perawan?"


"Masih..."


"Bagus, untuk itu aku membayarmu mahal!"


Seketika bulu kuduk Pamela meremang. Apa yang akan dilakukan pria ini padanya nanti?


"Mengerti Daddy..."


Kamudian pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Silahkan makan dulu, kita lanjutkan nanti..."


Sejenak Pamela dan pria bernama Zein itu sibuk dengan makanan masing-masing. Setelah selesai barulah Zein mulai bicara lagi.


"Apa ada yang ingin kamu katakan? Sepertinya kamu merasa kurang nyaman?"


"Maaf Daddy, apakah bisa kita batalkan saja perjanjian ini?"


"Tidak bisa! Aku sudah membayarmu mahal, kamua harus jadi milikku!"


Pamela hanya bisa tertunduk pasrah. Dia tidak bisa melarikan diri lagi. Semua usahanya sia-sia sudah. Apa jadinya nasibnya setelah ini?


"Tenang, aku tidak akan terlalu banyak menganggumu...Berikan jadwal sekolah dan kegiatanmu yang lain, nanti aku akan mempelajarinya, kita bisa bertemu sekali atau dua kali dalam seminggu, mengerti?"


"Ya Daddy..."


"Baiklah sekarang kamu boleh pulang, aku akan menghubungi lewat telepon nanti...hari ini kamu terlihat sangat tegang, semoga di pertemuan selanjutnya kita bisa lebih akrab..."


"Baik Daddy, saya pulang dulu..."


Dan Pamela pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Setelah sampai di loby hotel, Pamela mengambil poselnya dan menuliskan sebuah pesan untuk Vanessa.


Gue udah selesai nih, mau pulang bareng atau gue tinggal?


Tidak berselang lama sebuah balasan muncul di ponselnya.


Tungguin! Bentar lagi gue selsai, kita pulang bareng!


Vanessa muncul menghampirinya di loby dengan wajah kusutnya.


"Sial! Gue dapet om-om beneran nih!"


Pamela tertawa mendengar keluhan sahabatnya.


"Lah kan emang carinya om-om gimana sih?"


"Lo sendiri gimana, masih cakep nggak omnya?"


"Lumayan sih, tapi fix gue nggak bisa kabur nih!"


"Yaudahlah dinikmatin aja, setidakmya lo masih beruntung, nggak perlu merem kalo lagi dikekep nanti!"


"Hahaha"


Merakapun tertawa bersama. Menertawakan kekonyolan dan kebodohannya sendiri.