
Luna baru saja bangun dan keluar dari kamarnya, lalu mendapati meja makan di ruang tengah di penuhi aneka makanan yang menguarkan aroma harum menggoda. Disana ada Pamela sedang berdiri, memberi instruksi pada para ART untuk menata makanan sambil membawa satu buket besar bunga mawar merah. Karena tadi terburu-buru, Daddy Zein tidak sempat mengajak Pamela makan siang. Dan sebagai gantinya, Daddy Zein memesan banyak makanan untuk Pamela, Luna, juga seluruh keluarga.
"Kau sudah pulang Pamela? Dari mana semua makanan ini?"
"Ya Mommy, aku baru saja pulang, Daddy Zein yang membelikan ini semu untuk Mommy. Mommy belum makan kan?"
"Hhmm belum, sepertinya lezat, ayo kita makan bersama..."
"Ya Mommy, oh ya, ini juga ada bunga untuk Mommy..."
"Ya, terimakasih, taruh saja disana...kita makan dulu..."
Luna dan Pamela lalu makan bersama sambil berbincang hangat. Nenek dan Kakek sudah makan siang tadi. Mereka memang selalu makan tepat waktu dengan menu masakan rumahan untuk menjaga kesehatan. Selesai makan Pamela langsung masuk ke kamarnya untuk beristrirahat.
Diam-diam Luna mengambil buket bunga Mawar dari Zein dan membawanya masuk le dalam kamar. Luna membaca kartu ucapan kecil yang tersemat di sana.
For my dearest future wife,
Soon to be your hubby,
Tanpa sadar bibir Luna menyunggingkan senyum dan wajahnya memerah karena tersipu. Setelah itu, begitu membuka ponselnya Luna mendapati sebuah pesan dari Zein.
"Kapan bisa bertemu lagi? Masih ada banyak hal yang harus kita bicarakan..."
Hati Luna semakin berdebar tak menentu. Bahkan di usianya sekarang Luna begitu mudahnya tersipu. Memang cinta datang tanpa memandang waktu dan usia.
Namun Luna memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya tanpa membalas pesan dari sang pujaan hati. Jadi, kapan mereka harus bertemu? Zein mungkin akan menagih jawaban tentang waktu lamaran mereka.
Luna masih merasa lelah dan mengantuk, Luna masih ingin tidur sebentar lagi, sebab nanti sore dia harus berangkat ke studio salah satu televisi nasional. Luna, akan menjadi juri tamu untuk ajang kontes dangdut. Malam yang panjang sudah menantinya. Sudah dipastikan nanti malam Luna akan pulang larut lagi. Hari-hari terasa panjang dan melelahkan. Mungkin, besok Luna akan berbicara dulu pada Ayah dan Ibunya, meminta pertimbangan untuk menentukan waktu yang tepat untuk menggelar prosea lamaran. Setelah itu baru Luna akan menghubungi Zein lagi.
Tak butuh waktu lama bagi Luna untuk memejamkan matanya, sementara senyum manis masih menghiasi bibirnya. Biarlah sejenak Luna beristirahat, sebelum nanti kembali bergelut dengan kerasnya dunia.
Sementara di tempat lain, Zein sedang memandang ponselnya dengan gelisah. Padahal baru beberapa menit tadi Zein merasa amat bahagia saat memandang hasil perburuannya bersama Pamela. Mungkin perasaan seperti ini yang dirasakan para perempuan setelah berbelanja. Perasaan puas dan bangga. Tapi bagi Zein, dia merasa puas sebab telah memilihkan sendiri barang-barang terbaik untuk calon istrinya. Padahal untuk dirinya sendiri, Zein hanya memilih asal dengan minta diambilkan pelayan di gerai yang ada di mall. Namun kemudian, saat Zein mengirim pesan untuk Luna, lagi-lagi calon istrinya itu tak kunjung membalas, bahkan setelah satu jam lebih dirinya menunggu. Sudahlah. Akhirnya Zein menyimpan ponselnya dan kembali fokus bekerja. Padahal dia sudah menuruti saran Pamela untuk memberi perhatian lebih dengan mengirim bunga dan makan siang. Tapi Luna tetap saja mengabaikannya. Apa yang salah dengan dirinya? Ah, kenapa sikap wanita sangat membungungkan begini. Luna menerimanya, tapi juga masih mengacuhkannya.