
Masa-masa pencarian dan penantian telah usai, hari-jari sepi juga telah berakhir. Dan kini akhirnya mereka bertiga telah berkumpul, menikmati kebersamaan sebagai keluarga utuh yang sempat lama tertunda. Seperti mimpi yang benar-benar terwujud jadi nyata. Kini hari-hari mereka menjadi penuh warna dalam kebersamaan. Dan ditambah lagi kehadiran Lionel, bayi kecil yang semakin meramaikan keluarga kecil Luna dan Zein. Tentu sesekali keributan kecil terjadi, apalagi saat Lionel menangis dan sedang rewel, membuat semua orang bingung dan khawatir. Tapi semua keriuhan itu tetap mereka syukuri. Apapun yang terjadi, selama mereka melangkah bersama-sama, pasti akan terlewati.
Pamela sudah semakin dewasa sekarang. Kuliahnya hampir selesai dan sedikit banyak sudah mulai memikirkan masa depan. Tapi entah mengapa sampai sekarang Pamela belum punya pacar. Sampai-sampai Daddy yang penasaran sering menggodanya.
"Pamela, kenapa kau tidak punya pacar? Usiamu bahkan sudah pantas untuk menikah!"
Waktu berlalu begitu cepat. Dulu Pamela yang sering menggoda Mommy dan Daddy nya untuk menikah, sekarang Pamela yang jadi sasaran pertanyaan itu.
"Kenap Daddy jadi cerewet begini? Kan Daddy sendiri yang bilang kalau aku jangan cepat-cepat punya pacar supaya punya banyak waktu untuk Daddy..."
"Iya juga ya? Tapi Daddy juga ingin melihatmu bahagia, jangan tiru kami yang terlambat menikah, cukup jadikan pelajaran saja!"
"Entahlah Dad, kalau kau tak sabar jodohkan saja aku?"
"Benarkah? Apa kau benar-benar mau kucarikan jodoh?"
"Daddy, yang benar saja??"
Teriak Pamela dengan kesal. Sementara Luna hanya diam dan tertawa sambil bermain-main dengan Lionel. Luna tak mau menuntut terlalu banyak dan membuat Pamela tertekan, karena dulu Luna pernah merasakan berada di posisi Pamela dalam waktu yang sangat lama. Sangat tidak nyaman rasanya saat orang-orang di sekitarmu terus menuntutmu menikah sementara dirimu tidak punya kekasih. Luna percaya masalah jodoh, rezeki, dan maut sudah diatur yang kuasa. Jadi Luna hanya mendoakan saja, tanpa pernah bertanya atau menuntut apapun.
Alih-alih memikirkan untuk punya kekasih, Pamela memilih fokus untuk merintis usaha masa depannya. Ya, diam-diam Pamela mengagumi Mommy dan ingin menjadi wanita mandiri seperti Mommy yang bisa sukses dam berdiri diatas kakinya sendiri. Tapi disisi lain Pamela juga ingin pekerjaan dan kesibukannya di masa depan membuatnya mengabaikan keluarganya. Dan sekarang, Pamela mulai merintis usaha dan pekerjaan impiannya dengan mendesign pakaian anak-anak dan menjualnya secara online.
Tapi, ternyata semua tidak berjalan mulus seperti apa yang diinginkannya. Ternyata biaya produksi untuk setiap piece pakaian cukup tinggi dan Pamela harus menjualnya dengan harga yang lumayan tinggi. Mommy membantunya promosi di sosial medianya, karena itu semua produknya bisa laku terjual habis. Design yang dibuat Pamela memang bagus dan diproduksi dengan bahan terbaik. Karena itu semua orang yang membelinya tidak kecewa dan menganggap produk itu ekskkusif karena tidak banyak di pasaran. Tapi, bukan itu yang diinginkan Pamela. Pamela ingin baju yang dijualnya bisa dijangkau semua kalangan sekaligus berkualitas. Bukan produk mahal yang hanya bisa dimiliki sebagian kecil orang.
"Kalau begitu kau harus memproduksinya secara masal agar ongkos produksinya rendah...",Begitu saran Daddy Zein.
"Ya Dad, aku tahu...tapi mungkin masih lama aku bisa mewujudkannya karena harus memutar modal.."
"Daddy bisa membantumu kalau masalah itu..."
"Anggap saja Daddy berinvestasi di bisnismu, jadi kau juga harus membagi keuntunganmu untuk Daddy..."
Sejenak Pamela berfikir, sebelum akhirnya setuju.
"Baiklah Dad, sepertinya itu ide yang bagus..."
Perlahan-lahan usaha Pamela berjalan dan berkembang cukup pesat. Sesuai dengan keinginannya, produknya dengan cepat dikenal sebagai brand pakaian anak dengan harga terjangkau dan kualitas premium. Pamela hanya menjualnya secara online di berbagai marketplace, termasuk marketplace milik Daddy-nya. Diam-diam Zein membantu Pamela dengan memberikam promosi besar-besaran di platformnya. Tentu hal itu berdampak pada melonjaknya penjualan. Tapi entah mengapa, tingginya penjualan tak berbanding lurus dengan keuntungan. Pamela terlambat menyadari, hingga keuangan usahanya colaps dan produksi terpaksa harus berhenti. Ternyata salah satu karyawan yang memegang keuangan kabur dengan menggelapkan sejumlah uang. Pamela sempat terpuruk dan bingung bagaimana harus melanjutkan usaha, sementara para pegawai bergantung padanya.
"Terimalah, kamu membutuhkannya..."
"Tapi Dad, bahkan modal yang Daddy berikan belum kukembalikan..."
"Pamela, jatuh bangun usaha itu biasa, jangan terpuruk terlalu lama, kamu harus segera bangkit dan mengambil langkah untuk menyelesaikan masalahmu...kalau Daddy bilang, usahamu sedang tumbuh dengan cepat sampai kamu lupa untuk memperhatikan masalah internal yang sebenarnya tak kalah penting dari penjualan, kamu harus memgambil pelajaran dan memperbaikinya..."
Dengan dibantu Daddy, Pamela mulai bangkit sedikit demi sedikit. Dengan terpaksa Pamela menerima lagi suntikan dana dari Daddy.
"Tidak masalah sayang, itulah gunanya Daddy!"
Tentu uang sebanyak itu bukan masalah besar bagi Zein. Meski begitu Pamela bertekad dalam hatinya untuk mengembalikan modal yang dipinjamkan Daddy bersama pembagian keuntungannya.
Dalam kurun waktu dua tahun, Pamela berhasil memperbaiki managemant usahanya. Penjualannya masih stabil walaupun belum ada kemajuan yang mencolok. Dan Pamela akhirnya berhasil mengembalikan modal yang dipinjamkan Daddy Zein dengan bangga.
"Nanti aku juga akan memberikan pembagian keuntungan Dad, tapi tidak sekarang..."
"Tenanglah sayang, tidak masalah..."
Pamela tahu usahanya hanyalah usaha kecil dibandingkan perusahaan besar milik Daddy, maupun karir keartisan yang dirintis Mommy. Tapi Pamela bangga bisa berdiri diatas kakinya sendiri, setelah segala usaha yang dilakukannya. Akhirnya Pamela sekarang bukan lagi anak manja yang menggantungkan hidup pada kelimpahan harta yang dimiliki kedua orang tuanya. Bahkan sekarang Pamela lebih memilih hidup dengan lebih sederhana dan menurunkan gaya hidupnya. Sebab kini Pamela telah mengerti, bahwa dibalik sejumlah uang yang dulu hanya diperolenya cuma-cuma, ada perjuangan dan kerja keras yang ditempuh seperti yang dilakukannya saat ini.