
Pamela akhirnya pulang kerumah, lalu mandi dan beristirahat sejenak. Pamela menunggu waktu malam untuk menghubungi Daddy, sebab Pamela tak ingin menganggu Daddy di jam kerjanya.
Daddy, sedang sibuk tidak? Aku ada sedikit masalah dan membutuhkan bantuanmu, bolehkah aku menelpon sekarang?
Pamela mengirimkan sebuah pesan saat waktunya dirasa tepat.
Tentu saja, baby. Kamu boleh menelponku kapan saja..
Tak berselang lama pesannya langsung mendapatkan balasan.
Lalu Pamela menelpon Daddy Zein dan menceritakan semua masalah yang dialami Vanessa dan meminta bantuan yang diperlukannya.
Baiklah, kirimkan saja nomornya, screenshoot percakapan, juga videonya. Akan aku usahakan ya baby...
Jawab Daddy setelah Pamela bercerita panjang lebar.
Baik Daddy, terimakasih banyak ya! Ditunggu kabarnya.
Ok baby, sama-sama, sampai bertemu lagi..
Dan percakapan mereka pun selesai.
Namun kemudian, kamar Pamela diketuk dari luar. Nenek Zubaedah sudah berdiri di depan pintu kamar Pamela.
"Siapa yang kau telepon malam-malam begini?"
Tanya nenek begitu Pamela membuka pintu. Deg. Jantung Pamela langsung berdegub kencang. Bagaimana kalau nenek sampai tahu kalau dirinya menjadi sugar baby?
"Temanku Nek, kami harus membahas tugas kelompok untuk besok Nek..."
Jawab Pamela, tentu saja berbohong.
"Oh, baiklah kalau begitu...Dengar Pamela! Kamu harus berhati-hati jika berhubungan dengan lelaki. Siapapun yang coba mendekatimu harus kamu ceritakan pada Nenek! Kamu tahu kan nenek sangat menyayangimu? Kami tidak ingin masa depanmu rusak dan kejadian yang menimpa Mommy-mu terulang lagi. Kamu bisa mengerti kan sayang?"
Keluarganya memang tak pernah menutupi masa lalu Mommy yang kelam dan status Pamela sebagai anak di luar pernikahan. Tapi keluarganya juga selalu meyakinkan bahwa itu bukanlah masalah dan mereka sangat menyayangi Pamela. Mereka ingin Pamela mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa Mommy dan tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan Mommy. Karena itu Nenek.Zubaedah sangat protektif pada Pamela.
"Ya Nek, Nenek tak perlu khawatir, Pamela bisa jaga diri kok!"
Untung saja Nenek tidak curiga.
Akhirnya malam itu masalah sementara selesai dan Pamela bisa tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya, Pamela berangkat ke sekolah dengan antusias. Pamela juga sangat senang karena Vanessa, sahabatnya akhirnya sudah masuk sekolah lagi.
Kata Pamela saat menyambut Vanessa yang baru datang dan duduk di bangkunya.
"Nggak usah lebay deh, gue baru nggak masuk sekolah dua hari! Dan sorry yah, gue nggak sekangen itu sama lo!"
Jawab Vanessa pura-pura sebal dengan tingkah lebay sahabatnya.
"Serah lo deh! Btw, gue bawa berita baik buat lo! Mau tahu nggak?"
"Hah, udah ada hasilnya Mel? Cepet amat? Lo emang sohib gue yang paling debest deh!"
Kata Vanessa sambil memeluk Pamela.
"Ya nggak secepat itu juga kali! Yang jelas Daddy gue udah janji bakal usahain yang terbaik, jadi setidaknya sekarang lo bisa sedikit tenang...tinggal cari alasan aja buat ngulur waktu dulu..."
"Ya Mel, gue udah bilang butuh waktu buat cari uangnya, semoga aja dia nggak keburu nyebar gosip yang nggak-nggak.."
Dan ternyata hari itu Daddy Zein sudah memberinya kabar baik yanng diharapkan.
Pamela sampai tersedak saat sedang makan bakso dikantin, karena mendapat kabar baik itu.
"Uhuk..uhuk.."
"Lo kenapa Mel? pelan-pelan makannya..."
Pamela pun langsung mengambil air mineral di depannya dan meneguknya pelan-pelan.
"Gue kaget Nes, habis Daddy gue bilang udah dapat titik terangnya!"
"Wah, bisa secepat itu Mel?"
"Baru titik terang Nes, tapi dia ngajak gue ketemu buat bahas lebih lanjut..."
"Yaudah terserah lo deh Mel, pokoknya aku padamu deh..."
"Ya lah Nes, apa sih ya nggak buat lo!"
"Yoi, emang beda ya kalo yang ngurus orang penting dan berduit!"
"Ya jelas lah, makanya kita harus belajar yang rajin biar besok-besok bisa jadi orang penting berduit!"
Dan sepasang sahabat itu kembali menikmati makanannya dengan lahap. Diam-diam mereka penasaran, siapakah sosok di balik peneror itu?