
Setelah mengantarkan Pamela pulang, entah mengapa Zein malas kembali ke kantor. Pekerjaannya sedang sibuk-sibuknya dan banyak masalah yang menghantam perusahaannya belakangan ini. Harga saham perusahaan merosot cukup signifikan sementara ada banyak kompetitor yang mulai berkembang. Seharusnya Zein fokus bekerja dan mencari jalan keluar untuk semua masalah itu. Namun entah mengapa pikirannya malah buntu. Zein merasa jenuh dan kurang bersemangat. Pamela bilang tidak berminat dan tidak ingin ikut campur dalam perusahannya. Zein bisa menghargai itu, meski Zein akan tetap mencantumkan nama Pamela nanti untuk mewarisi saham perusahaan. Namun entah mengapa, kini kekosongan kembali menyergapnya.
Zein lalu melajukan mobilnya ke arah makam kedua orang tuanya. Disana Zeim akhirnya menangis dan menumpahkan segala keluh kesahnya. Semua orang mungkin menghormatinya karena kedudukan dan harta yang dimilikinya, tapi dirinya kini hanyalah anak yatim piatu yang sebatang kara. Seorang ayah pengecut, yang dulu lari tanggung jawab dan kini menjadi pecundang yang menyesal. Penerimaan dan kehadiran Pamela di hidupnya, kini menjadi satu-satunya semangatnya. Alasan dirinya harus melanjutkan hidup dengan lebih baik.
"Ibu...Ayah...aku ingin meminta restu kalian, aku ingin memiliki sebuah keluarga dan hidup jadi manusia yang lebih berguna..."
Zein telah mengambil sebuah keputusan besar dalam hatinya. Apapun resikonya akan ia terima nanti. Zein harus segera mengambil langkah agar hatinya tenang dan bisa kembali fokus mengelola perusahaan dengan segala permasalahannya. Bagaimanapun juga perusahaan itu diwariskan Ayahnya bukan sekedar agar dirinya kaya, melainkan dirinya punya tanggung jawab besar agar perusahaan tetap berjalan sebagaimana mestinya agar memberi manfaat pada orang banyak.
Zein lalu menghubungi Hartono untuk pamit dengan alasan kalau dirinya kurang sehat dan tidak akan kembali ke kantor. Asistennya itu pasti bisa diandalkan. Dan Zein berjanji akan menaikkan gajinya nanti.
Zein lalu pulang ke apartemennya untuk beristirahat sejenak. Zein perlu waktu untuk menyiapkan mentalnya sebelum nanti akan menghubungi Luna.
Bangun dari tidur siangnya Zein merasa lebih segar. Entah berapa lama Zein sudah tak pernag tidur di siang hari, Zein lalu mengambil ponsel dan mengubungi Luna.
"Luna bisa kita bertemu?"
Luna tak kunjung membalas pesannya, hingga Zein memutuskan untuk mandi agar badannya segar. Selesai mandi Zein mendapati peaan balasan di ponselnya.
"Untuk apa?"
Balas Luna singkat.
"Untuk membicarakan tentang kita..."
"Semua sudah selesai, urusan kita hanya tentang Pamela..."
"Belum, aku ingin menyelesaikannya dalam satu pertemuan saja, tolong beri aku kesempatan, setelah itu aku janji akan menurutimu..."
"Terimakasih, kapan kau ada waktu?"
"Hari Rabu, pukul delapan malam di Havana resto..."
"Baiklah, terimakasih banyak, aku akan datang tepat waktu"
Salah satu hal yang paling disukai Zein dari Luna adalah ketegasannya. Setidaknya hal ini akan memudahkannya tanpa harus bingung menentukan waktu dan tempat. Tanpa sadar selengkung senyum terukir di bibirnya.
Mereka akhirnya bertemu di tempat yang dijanjikan. Kali ini Zein berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Tanya Luna langsung tanpa basa-basi.
" Kenapa terburu-buru? Apa kau tidak ingin makan dulu?"
Tawar Zein dengan senym menggoda.
"Aku tidak lapar..."
"Baiklah, Luna hubungan kita di masa lalu berakhir tidak baik dan kau mungkin masih membenciku. Meskipun telah berkali-kali mengatakannya, aku ingin minta maaf padamu untuk semuanya..."
Luna hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Aku sangat senang akhirnya kita bisa bertemu lagi dan terimakasih telah mengizinkanku mengenal Pamela...Luna kita sama-sama telah dewasa dan banyak hal sudah kita lalui masing-masing, yang akan aku katakan adalah kejujuran. Aku masih mencintaimu...dan aku semakin yakin akan perasaan ini saat kita bertemu lagi. Aku bersyukur kita masih sama-sama sendiri setelah sekian lama. Aku ingin menikah denganmu karena aku sangat mencintaimu...apa kau bersedia menikah denganku?"