Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 87



Pamela memilih sebuah restoran outdoor dengan konsep romantis sebagai tempat birthday dinnernya bersama Mommy dan Daddy. Sebuah restoran dengan taman luas dan kolam-kolam berhiaskan lampu-lampu sebesar bola pimpong berwarna kekuningan yang terlihat amat manis di malam hari. Pamela dan Daddy Zein sudah melakukan reservasi dengan memilih tempat di taman tersembunyi berhiaskan kolam kecil agar privasi mereka terjaga.


Seperti biasa Zein menjemput Luna dan Pamela dirumahnya lalu mereka pergi bersama-sama. Sepanjang perjalanan hanya suara musik yang terdengar, sebab baik Luna maupun Zein merasa canggung untuk memulai percakapan. Sedang Pamela sendiri entah mengapa justru bingung mau bicara apa saat berada diantara kedua orang tuanya. Meski begitu Pamela merasa sangat bahagia, sebab ini akan jadi kali pertama dirinya merayakan ulang tahun bersama kedua orang tua kandungnya.


Setelah perjalanan yang penuh kecanggungan, akhirnya sampai juga mereka ke tempat yang dituju. Beberapa saat setelah mereka duduk, beberapa pelayan datang dengan membawa cake beserta lilinnya sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Pamela. Sebuah sambutan manis yang langsung meluluhkan suasana canggung diantara mereka. Bergantian Luna dan Zein mencium Pamela dan memberi ucapan selamat untuk putrinya tercinta. Setelah lilin ditiup dan Pamela mengucapkan terimakasih, para pelayan segera pergi untuk memberi ruang privasi bagi tamunya itu.


"Makasih Mommy, Daddy, aku bahagia sekali akhirnya bisa merayakan ulang tahun sama kalian, the best gift I ever had..."


Pamela lalu balas mencium Mommy dan Daddy bergantian. Tanpa terasa air mata haru mengalir di pipinya.


Luna mengambil tissu dan membantu mengusap air mata Pamela.


"Jangan menangis sayang, ini kan hari bahagiamu, ayo cepat potong kuenya! Sepertinya sangat lezat. Aku sudah memutuskan untuk membatalkan dietku hari ini, kau benar-benar harus menjamuku dengan makanan yang lezat!"


Kata-kata Luna sontak membuat mereka tertawa. Dan Pamela pun mulai memotong kuenya, lalu menyerahkan potongan pertama untuk Mommy.


"Ini untuk Mommy ku tersayang, Mommy terbaik yang telah berjuang membesarkanku dan paling mengerti diriku..."


Luna membuka mulut lebar-lebar dan satu suapan besar berhasil mendarat ke mulutnya. Rasa manis dan lembut terasa lumer di mulut. Meski Luna sudah sering menyantap cake mahal, tapi kue ini terasa amat nikmat dan istimewa.


Kemudian Pamela mengambil potongan ke dua untuk Daddy.


"Ini untuk Daddy tersayang, Daddy ku yang keren dan baik hati.


Zein menerimanya dengan amat terharu hingga matanya berkaca-kaca. Akhirnya setelah sekian lama dia bisa bertemu putrinya dan diterima dengan baik.


"Terimakasih sayang, kau benar-benar anak yang manis. Mommy mu pasti mendidikmu dengan sangat baik..."


Luna sedikit tersipu mendengarnya, namun mengalihkannya dengan sibuk menyantap cake.


"Jangan banyak-banyak Mommy, kita akan membawa cake nya pulang nanti. Sekarang lebih baik kita menyantap hidangan utamanya saja. Aku sudah pesan banyak, sayang kalau tidak dihabiskan..."


Tak berselang lama pelayan mulai berdatangan mengantarkan pesanan. Restoran ini terkenal dengan menu seafood yang segar dan lezat. Pamela memesan udang bakar, cumi saus tiram dan ikan goreng tepung, juga beberapa sayuran pelengkap. Satu persatu hidangan datang memenuhi meja mereka. Semua terlihat hangat dan sangat menggoda selera. Saatnya berpesta!


Sekarang mereka mulai sibuk mengambil nasi hangat beserta lauk pauknya. Tidak lupa meneguk minuman dingin yang juga nikmat. Pamela menyelesaikan makannya lebih cepat dan saat melihat Mommy dan Daddy juga hampir selesai, Pamela pamit untuk pergi kamar mandi. Tinggalah Luna dan Zein berdua saja dengan posisi duduk saling berhadapan. Tak bisa dipungkiri suasana kembali canggung dan keduanya sama-sama tingkah. Luna selesai lebih dulu dan pergi untul mencuci tangan. Lalu Zein mengikutinya dan mereka berdua kembali ke tempat duduk bersama-sama.


Gerutu Luna yang mulai kikuk. Zein hanya tersenyum.


Tak lama kemudian Zein mengambil sesuatu dari dalam jasnya dan menyerahkannya pada Luna.


"Ini untukmu..."


Setangkai mawar merah yang masih segar.


"Untuk apa?"


"Bisakah kita memulai lagi?"


"Hm?"


"Hubungan kita. Aku rasa akan menyenangkan kalau kita berkumpul utuh seperti ini, apa kau juga merasakannya?"


"Apa maksudmu?"


"Aku rasa Pamela akan senang kalau kita bisa bersama-sama menjadi orang tuanya..."


"Maaf, aku rasa aku tidak sependapat. Lebih baik kita tetap seperti ini. Sesekali kita bisa berkumpul jika Pamela menginginkannya..."


Beberapa saat hening. Sampai kemudian Pamela kembali dari kamar mandi dan merasakan ketegangan yang terjadi.


"Apa yang kamu lakukan dinkamar mandi? kenapa lama sekali?"


Luna bertanya dengan nada kesal.


"Maaf Mommy perutku mulas, sepertinya aku terlaku banyak makan..."


Luna kemudian mengajak Pamela pulang dengan taksi online dan menolak untuk diantarkan Daddy Zein. Deddy Zein sempat membujuk Mommy agar mau diantar pulang, tapi percuma, Mommy tetap keras kepala. Jadilah malam yang indah itu harus berakhir dengan tidak mengenakkan.