Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 91



Jika sebelumnya Luna masih saja menganggap masalah cinta hanyalah permaianan hati yang akan ditanggapinya dengan sekedarnya saja, kali ini Luna benar-benar memikirkannya lebih dalam. Semula Luna mengira Zein hanya ingin bermain-main saja. Tapi ajakan untuk menikah, tentu bukanlah permainan. Dulu mereka pernah saling mengenal cukup lama. Dan semua hal yang terjadi diantara mereka hingga saat ini, bagi Luna cukup untuk mengenal baik dan buruknya perangai Zein. Luna kini sepenuhnya berfikir sebagai perempuan dewasa, yang akan mengambil sebuah keputusan penting untuk masa depan dirinya dan orang-orang tersayangnya. Rasa ego dan gengsi, telah disingkirkannya jauh-jauh. Tapi keputusan ini bukan hanya tentang dirinya, maka Luna merasa perlu untuk meminta pendapat orang-orang disekitarnya.


Yang pertama dia pikirkan tentu adalah Pamela, putri semata wayangnya. Luna amat bersyukur, meski dibesarkan dalam kondisi keluarga yang tidak ideal, Pamela tumbuh menjadi anak baik, bahkan sikapnya padanya amatlah manis. Tentu salah satu pertimbangannya dalam mengambil keputusan menikah adalah persetujuan Pamela.


"Pamela, kamu sudah tidur sayang?"


Luna beberapa kali mengetuk sampai pintunya terbuka.


"Ada apa Mommy? Maaf tadi aku pakai airphone, jadi kurang dengar..."


"Bisa Mommy bicara sebentar sama kamu?"


"Boleh dong Mom, kok pake tanya? Ayo masuk Mom..."


Luna sebelumnya sudah menyusun kalimat untuk bicara, tapi entah kenapa mulutnya mendadak kaku.


"Ada apa Mommy? Katakan saja jangan ragu-ragu. Apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak sayang, ini tentang Daddy Zein..."


"Ada apa dengan Daddy?"


"Daddy mu mengajakku menikah.."


"What???"


Pamela terpekik saking kagetnya. Pamela tidak menyangka kalau Daddy Zein akan seberani itu.


"Kenapa kau terkejut? Apa dia tidak memberitahumu?"


"Daddy memberi tahuku kalau dia menyukai Mommy, tapi Daddy belum bilang kalau langsung mengajak Mommy menikah..."


"Lalu, bagaimana menurutmu sayang?"


"Aku akan sangat senang kalau Mommy dan Daddy menikah, tapi semuanya kembali pada Mommy...lakukanlah apa yang membuat Mommy bahagia, aku akan ikut bahagia..."


"Terimakasih banyak sayang..."


Luna lalu memeluk Pamela dan tanpa terasa air mata haru menetes dari matanya.


"Tidurlah sayang, Mommy akan kembali ke kamar..."


"Ya Mommy, selamat malam, tidur yang nyeyak ya..."


Luna lalu keluar dan berjalan masuk ke kamarnya. Jawaban dari Pamela membuatnya tenang dan semakin meyakinkannya untuk menerima Zein. Dan malam itu Luna bisa tertidur dengan pulas.


Luna tentu juga harus membicarakan urusan ini pada Ibu dan Ayahnya. Tapi pertama-tama, Luna ingin berbicara berdua dengan Ibunya. Meski mereks sesekali bertengkar dan kerap beda pendapat, tapi jauh di dalam lubuk hatinya luna meneruh rasa hormat yang besar juga amat menyayangi Ibunya. Luna tahu Ibunya selalu melakukan yang terbaik untuk dirinya dan Pamela.


Maka setelah Chika dan Pamela, keluar dari rumah untuk bekerja dan kuliah, Luna memutuskan untuk menghampiri Ibunya. Saat itu Ibunya sedang berada berada di dapur, mengobrol dengan dua pekerja rumah tangga.


"Kau sudah bangun rupanya, kenapa tidak ikut sarapan tadi?"


"Tadi aku masih ngantuk bu..."


"Katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Bisa Ibu ikut ke kamarku? Ini masalah yang cukup penting..."


"Oh, baiklah-baiklah...ayo kita ke kamarmu..."


Nenek Zubaedah mendahului Luna masuk ke kamarnya.


"Ada apa Luna? Apa ada masalah yang besar..."


"Ibu, ada seorang lelaki yang mengajakku menikah..."


"Wah bagus sekali kalau begitu, sudah lama Ibu menantikan kabar ini..."


"Yang mengajakku menikah adalah Zein...."


"Apa?"


Nenek Zubaedah amat terkejut. Tapi kemudian diam dengan pandangan menerawang. Nenek Zubaedah berusaha mencerna baik-baik informasi yang diberikan Luna, putrinya.


"Lalu bagaimana menurutmu? Apa kau akan menerimanya?"


"Bagaimana menurut Ibu? Aku butuh pendapat Ibu tentang masalah ini...."


"Luna, dulu aku pernah amat menyukai orang itu, lalu kemudian sangat membencinya, dan sekarang perlahan-lahan aku mulai belajar memaafkannya. Kalian pernah melakukan kesalahan di masa muda. Tapi apa yang terjadi diantara kalian adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Hati manusia mudah berubah, karena itu mintalah petunjuk pada Allah Swt...mintalah ditunjukkan jalan terbaik, untuk hidup dan masa depanmu...jika memang ini takdirmu dan kalian memang berjodoh, aku akan memberikan restu....sudah lama aku menantikanmu menikah. Kau mungkin perempuan mandiri yang bisa segalanya, tapi menikah akan melengkapi hidupmu dan membuatmu tentram..."


"Terimakasih banyak Bu..."


"Shalatlah...berdoalah, ikuti apa yang kamu yakini, meski sering marah-marah, aku selalu mendoakanmu, hiduplah dengan lebih baik dan bahagia Luna..."


"Terimakasih banyak Ibu..."


Mereka lalu berpelukan, dengan air mata haru membasahi pipi. Sudah lama mereka tidak berbicara dari hati ke hati seperti ini.


Dan seperti nasehat Ibunya, setelah itu Luna lebih sering berdoa dan memohon petunjuk, agar lebih dimantapkan hatinya. Usianya sudah sangat matang dan pernikahan dimatanya bukan tentang jatuh cinta semata, tapi sebuah perkara besar yang semoga memberikan kebaikan untuk hidupnya dan keluarganya.


Setelah itu Luna juga berbicara pada Ayahnya untuk meminta restu.


"Baguslah, akhirnya kau menikah juga, aku sudah tidak sabar ingin menikahkan anak perempuanku..."


Luna dan Nenek Zubaedah malah tertawa mendengar jawaban Kakek Husein. Dalam hatinya Luna merasa sangat lega. Satu persatu restu telah digapainya.