Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 17



Vanessa masih merasa 'sakit' dan mencoba membuat banyak alasan saat Om Pras ingin menemui dirinya. Tapi sampai kapan? Biar bagaimanapun mereka masih terikat kontrak, dimana Vanessa adalah pihak yang tak memiliki kuasa apapun.


Jangan menghindari saya terus, mari kita bertemu dan bicarakan masalah ini baik-baik. Di restoran saja seperti pertama, bagaimana? Tenang saja, saya janji tidak akan menyentuhmu dulu...


Vanessa berulang kali membaca pesan yang dikirimkan Om Pras. Apa dia bisa mempercayainya? Sakit di tubuhnya memang telah hilang, tapi trauma itu entah sampai kapan akan menghantui dirinya.


Baik Om, saya akan menemui Om...


Balas Vanessa akhirnya, setelah berfikir dan menimbang-nimbang. Tentu, dia tidak bisa selamanya menghindar. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menghadapi satu demi satu pertemuan yang seperti mengantarkannya ke neraka. Mungkin, Vanessa memang sudah ditakdirkan untuk merasakan 'sakit' itu berulang kali. Yang bisa dilakukannya hanyalah menguatkan diri sendiri. Mungkin suatu saat dia akan kebal sendiri dengan rasa 'sakit' dan bisa berdamai dengan trauma di masa lalu.


Vanessa mengenakan celana jeans dan0eeezzebvbzb blouse panjang, lalu memoleskan bedak tipis tipis dan lipgloss. Penampilannya cukup tertutup dan sederhana, bukan seperti p*lac*r. Dengan begitu Vanessa berharap Om Pras tidak bernafs* padanya dan mau menepati janjinya. Vanessa pergi dengan menggunakan taksi online. Sampai disana ternyata Om Pras sudah menunggunya dengan tidak sabar.


"Bersikaplah profesional, saya sudah cukup memberikanmu banyak keringanan..."


"Maafkan saya Om..."


"Ya..ayo duduk, sudah makan?"


Vanessa duduk, tapi tak menjawab pertanyaan Om Pras.


"Pesan makanan dulu, kita ngobrol sambil makan ya..."


"Ya Om.."


Seorang waiters datang untuk mencatat pesanan mereka.


"Saya minta maaf atas kejadian terakhir di hotel kemarin..."


"Bukan Om yang salah, memang sudah resiko pekerjaan saya sebetulnya..."


Dan waiters pun datang mengantarkan minuman.


"Minum dulu..."


"Ya.."


"Sebenarnya apa yang terjadi? maksud saya kenapa kamu bersikap seperti itu pada saya? Sedangkan kamu tahu pekerjaan macam apa yang kamu geluti ini...apa ada yang salah dengan wajah saya atau yang lainnya?"


"Saya trauma Om, waktu kecil saya diperkosa keluarga saya..."


"Dan kemarin pertama kalinya kamu melakukan hubungan sejak saat itu?"


Tanya Om Pras menyelidik.


"Pantas saja.."


"Pantas apa Om?"


"Kamu terasa masih kencang dan....nikmat sekali!"


Kata Om Pras sambil tersenyum nakal.


"Maaf...maaf...ayo kita makan dulu..."


Vanessa yang merasa jijik akhirnya makan dengan malas-malasan.


"Apa Om punya istri?"


"Ya, saya punya istri dan anak-anak..."


"Apa Om tidak mencintai keluarga Om?"


"Tentu saja? saya sangat mencintai mereka dan saya bekerja keras untuk mereka.."


"Lalu kenapa Om melakukan hal semacam ini?"


"Saya laki-laki, saya bekerja keras dan punya segalanya. Saya mencintai istri saya, tapi saya punya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh satu wanita. Saya tidak mau menduakannya, jadi saya memilih kamu, pelampiasan yang aman untuk sementara..."


Entah mengapa hati Vanessa terasa sakit. Bahkan bagi lelaki tua di depannya dirinya hanyalah pelampiasan n*fsu.


"Maaf kalau kamu tersinggung dengan kata-kata saya..."


"Om serakah!"


"Memang, dan kamu masih terlalu kecil untuk mengerti dunia!"


Beberapa saat Om Pras sibuk dengan ponselnya.


"Maaf saya pergi duluan, ada urusan pekerjaan yang harus saya selesaikan. Kamu, habiskan makananmu dan pulanglah nanti...lain kali ketemu lagi ya..."


Om Pras meninggalkan sebuah amplop tebal di meja sebelum kemudian benar-benar pergi.


Sementara Vanessa masih terpaku, mencoba mencerna apa yang baru saja di dengarnya.


Apa dunia memang sekejam ini? Apa sudah tidak ada laki-laki yang hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya? Dan Vanessa semakin merasa takut untuk jatuh cinta.