
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Zein tiba juga. Baik Zein maupun Luna terlihat amat antusias dengan acara makan malam sekaligus perjodohan yang akan berlangsung nanti malam. Semua asisten rumah tangga di buat sibuk untuk menyiapkan berbagai menu istimewa. Dari rendang daging sampai soto betawi, lengkap dengan buah-buahan dan aneka kue yang di beli di toko bakery ternama.
Tapi antisiasme itu sama sekali tidak terlihat pada diri Pamela. Pamela hanya menjalani harinya seperti biasa, melakukan rutinitasnya, sebab baginya tak ada yang istimewa. Baginya perjodohan ini bukanlah suatu peristiwa penting. Pamela hanya akan melakukannya untuk menggugurkan janjinya kepada Daddy semata. Jadi nanti malam, dirinya hanya akan ikut duduk di meja makan dengan tujuan mengisi perutnya sepwrti biasa. Tidak ada persiapan khusus dan Pamela pun sama sekali tidak berdandan. Bahkan Pamela sudah bersiap dengan piyama tidur kesayangannya yang warnanya mulai pudar. Jika nanti Daddy atau Mommy menyuruhnya ganti baju, Pamela hanya akan mengenakan celana panjang dan kaos seperti yang biasa dipakainya untuk pergi sehari-hari.
Pamela yakin kalau perjodohan ini hanyalah sekedar formalitas dan pasti akan gagal. Lagi pula Pamela juga tak yakin kalau lelaki yang dijodohkan Daddy juga akan tertarik dengannya. Mereka hanya akan bertemu sesaat lalu kembali menjadi dua orang yang tak saling kenal. Begitulah yang Pamela pikirkan.
Semua sudah bersiap di meja makan saat Pamela turun dan siap untuk bergabung. Bahkan Mommy terlihat berdandan dan mengenakan pakaian yang sangat elegan. Berbeda sekali dengan penampilan Pamela yang asal-asalan.
"Pamela, berdandanlah yang pantas atau kamu akan menyesal!", begitu titah Daddy dengan raut yang terlihat kesal.
"Baik Daddy..."
Pamela menurut dan seperti rencananya, Pamela mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan t-sirt kesayangannya.
"Oh sayang kenapa selera fashionmu seperti ini? Apa Mommy-mu tak mengajarimu dengan benar?"
"Itu salahmu! Dia menuruni sifat cuek itu dari dirimu!", Ujar Luna tak mau kalah.
Luna lalu sibuk mengejar Lionel yang berlarian kesana kemari. Lionel hampir berumur tiga tahun sekarang. Sangat aktif dan selalu ingin tahu.
Pamela hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Ya sudah, terserah kau saja! Tapi jangan salahkan Daddy kalau kamu nanti menyesal!"
Pamela tetap tidak perduli, malah asyik mencomot kue lapis legit yang terhidang di meja.
"Kamu tidak sopan, tamu belum datang sudah makan duluan!"
Pamela lanjut mengunyah kue tanpa peduli pada kedua orang tuanya yang dibuat kesal dengan tingkahnya.
Kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Ah itu, sepertinya dia sudah datang! Kau pasti akan senang sayang, dia bukanlah orang sembarangan!"
Salah satu ART membukakan pintu. Lalu seorang pria muda berjalan masuk ke rumah mereka.
"Assalamualaikum Om, Tante, selamat malam..."
Zein dan Luna menyambutnya dengam senyum terkembang, lalu Rayhan menyalami keduanya. Sementara Pamela yang terkejut masih bengong saat melihat siapa yang datang.
"Alhamdulillah baik, Pamela sudah nungguin dari tadi..."
Ujar Zein. Kata-kata yang semakin membuat Pamela malu dan rasanya ingin menghilang saja.
Setelah menyalami Luna dan Zein, Rayhan pun menyapa Pamela.
"Pamela, apa kabar?"
"Baik...", Jawab Pamela dengan kikuk sambil menundukkan kepala.
Dimata Pamela, Kak Rayhan terlihat amat berbeda sekarang. Terlihat sangat berkharisma dan semakin menawan. Wow apa yang baru saja dipikirkannya? Sementara sekarang Pamela merasa menjadi gadis buruk rupa yang tak sepadan dengan pangeran yang ada didepannya.
Benar kata Daddy, sekarang Pamela menyesal. Tapi kenapa Daddy dan Mommy tidak bilang terus terang kalau ini Kak Rayhan. Pamela jadi semakin kesal karena merasa telah ditipu mentah-mentah.