
Luna tidak pernah berniat menyembunyikan kehadiran Pamela dalam hidupnya. Tapi sebagai seorang Ibu, Luna mencoba bersikap bijaksana. Luna tahu, Pamela kurang nyaman dengan publikasi dan segala pemberitaan miring tentang kehadirannya. Karena itulah Luna jarang sekali memasang foto kebersamaannya dengan Pamela. Hanya ada beberapa foto bersama seluruh keluarga dengan Pamela terselip diantaranya. Itu pun adalah foto yang diambil dari jarak lumayan jauh sehingga wajah Pamela tidak terlihat jelas. Dan Luna tidak pernah menandai Pamela di akun sosial media. Namun hal itu ternyata juga memancing pemberitaan miring yang lain, bahwa Luna sengaja menyembunyikan keberadaan Pamela dan malu untuk mengenalkan anak 'haram'nya itu di depan media. Sudahlah, Luna sudah terlalu terbiasa dengan berbagai pemberitaan buruk tentang dirinya dan memilih untuk mengabaikannya.
Namun ternyata sikap tertutup Luna dan Pamela, justru memancing rasa penasaran publik yang lebih besar. Hingga akun sosial media Pamela, dibanjiri banyak pengikut yang penasaran akan sosok dan kehidupannya. Namun alih-alih memanfaatkan popularitas yang dimilikinya, Pamela justru mengunci akunnya dan menyeleksi orang-orang yang ingin berinteraksi dengannya di sosial media. Karena hal itu orang-orang menganggap Pamela sombong dan jual mahal. Dan kembali cibiran yang diterimanya dikaitkan dengan keberadaannya sebagai anak haram. Bahkan saat management yang menaungi Luna menawari Pamela untuk bergabung menjadi artisnya, tanpa berfikir dua kali Pamela langsung menolaknya. Dan Luna pun menghormati keputusan putrinya.
Pamela lebih nyaman menjalani kehidupannya sebagai remaja biasa dengan sekolah dan bermain sewajarnya. Tapi bukan berarti Pamela tidak punya mimpi. Orang-orang menganggapnya bodoh karena melewatkan banyak kesempatan untuk terkenal dan menjadi idola. Tapi bukan itu yang diinginkan Pamela. Bahkan Pamela cenderung memiliki trauma karena melihat kehidupan Momny dari dekat tak seindah yang dibayangkan orang-orang. Pamela sering melihat mata Mommy bengkak habis menangis. Wajah pucat kelelahan hingga Mommy yang sering mengkonsumsi obat tidur. Dan Pamela tidak ingin hidup seperti Mommy.
Pamela sadar prestasinya di bidang akademik tidaklah terlalu cemerlang. Tapi Pamela memiliki minat dan bakat di bidang fashion design. Beberapa kali Pamela menunjukkan gambar design baju yang diinginkannya pada designer langganan Mommy dan designer itu malah memujinya.
"Sepertinya suatu saat kamu bisa jadi designer hebat melebihi saya..."
Begitu katanya. Tapi Pamela merasa pujian itu berlebihan. Hanya sebatas kata-kata manis yang diucapkan penjual untuk membangun hubungan baik dengan pelanggannya. Tapi tak bisa dipungkiri Pamela merasa senang mendengarnya. Dan hal itu membuatnya sedikit percaya diri untuk mulai mewujudkan impiannya. Impiannya tidak lah muluk. Pamela ingin mendesign baju anak yang lucu dengan bahan yang nyaman, lalu memproduksinya dalam jumlah besar agar bisa dijual dengan harga murah dan terjangkau untuk semua kalangan. Mungkin Pamela bisa memasarkannya lewat berbagai marketplace, jadi tidak perlu repot membuka gerai. Zaman sekarang banyak toko online yang berkembang pesat dengan penjualan yang tinggi. Pamela tidak terlalu terobsesi dengan uang karena sedari kecil sudah terbiasa disodori dengan materi. Bahkan kelak, jika harus hidup dalam tingkat ekonomi menengah, rasanya Pamela tidak keberatan asal segalanya tercukupi. Justru Pamela sering penasaran dan ingin mencoba hidup seperti orang kebanyakan. Mungkin karena hal itu juga Pamela nyaman berteman dengan Vanessa. Pamela merasa menginap dirumah Vanessa yang sederhana tidaklah buruk. Pamela merasa nyaman dengan keramahan dan perhatian yang diberikan Ibu Vanessa.
Bagi Pamela yang lebih penting kelak adalah bisa membangun keluarga kecil yang bahagia. Meskipun impian kecilnya ini kini terasa abu-abu. Sebab hubungannya dengan Kak Rayhan kian tak menentu. Hingga akhirnya Pamela menetapkan sebuah keputusan yang amat berat.
Setelah berhari-hari menunggu akhirnya Kak Rayhan datang juga menemuinya. Kak Rayhan meminta maaf dan menceritakan pertemuannya dengan Nadia.
Pamela bisa mengerti dan tidak mempermasahkan tentang Nadia, tapi entah mengapa semua terasa hambar. Pamela terlalu lelah menunggu. Sikap Kak Rayhan yang terkesan tidak seius dan mebiarkan Pamela menunggu membuat Pamela kesal.
"Jangan, maafin aku...aku janji setelah ini akan berusaha lebih baik untuk kamu..."
Pamela menggeleng lemah.
"Kita butuh waktu buat menyelesaikan urusan kita masing-masing Kak, kita belum bisa sama-sama sekarang..."
"Pamela, aku benar-benar minta maaf..."
Tapi kata maaf rasanya tidak cukup.
"Kalau Kakak benar-benar minta maaf tolong sekarang Kakak pergi dari hidup aku!"
Pamela masuk dan menutup pintu rumahnya. Meninggalkan Rayhan yang masih berdiri mematung. Pamela memikirkan saran Vanessa untuk lebih memikirkan impian dan masa depan dari pada menghabiskan waktu untuk orang yang salah. Yah, mungkin Kak Rayhan hanya orang yang salah yang hinggap untuk memberi warna di hidupnya yang datar. Dan sekarang Pamela merasa semuanya sudah cukup. Sekarang waktunya berjuang untuk dirinya sendiri. Meski uang Mommy banyak, tapi Pamela juga ingin segera bisa mandiri agar tidak selalu bergantung pada bayang-bayang nama besar dan kesuksesan Mommy.