
Vanessa merasa panik melihat Om Pras yang terus memegangi dada dengan wajah pucat dan mata setengah terpejam.
Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya?
Vanessa sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Diraihnya ponsel Om Pras yang ada di dekatnya, lalu di bukanya riwayat pesan dan panggilan di urutan teratas. Siapa yang harus dihubunginya? Keluarga Om Pras kah? Tidak banyak waktu yang dia punya, reflek Vanessa menekan nomor pada daftar panggilan teratas. Tut tut tut. Setelah menunggu beberapa saat panggilan teleponnya diangkat.
"Halo?"
Suara seorang wanita di seberang sana.
"Halo, maaf apakah Ibu keluarga Om Pras?"
"Ya benar, saya istrinya, ada apa?"
Deg. Vanessa baru menyadari sesuatu. Kenapa dia begitu bodoh? Tapi sudah terlambat. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Om Pras. Meskipun Om Pras sebenarnya hanya orang asing baginya dan bisa saja Vanessa meninggalkannya begitu saja. Tapi hati nuraninya tidak setega itu. Bagaimanapun juga Om Pras sudah cukup berbaik hati padanya dan memberinya banyak uang.
"Maaf Bu, sekarang Pak Pras sedang berada di hotel Xx, kamar 301, dan sepertinya Bapak terkena serangan jantung..."
Vanessa mencoba bicara setenang mungkin, meski hatinya berdebar kencang.
"Oh, tolong panggilkan ambulance dan bawa Bapak ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama, tolong kabari saya secepatnya dan temani dulu sampai saya tiba disana..."
Vanessa tergeragap. Apa wanita di ujung telepon itu tahu siapa dirinya? Ah, kenapa dia bisa begitu bodoh. Seharusnya tadi langsung telepon ambulance saja, kenapa pakai telepon isterinya segala? Tapi nasi sudah menjadi bubur. Vanessa tidak ingin terlambat dan segera menelpon Ambulance. Lalu Vanessa meminta tolong petugas hotel untuk membantunya mengangkat tubuh Om Pras yang ternyata lumayan berat. Seperti perintah Nyonya, Vanessa menunggui Om Pras selama mendapatkan penanganan di ruang IGD. Sungguh Vanessa berharap Om Pras segera sadar lalu menyuruhnya pulang. Dengan begitu dirinya tidak perlu bertemu sang Nyonya. Tapi kalau Om Pras belum sadar juga, tak mungkin dia berani meninggalkannya. Dan bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Om Pras? Apakah dia akan terseret dan dimintai pertanggung jawaban?
Ah, pikiran Vanessa benar-benar kalut dan buntu. Pamela lalu duduk di kursi tunggu dan berdoa semoga keadaan Om Pras cepat membaik. Dengan begitu posisinya akan lebih aman. Tidak lucu kalau peristiwa ini sampai diberitakan.
Seorang pengusaha berinisial PR terkena serangan jantung saat sedang berduaan dengan pelajar SMU XX berinisial VA yang diduga simpanannya.
Walaupun tentu namanya akan disensor, tapi tetap saja netijen nusantara yang kegeniusannya sekelas detektif akan mampu melacak jati dirinya. Apalagi belakangan kasus perselingkuhan yang melibatkan public figure atau orang penting, akan cepat viral. Dan baik media maupun akun gosip akan berlomba-lomba 'menggorengnya' demi mendapatkan cuan.
Tidak. Vanessa tidak ingin nama baiknya tercemar. Dan terutama, Vanessa tidak ingin Ibunya tahu tentang prilaku 'nakal' nya dan ikut terkena imbasnya. Cukuplah dirinya saja yang berdosa. Ibunya sudah cukup berjuang dan menderita, Vanessa hanya ingin meringankan bebannya, bukannya tambah menjadi beban pikiran Ibunya.
Tiba-tiba seorang wanita berhijab menepuk pundaknya, menyadarkan Vanessa dari lamunannya. Usia wanita itu tentu jauh lebih tua dari Vanessa. Tapi wanita itu masih terlihat cantik dengan aura teduh dan senyuman hangat. Dan entah kenapa, baru melihat penampilannya saja Vanessa sudah merasa tertusuk. Senyuman hangat itu, sungguh terasa mengintimidasinya.
"Selamat siang, apakah adik yang menunggui Pak Pras?"
"Ya Bu benar..."
"Terimakasih banyak sudah menolong suami saya, saya akan melihat kondisi suami saya dulu, setelah ini saya ingin bicara denganmu..."
Deg. Kata-kata wanita itu bagaikan pisau yang menghujam hati Vanessa. Begitu lembut dan sopan, tapi mematikan.