
Sudah dua hari Vanessa tidak datang ke sekolah tanpa kabar dan keterangan. Pamela sudah beberapa kali mencoba menghubungi sahabatnya itu, tapi ponsel Vanessa tidak aktif. Dan dia mulai merasa khawatir.
Ada apa dengan anak itu? Apa ada kejadian buruk yang menimpanya?
Berbagai pertanyaan memenuhi benak Pamela tentang keberadaan sahabatnya. Dan dia juga mulai merasa sepi berada di sekolah sendiri. Yah, meski banyak teman lain yang mendekatinya, tapi sekolah jadi tak sama tanpa keberadaan Vanessa.
Jadi sepulang dari sekolah nanti, Pamela berniat untuk mengunjungi Vanessa di rumahnya.
Sore itu, rumah Vanessa tampak lengang. Pasti karena Ibunya Vanessa masih sibuk di warungnya. Pamela mengetuk pintu yang kemudian langsung dibukakan oleh Vanessa.
"Gila! Gue pikir lo dimana? Ngapain sampai hp mati segala?"
Namun setelah mengamati sahabatnya lebih seksama, Pamela menyadari sesuatu. Wajah Vanessa pucat dengan rambut berantakan dan mata memerah.
"Kenapa lo?"
Tanya Pamela sekali lagi sambil menabrak tubuh Vanessa, memeluknya erat-erat.
"Ceritanya panjang Mel!"
"Sepanjang apa? Pokoknya gue mau denger selengkap-lengkapnya, kalau perlu gue bakal nginep disini buat dengerin cerita lo!"
"Masuk dulu yuk Mel!"
"Ok"
Dan Vanessa pun menarik tangan Pamela berjalan menuju kamarnya.
"Lo kenapa? Kenapa main ngilang aja nggak bilang-bilang!"
Tanya Pamela tidak sabar.
"Om Pras kena serangan jantung Mel, waktu kita lagi di hotel, dan bodohnya gue malah nelpon isterinya, akhirnya gue ketahuan deh!"
"Astaga! Serius Mel? Terus lo diapain aja sama isterinya Om Pras?"
"Untungnya gue nggak diapa-apain Mel, dan surprisingly, isterinya baik banget Mel! Bahkan dia sampai ngasih gue uang sebanyak yang dijanjiin Om Pras, gue jadi merasa bersalah banget Mel..."
"Wah, bagus donk kayak gitu, lo jadi nggak perlu nglakuin pekerjaan haram ini lagi dan cita-cita lo bisa terwujud!"
"Yah, maybe, tapi sepertinya gue harus kena karma dulu Mel sebelum itu semua tercapai..."
"Emang gue beruntung banget karena isteri Om Pras nggak ngapa-ngapain gue, tapi ada orang yang ngancam gue dengan ngirim video waktu gue keluar hotel bareng Om Pras..."
"Waduh, siapa orangnya yang berani kayak gitu Nes?"
"Yah kalau gue tahu mungkin gue nggak stres begini Mel! Gue sebenarnya juga udah pasrah, kalaupun mau dihujat orang se-nusantara, tapi gue nggak mau nyokap gue sampai tahu dan kecewa sama gue Mel!"
"Sini lihat handphone lo!"
Vanessa pun menunjukkan pesan ancaman berikut video yang dimaksud.
"Apa ada yang dia minta sama lo?"
"Iya, dia minta sejumlah uang tebusan Mel!"
"Kalau gitu gampang dong, tinggal kita kasih aja sejumlah yang dia minta, selesai!"
"Tapi dia minta banyak banget Mel, sejumlah uang yang dikasih istrinya Om Pras, kebagian apa donk gue? Lagian kalau udah dikasih, bisa aja dia ngancam lagi dan minta lebih? "
"Iya juga sih, yang jelas langkah pertama kita harus tahu dulu siapa orangnya! Tapi kalau dilihat dari videonya sih, itu kan waktu diluar hotel, sama sekali tidak mengindikasikan ke mes uman, bisa aja lo ngaku itu Om lo atau memang ada urusan bisnis!"
"Tapi kan tetep Om Pras itu pria beristri, dan zaman sekarang orang bakal lebih percaya sama berita skandal Mel! Lagian gue emang baby-nya bukan sodara apalagi klien bisnis, siapa yang bakal percaya sama klarifikasi boongan gue nanti?"
"Iya juga sih Nes, gimana kalau nanti gue minta tolong Daddy gue dulu?"
"Emangnya bisa? Btw, emang lo udah sedeket itu ya sama Daddy lo sampek bisa minta tolong beginian segala?"
"Nggak tahu juga sih, nanti kita coba aja ya! Yang jelas Daddy gue baik Nes, dan mungkin aja dia punya orang yang bisa melacak peneror lo itu!"
"Ok lah Mel, gue pasrah aja sama lo. Btw, makasih banyak ya sebelumnya, lo emang sahabat gue yang paling baik!"
"Sip, tapi besok lo harus berangkat sekolah ya? Gue udah mati gaya nih di sekolah nggak ada lo!"
"Haha, jadi sepenting itu ya arti kehadiran gue buat lo? Oke deh"
"Nggak usah ge er! Gue pulang dulu ya, nanti nenek gue ngomel-ngomel lagi...dah!"
Dan Pamela pun akhirnya pulang dengan membawa sejumlah rencana di kepalanya.