Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 103



Luna terbangun dan mendapati Zein tengah menatapnya dalam-dalam dari jarak yang cukup dekat. Luna tentu terkejut dan reflek mendorong tubuh Zein agar menjauh darinya.


"Aduh..."


Gerutu Zein yang juga terkejut dengan reaksi Luna.


"Apa yang kau lakukan, kau tidak tidur?"


"Bagaimana bisa aku tidur sementara disampingku ada bidadari? Kau galak sekali, sekarang aku suamimu, bersikaplah sedikit manis!"


Kali ini Zein pura-pura merajuk.


"Maaf, aku hanya belum terbiasa Mas..."


Luna mengucapkannya dengan kaku.


"Hahaha, baiklah dik, begitu terdengar lebih manis, ternyata kau sangat menggemaskan kalau malu-malu begini!"


"Hahaha..."


Sekarang gantian Luna yang tertawa cukup keras.


"Kenapa terdengar lucu ya?"


"Sudahlah jangan tertawa, kita harus membiasakan diri, sini sayang jangan jauh-jauh...."


Zein menarik pinggang Luna, agar tubuh mereka saling merapat. Luna menurut meski masih saja kaku.


"Kau tidur begitu saja tanpa mendengarkanku..."


"Maaf..."


"Sekarang aku sudah jadi suamimu, jadi aku berhak menghukummu bukan?"


Tanpa aba-aba Zein mengecup bibir Luna sekilas.


"Itu hukuman karena kau tidak mendengarkanku..."


Luna kaget dan tersipu, tapi kemudian Luna tersenyum jahil dan menggoda.


"Kalau begitu aku ingin lebih sering dihukum!"


"Kau berani menantangku? Baiklah...."


Zein mendaratkan kecupan ringan bertubi-tubi di wajah dan leher Luna. Membuat Luna tertawa karena geli. Namun tiba-tiba Zein menghentikan aksinya.


"Luna, bisa kita memulainya sekarang?"


Tanya Zein dengan wajah nakal.


"Memulai apa?"


Kali ini Luna tidak ingin terjebak.


"Luna, sebenarnya banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, tapi aku tidak berani karena sikapmu selalu dingin. Tapi sekarang kau sudah jadi isteriku..."


"Aku ingin minta maaf padamu, karena dulu aku telah merampas milikmu sebelum waktunya dan membuat semuanya berantakan...."


"Sudahlah, itu sudah berlalu, aku sudah memaafkanmu..."


"Luna, aku ingin kau percaya bahwa aku tidak pernah berniat meninggalkanmu waktu itu, aku hanya..."


Zein bicara dengan nada tercekat, terlihat sungguh-sungguh menyesali masa lalu mereka. Tapi Luna tak ingin mendengar Zein terlalu banyak banyak bicara. Luna lalu mengunci mulut Zein dengan bibirnya. Zein terkejut, tapi kemudian membalas ciuman Luna. Dalam sekejap ciuman itu berubah menjadi panas. Zein seperti hilang kendali dan mulai menelusuri setiap jengkal tubuh Luna dengan bibirnya. Tangannya mulai membuka tali jubah Luna hingga terpampang pemandangan yang sungguh indah. Belahan dad# Luna menyembul sempurna, putih dan menggoda. Zein pun tak bisa menahan untuk melahapnya.


Luna hanya pasrah sambil mengelus kepala Zein yang sedang menikmati dad#nya seperti mengelus kucing yang kelaparan.


"Jadi, bisa kita mulai sekarang?"


Zein tersenyum menggoda sambil menatap Luna.


"Mulai apa?"


Zein mengarahkan tangannya ke daerah sensitif Luna, tapi seketika tangan Luna menahannya untuk bermain lebih jauh.


"Maaf, aku sedang berhalangan..."


Zein terlihat kecewa, tapi tetap berusaha tersenyum.


"Ya sudah, kita begini saja..."


Kata Zein akhirnya sambil memeluk erat Luna. Beberapa saat mereka hanya diam sambil saling mendekap. Suasana berubah hening dan amat syahdu. Luna merasa hangat dan nyaman disana. Seolah tidak ingin beranjak selamanya.


"Apa kau ingin keluar? Pemandangan di luar pasti sangat indah..."


"Hmm, sebentar lagi..."


Luna semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayo kita keluar..."


Kata Luna setelah merasa cukup.


Zein membenahi pakaian Luna, lalu mengambil bajunya sendiri dan memakainya. Setelah itu Zein membimbing Luna keluar. Zein membukakan pintu belakang dan pemandangan kolam renang berlatar bukit langsung menyambut mereka. Lampu kuning yang berpendar temaram melengkapi keindahan tempat itu.


"Wow, indah sekali disini..."


Luna menatap takjub pemandangan di depannya. Meski sudah sering mengunjungi tempat-tempat indah, tapi menikmatinya bersana orang tercinta terasa berbeda.


"Biar aku pesankan kopi..."


Zein menelpon layanan kamar untuk memesan kopi dan camilan. Mereka menikmati pemandangan malam di tepi kolam sambil menikmati kopi dan makanan kecil. Setelah itu mereka mencoba duduk diatas pelampung besar berbentuk angsa putih, dari tepi kolam pemandangan bukit dan kota terlihat amat indah dengan sorot lampu kota. Mereka berada disana sambil bercengkrama hingga malam beranjak larut.


"Kayaknya aneh kalau tiba-tiba aku panggil kamu Mas, apa ya? kayak bukan gaya kita..."


"Haha, kan kamu sendiri yang panggil begitu...gimana kalau panggil sayang aja kayak waktu pacaran dulu, biar berasa pacaran terus..."


"Hmm...boleh sayang..."


Kata Luna sambil tersenyum menggoda. Sampai menjelang dini hari, baru mereka masuk ke dalam kamar dan tidur dengan saling berpelukan.