Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 69



"Tidak perlu, sebaiknya anda pergi sekarang juga, saya sedang ingin menghabiskan waktu dengan pacar saya, urusan bisnis bisa lain kali..."


"Baiklah Pak Zein, saya pamit dulu, saya pasti usahakan agar investasi Bapak tetap menguntungkan..."


Pak Ahmad mengemasi tasnya, kemudian pergi dengan tergesa. Luna sempat melirik dengan tatapan sinis, lalu pandangannya beralih pada Zein.


"Kamu tidak perlu melakukan sandiwara murahan seperti itu, aku bisa menjaga diri sendiri..."


"Haha, apa hal semacam ini sering terjadi?"


"Lumayan, bisa dibilang ini bagian dari resiko pekerjaan..."


"Kalau begitu sebaiknya kamu segera punya pacar, atau menikah lebih baik..."


"Hahaha"


Luna tertawa sinis.


"Maaf, tapi apa benar kamu tidak punya pacar?"


Tanya Zein, benar-benar penasaran.


"Itu bukan urusan kamu"


"Kamu sendiri, mengapa belum menikah? Malah cari cabe-cabean segala, ha?"


"Oh, itu saran dari teman sebenarnya dan itu pertama kalinya buatku, eh malah ketemu anak sendiri. Apa namanya coba kalau bukan takdir..."


"Zein, apa kamu masih berharap jadi Ayah untuk Pamela?"


"Tentu saja, itu yang menjadi doaku selama ini...Tapi, aku sudah mengikhlaskan. Seandainya kamu tidak mengizinkanku menemuinya lagi, aku akan terima. Semoga doa-doaku cukup untuk menjaganya...."


"Zein, temuilah Pamela dengan satu syarat..."


"Mintalah izin pada Ibuku, beliaulah yang banyak menjaga Pamela selama ini..."


"Baiklah, begitu sampai di jakarta aku akan menemui Ibumu..."


"Terimakasih, Pamela sangat penasaran dengan sosok ayah kandungnya selama ini..."


"Harusnya aku yang berterimakasih, Luna...terimakasih telah menjaga Pamela dengan sangat baik..."


Luna mengangguk dan tersenyum tulus. Lega sekali rasanya. Akhirnya dia menghadapi ketakutannya selama ini.


"Luna, menikahlah...tidak baik gadis cantik sepertimu lama-lama sendiri, pasti banyak yang menganggumu selama ini kan?"


"Haha, apa ini kalimat pujian? Siapa kamu berani bicara seperti itu?"


"Karena kamu Ibunya Pamela...aku masih peduli padamu, semoga kamu bertemu pria yang baik dan menikah..."


Kata Zein dengan tulus.


"Terimakasih, tapi sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur urusan pribadiku!"


"Ya, maaf jika aku terlalu lancang..."


Menikah. Perempuan mana yang tidak ingin menikah saat usianya sudah cukup. Hidup tentram bersama seorang pria impian dan membangun keluarga kecil yang bahagia. Luna pun memiliki impian sederhana itu. Apalagi sebagai wanita dewasa yang pernah merasakan manisnya madu asmara, terkadang hasratnya terasa tak terbentung. Namun entah mengapa, meski memiliki wajah yang cantik dan cukup mapan dalam urusan finansial, tak lantas membuat Luna beruntung soal urusan asmara.


Berkali-kali mencoba membuka diri, tapi yang di dapatkan Luna selalu luka dan kegagalan.Rasanya susah sekali menemukan laki-laki yang tulus padanya. Selepas dari kisah asmaranya dengan Zein yang berakhir tragis, Luna membutuhkan waktu beberapa tahun untuk memulihkan perasaannya dan membuka hati untuk pria lain. Namun pria-pria yang datang di dalam hidupnya justru memberikan luka lain di dalam hatinya hingga akhirnya Luna mati rasa. Luna mencoba berfikir rasional. Selama ini ada dua jenis pria yang coba mendekatinya. Brondong atau pria muda tampan yang mendekatinya untuk memdapatkan popularitas dan mengeruk uangnya. Atau konglomerat yang memandang dirinya seperti seorang pelac*r yang dengan mudah bisa dibeli dengan uang dan hadiah-hadiah mahal. Dan Luna benci dengan keduanya.


Terkadang Luna bertanya dalam hati, apa dirinya tidak pantas untuk bahagia? Atau mungkin itu adalah hukuman dari Tuhan karena dirinya pernah melakukan dosa besar. Entahlah. Luna hanya bisa bersabar, berdamai dengan hidup dan menerima nasibnya. Profesinya sebagai biduan memang kerap membuat orang-orang memandangnya dengan sebelah mata. Di tambah lagi aib masa lalunya yang mempuanyai anak tanpa seorang suami membuat orang-orang menilaikan sebagai perempuan murahan. Tapi sudahlah, Luna tak mau ambil peduli. Baginya hidupnya sudah cukup dengan Pamela dan keluarganya. Luna berusaha sebaik mungkin demi kebahagian dan kesejahteraan mereka. Masalah jodoh, Luna sudah pasrah. Lagipula, untuk apa memaksakan diri menghabiskan waktu dengan orang yang salah?


Karena itu Luna bisa bersikap lebih santai sekarang. Menjalani hidupnya dengan bahagia meski tanpa pasangan. Sesekali masih ada saja lelaki yang menganggunya. Tapi Luna masih bisa menanganinya. Zaman sekarang perempuan juga bisa membela dan menjaga dirinya sendiri. Banyak cara yang bisa dilakukan tanpa harus bergantung pada laki-laki.


Setelah selesai menghabiskan kopi dan cake nya, Luna langsung berpamitan pada Zein dan pergi ke kamarnya. Dia sudah merasa terlalu lelah dan benar-benar butuh istirahat. Lagipula tak ada hal penting lain yang perlu dibahas. Luna tak ingin terlalu jauh terlibat dengan pria yang telah menjadi masa lalunya itu.