Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 36



Entah mengapa belakangan ini Zein merasa gusar. Sudah satu jam lebih dirinya hanya mondar mandir memutari meja kerjanya. Dilihatnya satu per satu dokumen yang tergeletak di mejanya, namun tak ada satu pun yang menarik minatnya. Ah, biarlah, hanya laporan harian, Hartono nanti pasti bisa mengurusnya. Sekarang kepalanya terasa pening, sepertinya dia butuh rileks sebentar. Jadilah pagi itu Zein memilih untuk turun ke coffe shop yang ada di bagian bawah gedung. Memesan secangkir double espresso dan menikmatinya sendiri. Rasanya pahit. Mungkin sepahit kisah cintanya yang masih harus melajang di usia empat puluhan.


Lalu berkali-kali Zein menatap layar ponselnya dan memandangi satu nama yang tertera disana. Pamela. Ah, gadis kecil itu! Kenapa dirinya jadi bodoh begini? Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tentang pertemuan terakhirnya dengan gadis itu. Pertemuan yang terasa suram dan menakutkan. Apakah Pamela jadi takut padanya dan membencinya? Dia masih sangat ingat wajah sedih Pamela. Wajah sedih yang ternyata karena patah hati. Dan Zein sama sekali tidak terima saat ada lelaki lain yang menyakiti gadisnya. Tidak! Dia hanyalah milikku! Tidak akan kubiarkan ada lelaki lain yang coba menjamahnya. Begitu kata ego yang muncul begitu saja di benaknya, hingga tanpa sadar membentak Pamela. Tapi setelah itu yang ada Pamela justru ketakutan. Hingga akhirnya mereka berpisah dengan suasana yang Dingin. Dan Zein tidak suka seperti itu. Gadis kecilnya yang manis kini jadi takut padanya. Apa dia telah bicara terlalu keras? Tidak, dia tidak ingin Pamela takut padanya apalagi membencinya. Maka akhirnya Zein memutuskan untuk menghubunginya.


Hey Baby, apa kabar? Apa kau masih marah padaku?


Hey Daddy, aku baik. Dan aku tidak marah. Kenapa kau bisa mengira begitu?


Kau terlihat takut saat terakhir kita bertemu, aku tidak ingin kau salah paham dan membenciku..


Aku tidak membemcimu Daddy, bagaimana bisa aku membenci orang sebaik kamu?


Zein akhirnya merasa lega, karena Pamela tidak membencinya. Tapi itu tidaklah cukup. Zein ingin bertemu gadis kecilnya segera.


Baby, apa kau masih patah hati?


Aku sudah lebih baik Daddy, jangan khawatir


Bisa kita bertemu nanti malam?


Tidak bisa, Aku sedang banyak tugas dan akan ujian. Mungkin kita bisa bertemu akhir pekan. Maaf!


Bagus anak manis, kamu harus sekolah dan belajar yang rajin, baiklah, sampai bertemu akhir pekan nanti!


Baiklah, nampaknya Zein harus bersabar sedikit lagi.


Dan akhirnya pertemuan yang ditunggunya tiba juga. Kali ini Pamela meminta bertemu di sebuah restoran AYCE yang baru buka. Pamela sedang ingin makan banyak dan mencoba menu-menu ala korea yang kekinian itu. Dan seperti biasa, Daddy Zein selalu bisa diandalkan untuk memenuhi keinginannya.


"Tentu saja, aku sedang senang Daddy..."


"Apa yang membuatmu senang?"


"Tidak ada, tidak ada yang harus membuatku senang, aku bahagia dengan diriku sendiri, itu saja!"


"Jadi sudah tidak patah hati lagi?"


"Tidak lagi! Untuk apa?"


Pamela memilih untuk menyimpan rapat-rapat ceritanya dan tidak ingin melibatkan Daddy Zein. Sikap Daddy Zein kemarin cukup untuk membuatnya berhati-hati.


"Baguslah, menyingkirlah jauh-jauh dari lelaki yang coba merayumu, mereka hanya akan menyakitimu!"


"Kau juga laki-laki, apa kau juga akan menyakitiku?"


"Tidak, aku berbeda dari mereka, aku janji tidak akan pernah menyakitimu!"


"Baiklah, aku pegang ucapanmu Daddy!"


"Janji!"


Lalu mereka saling menautkan jari kelingking. Selebihnya acara makan malam mereka diisi dengan obrolan ringan. Tentu saja Pamela tak ingin menyia-nyiakam kesempatan untuk mencoba berbagai jenis makanan yang terluhat amat menggiurkan itu.


Daddy Zein senang, Pamela sudah kembali ceria. Tapi sebenarnya dia juga penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya pada Pamela dan siapa lelaki yang berani membuat gadisnya sedih kemarin. Tapi Daddy Zein memilih menahan diri untuk bertanya, sebab dia tidak ingin merusak suasana hangat dan akrab yang tejalin malam itu.