Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 75



Pamela bangun pagi-pagi, sarapan sebentar, lalu pergi ke sekolah dengan pikiran dan perasaan yang kacau. Pamela sedang tidak ingin berlama-lama berada di rumah dan berinteraksi dengan orang rumah. Pamela tahu selain Mommy, Nenek dan Kakeknya pasti juga sudah tahu tentang pertemuannya dengan Ayahnya kemarin. Dan Pamela belum siap jika harus membahas hal itu dengan siapapun juga.


"Hey Mel, kenapa tampang lo kusut banget begitu? Kayaknya kemaren muka lo udah normal. Emang ada patah hati jilid kedua?"


Tanya Vanessa saat Pamela datang dan duduk disampingnya.


"Sialan lo! Tapi bener juga sih, tapi kali ini patah hati gue lebih parah sih levelnya!"


Patah hati pada sosok yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang anak perempuan. Dulu saat kecil Pamela pernah berharap demikian. Bertemu sosok Ayahnya yang akan memanjakan dan memperlakukannya seperti tuan putri. Meskipun hal itu hanya sebatas mimpi. Tapi sekarang mimpinya sudah melewati batas kadaluarsa. Pamela sudah mengikhlaskan segalanya. Jika memang jalan takdirnya, hidup tanpa sosok Ayah. Tapi bertemu sosok Ayah yang telah menelantarkannya di usia dewasa, ternyata justru membuka luka hatinya. Perasaan terbuang muncul semakin nyata kala melihat sang Ayah muncul dengan sosok dan kehidupannya yang sempurna.


"Ya ampun Mel, lo bucin atau bego sih, timbang cowok nggak peka kayak si Rayhan aja susah amat move on nya!"


Pamela hanya menanggapi sahabatnya dengan senyuman getir. Malas rasanya menjelaskan panjang-lebar tentang urusan ini.


"Btw Mel, gimana kabarnya sugar daddy lo? Kenapa lo nggak gaet dia aja sekalian? Gue lihat-lihat dia harusnya masuk kriteria calon suami idaman deh, udah ganteng, mapan, baik hati...dan yang paling penting nih...masih avaible alias nggak punya bini!"


"Lama-lama lo tambah ngaco deh ngomongnya! Udah ah nggak usah dibahas, seperti saran lo, sekarang gue mau fokus mikirin masa depan aja! Masalah cinta-cintaan mah udah basi...nggak guna juga buat hidup gue!"


"Nah gitu donk, kalo fokus mikirin masa depan udahan dong sedihnya! Senyum yang lebar dan lupain semua kenangan mantan..."


"Yup..."


Pamela tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi kecilnya.


"Kalau gitu, gimana kalau nanti pulang sekolah kita jalan sekali lagi? itung-itung refresh pikiran sebelum memulai pertempuran. Dan habis ini kita harus fokus belajar buat masa depan, gimana? setuju?"


Pamela berfikir sebentar lalu tersenyum dengan semangat.


"Lo emang paling jago deh kalau cari alasan buat hang out! Bilang aja lo yang lagi bosen belajar! Ayolah, sekali ini aja, habis ini berjuang belajar bareng sampek lulus nanti!"


"Ok deal! Nah gitu dong, tuan putri nggak boleh sedih-sedih, harus semangat!"


Mereka menghentikan percakapannya saat bel tanda masuk sekolah berbunyi. Waktunya fokus untuk belajar. Meski mereka bukan murid teladan yang selalu rajin belajar, tapi setidaknya belakangan ini semua anak kelas tiga mulai serius mengikuti pelajaran. Apalagi kalau bukan demi ujian kelulusan yang akan tiba sebentar lagi.


Akhirnya jam pulang sukolah yang telah ditunggu semua anak pun tiba.


"Hang out kemana kita? Bosen deh kalau mall lagi mall lagi..."


"Hehe, emang mau kemana lagi neng? Ke puncak kejauhan, mau ke hutan udah nggak ada hutannya! Paling mentok mah kalau nggak ngemall ya cuma makan aja di cafe!"


"Haha, iya juga sih...eh gue ada ide, gimana kalau kita jalan-jalan ke taman kota, jarang-jarang kan kita kesana?"


"Hmm, boleh lah! Yuk cuss, keburu sore nih!"


Dan akhirnya meluncurlah ke dua sahabat itu ke sebuah taman yang berada di tengah kota dengan diantar sopir Pamela.


Udara siang Jakarta terasa terik seperti biasa. Tapi di taman itu, Pamela dan Vanessa memilih duduk di bawah sebuah pohon besar yang cukup rindang, hingga terasa lebih teduh.


"Laper nih! Makan apa kita disini?"


"Pesan online aja gimana?"


Tunjuk Pamela ke deretan pedagang di tepi taman.


"Emang lo nggak takut diare Mel kalau makanannya kurang bersih?"


"Enak aja! nggak segitunya juga kali, udah yuk cuz, keburu laper...kalau pesan online pasti lama nunggunya..jam-jam macet begini..."


Jadilah mereka berdua duduk di sebuah tikar lesehan di bawah pohon yang cukup rindang dengan dua mangkok bakso, dua mangkok es teler, dan dua botol air mineral.


"Enak juga ya nongkrong begini, kenapa nggak dari dulu aja kita begini?"


"Lo si ngajaknya mall lagi, mall lagi..."


"Kan gue menyesuaikan aja sama lo, gue kira lo nggak level makan beginian!"


Pamela menoyor kepala Vanessa dengan gemas.


"Aw sakit!"


"Makanya jangan ngomong sembarangan..."


"Ngomong-ngomong, habis lulus nanti lo mau nerusin kemana Nes?"


"Gue si pengennya yang negeri, kalau bisa sih biar dapat beasiswanya, meskipun gue masih nyimpen uang yang dikasih Tante Ratna, gue pengennya nggak pake uang itu dan pengen gue balikin suatu saat kalau gue udah mampu..."


"Hmm, bagus juga pemikiran lo...otak lo kan lumayan encer, gue yakin lo pasti bisa kalau belajar serius. Gue percaya lo sebenarnya genius Nes, cuma kurang serius aja belajarnya..."


"Tumben lo muji gue, lo sendiri gimana Mel?"


"Gue sih sadar diri aja, bidang akademik gue nggak terlalu bagus, yang penting sih lulus aja dulu. Habis itu rencananya gue mau ambil jurusan fashion design aja dikampus swasta. Masuknya nggak terlalu ribet kayak kampus negeri sih!"


"Ya udah, apapun itu, semoga ke depannya kita bakal sama-sama sukses...pinter akademik juga bukan jaminan kok Mel, gue percaya asal kita mau berjuang dan pantang menyerah, pasti ada jalan...kayak Mommy lo, btw sebenernya gue nge fans si sama Mommy lo, bisa sesukses itu meski tanpa latar belakang keluarga..."


"Hmmm, Mommy-nya siapa dulu dong! Gue juga bangga sama Mommy...Meski kadang gue jadi merasa terbebani, apa gue juga bisa sukses kayak Mommy sekarang?"


"Bisa! Lo pasti bisa asal mau berusaha...udah ah yuk buruan habisin basonya, keburu gelap ntar dicariin lagi sama nenek lo!"


"Iya...iya...nggak usah bawa-bawa nenek gue kali..."


Mereka lalu menghabiskan makanan dan minuman yang dipesannya. Pamela lalu membayar dengan uang lebih dan para pedagang sangat berterimakasih padanya. Lalu Pamela juga menyempatkan membeli dagangan seorang pedangan asongan yang masih kecil dan juga memberinya uang lebih. Anak itu sempat menolak. Tapi kemudian mau menerima setelah Pamela memaksa dan berkali-kali bilang terimakasih.


"Gue malu Nes, gue sering merasa masalah hidup gue berat banget! Tapi kalau ngeliat mereka, kayaknya gue kurang bersyukur deh!"


"Emang gitulah namanya manusia, sering merasa masalah hidupnya paling berat...So, kayaknya habis ujian kita harus lebih sering nongkrong ke tempat yang lebih merakyat begini deh!"


"Setuju! Habis ujian kita hunting tempat seru semacam ini!"


Sejenak Pamela melupakan masalahnya dan pulang ke rumah dengan senyum ceria di wajahnya.