
Di luar ruangan, Pamela menunggu dengan tegang sambil terus merapalkan doa-doa. Sejujurnya, perasaan Pamela begitu campur aduk saat tadi melihat Mommy kesakitan di jalan. Antara kasihan, takut, juga khawatir. Pamela ingin sekali mendampingi dan menemani Mommy masuk ke dalam, memberi semangat dan menemani Mommy melewati saat terberatnya. Tapi perawat tak memperbolehkannya ikut serta. Maka jadilah sekarang Pamela hanya bisa menunggu di luar sambil menatap pintu. Pikirannya terus melayang mengingat Mommy. Mommy-nya yang kuat dan mandiri tadi tampak begitu lemah dan kesakitan. Belum pernah Pamela menyaksikan Mommy-nya sepucat itu. Dan kemudian, yang terlintas dibenak Pamela adalah, bagaimana saat dulu Mommy melahirkannya? Pasti juga sesakit itu, bahkan lebih sakit. Apalagi menurut cerita yang samar-samar ia dengar, dulu Mommy harus berjuang seorang diri selama masa kehamilan hingga melahirkannya. Tanpa terasa air mata Pamela menetes membasahi pipinya. Ah, betapa berat perjuangan yang Mommy tempuh untuk melahirkan dan membesarkannya seorang diri. Padahal selama ini Pamela kerap merasa kecewa dan kurang diperhatikan. Betapa egois dirinya, yang justru berprasangka buruk disaat Mommy berjuang untuknya dan keluarga. Sekarang Pamela sadar, berapa besar pengorbanan yang Mommy lakukan untuknya.
Maka, saat kemudian tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan, Pamela langsung terlonjak dan mengucap syukur banyak-banyak. Rasa bahagia bercampur haru memenuhi hatinya. Akhirnya adiknya telah lahir, dan semoga adik bayi dan Mommy sehat dan selamat.
Pamela masih harus menunggu cukup lama, bahkan setelah suara tangisan bayi terdengar. Entah apa yang sedang dilakukan para dokter dan perawat di dalam. Pamela hanya bisa terus berdoa dan baru bisa bernafas lega saat pintu terbuka, lalu perawat mendorong ranjang Momny keluar, di belakangnya Daddy terlihat mendorong box bayi.
"Daddy, apa semua baik-baik saja?", tanya Pamela dengan khawatir dan tak sabar.
"Ya, tentu saja, alhamdulillah adikmu laki-laki, lahir dengan sehat dan selamat..."
Pamela mengamati sekilas bayi laki-laki di dalam box, terlihat amat kecil dan menggemaskan.
Lalu Pamela beralih menghampiri Mommy-nya.
"Mommy, apa masih sakit?"
"Hanya sedikit dan Mommy merasa sangat bahagia...", ucap Luna sambil tersenyum.
Pamela lalu menggenggam tangan Luna, sepanjang Luna didorong menuju kamar perawatan. Ingin sekali Pamela menghambur ke pelukan Luna, tapi saat ini belum memungkinkan. Dan Pamela juga khawatir kalau perut Mommy masih terasa sakit.
Di kamar perawatan, Zein terus menggendong bayi laki-laki itu dengan tatapan kagum dan penuh kebanggaan.
Sementara Pamela terus berada di samping Luna, menawarkan makanan, bantuan, atau apapun yang diperlukan Mommy-nya.
"Terimakasih sayang...", Ucap Luna dengan terharu.
Sungguh kali ini Luna merasa menjadi ratu, diperhatikan, disayang, dan dimanja.
"Aku yang harus banyak berterimakasih pada Mommy, karena telah melahirkan dan merawatku sendiri selama ini, pasti Momny melewati masa-masa yang sangat sulit kan?"
Zein mendengar dengan jelas percakapan itu dan membuat hatinya merasa tertusuk.
"Luna, sekali lagi aku minta maaf, karena dulu aku pernah membiarkanmu melewati masa-masa sulit sendirian..."
"Haha, sudah-sudah, apa-apaan kalian ini? seharusnya kita berbahagia menyambut anggota baru keluarga kita, bukan malah mengingat hal sedih begini..."
Bayi kecil itu menangis dan Zein memberikannya pada Luna untuk disusui.
"Dia tampan sekali, hidungnya mungil sepertimu dan rambutnya ikal sepertiku, kita beri nama siapa?"
"Kau Ayahnya, harusnya kau yang memberinya nama..."
"Bolehkah sayang? Hmm, kuberi nama dia Lionel Wiradinata, bagaimana?"
"Nama yang bagus dan keren Dad! Sangat cocok untuk jadi penerusmu nanti"
"Kau senang punya adik laki-laki?"
"Tentu saja, aku sangat senang, kau harus mengajarinya menjadi penerusmu sejak dini dan dengan begitu sekarang aku bisa bebas!"
"Dasar kakak yang licik, tenang saja, aku tidak pernah memaksamu dan juga tidak akan memaksanya...anak-anak Daddy berhak menentukan langkahnya sendiri dan Daddy akan selalu mendukung semampuku..."
"Hahaha.."
Mereka terus berbincang sampai tertidur kelelahan bersama Lionel kecil.