Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 93



Zein pulang ke apartemennya dengan tubuh yang lelah namun hatinya dipenuhi bunga-bunga. Zein tidak menyangka bahwa Luna akan memberinya kabar secepat ini dengan jawaban yang paling menggembirakan. Padahal sebelumnya Zein sama sekali tidak percaya diri. Luna memang selalu bersikap baik dan sopan, tapi disisi lain Zein juga sadar kalau Luna selalu menjaga jarak dan hanya bicara seperlunya saja pada dirinya. Berbeda dari Luna yang dikenalnya dulu, yang sangat ekspresif, lepas, dan ceria. Zein bisa memaklumi sikap dingin Luna karena posisi mereka. Jadi saat melamar Luna kemarin, Zein sebenarnya tidak terlalu banyak berharap. Bagi Zein yang terpenting adalah mengungkapkan apa yang menjadi niatnya agar segalanya menjadi jelas, dan dia bisa mengambil langkah yang tepat. Dan kini Zein benar-benar merasa bersyukur. Seolah dirinya menemukan tujuan baru untuk berjuang mengarungi hidup yang keras. Berbagai rencana indah mulai memenuhi kepalanya. Jadi sekarang, apa yang harus dia lakukan? Membeli cincin, membeli rumah, mencari wedding orginizer terbaik? Lalu, siapa saja yang harus dihubungi untuk menemaninya di momen-momen pentingnya nanti? Haruskan dia menghubungi keluarga dari Ibu dan Ayahnya. Tidak mungkin kan kalau dia datang sendirian ke rumah Luna?


Zein tak bisa memejamkan matanya meskipun tubuhnya amat lelah. Pikirannya dipenuhi bayangan sosok Luna, padahal belum lama mereka berpisah. Mau menghubungi, tapi ragu-ragu, terlebih dia takut menganggu. Dan hatinya menjadi gelisah tak menentu. Maklum saja, sudah lama sekali Zein tidak berhubungan dengan wanita. Atau lebih tepatnya, sudah lama Zein tak pernah tertarik untuk menjalin hubungan. Dan biasanya wanita-wanita yang mencoba mendekati dan menarik perhatiannya dia acuhkan begitu saja. Dan kini keadaannya justru berbalik.


Zein memutuskan mengirim pesan berisi ucapan selamat malam dan selamat tidur. Namun Luna tidak kunjung membalas pesannya. Mungkin Luna sudah tidur atau memang tak berniat untuk membalasnya. Ternyata meski memutuskan untuk menerima lamarannya, Luna masih saja bersikap dingin. Sudahlah, dia hanya bisa pasrah.


Zein lalu teringat seseorang yang mungkin bisa dihubunginya. Tanpa berfikir panjang Zein melakukan panggilan video.


"Selamat malam Dad, ada apa menghubungiku malam-malam begini?"


"Hmm, Pamela, apa Mommy mu ada dirumah?"


"Wah...wah...ada yang sedang kasmaran rupanya? Jadi sekarang Daddy menelponku malam-malam begini hanya untuk menanyakan Mommy?"


"Bukan begitu sayang, aku juga ingin bicara padamu, dan kenapa kau belum tidur?"


"Ada tugas yang harus kukerjakan Dad..."


"Oh, begitu ya? Apa aku mengganggumu?"


"Tidak, aku baru saja selesai kok..."


"Jadi, apa Mommy mu ada di rumah?"


"Daddy sudah menanyakan tadi..."


"Tapi kamu belum menjawabnya..."


"Baiklah, Daddy ku yang sedang bucin akut, Mommy tadi sudah pulang sebentar lalu pergi lagi, ada urusan penting dengan management katanya..."


"Yah, bisa dibilang begitu. Jam kerja Mommy tidak menentu Dad, bisa pulang sampai larut malam atau dini hari, atau bahkan sampai berhari-hari tidak pulang. Tapi terkadang juga Mommy sangat santai kalau sedang tidak ada job yang diambil...."


"Oh baiklah kalau begitu, aku mengerti..."


"Ada lagi yang ingin Daddy tanyakan tentang Mommy? aku sudah ngantuk..."


"Oh tidak sudah cukup, lagi pula aku bisa tanya sendiri..."


"Ya sudah kalau begitu..."


"Eh, jangan ditutup dulu teleponnya, aku masih butuh bantuanmu..."


"Apa lagi Dad?"


"Besok, bisakah kau menemaniku berbelanja?"


"Berbelanja?"


"Iya berbelanja, kau juga boleh membeli apapun yang kau inginkan nanti, aku akan menjemputmu sepulang kuliah, bagaimana?"


"Hmmm, tawaran yang cukup menggiurkan. Baillah Dad, aku akan menemanimu besok...Apa masih ada lagi?"


"Tidak, tidurlah setelah ini, sampai jumpa besok...dah sayang...."


"Dah Daddy..."


Setelah bicara dengan Pamela di telepo barulah Zein.merasa lebih tenang hingga akhirny tertidur puas.