Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 54



"Luna, aku tahu mungkin kamu masih marah dan sangat membenciku, aku sungguh-sungguh minta maaf..."


"Maaf?? Fiuhh...Untuk apa minta maaf?"


"Untuk kehadiran Pamela dalam hidupmu dan untuk kesalahanku yang telah bertindak bodoh dengan meninggalkan kalian, maaf...maaf....aku tahu kesalahanku sangat besar, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf..."


Kali ini Zein benar-benar bicara dengan serius. Dengan wajah menunduk di depan Luna, bahkan jika Luna memintanya berlututpun dia akan rela.


"Maaf, sekarang? Setelah sekian lama?"


"Luna, kau tahu aku selalu berusaha datang dan menghubungimu sejak awal, tapi kamulah yang selalu menolakku dan menutup semua akses komunikasi hingga aku tidak bisa melakukan apa-apa! Dan baru sekarang akhirnya aku punya kesempatan..."


Suara Zein kembali meninggi karena emosi. Zein mengingat kembali bagaimana dia berkali-kali berusaha menemui Luna, mencarinya kemanapun hingga menghabiskan seluruh waktunya. Berusaha dengan berbagai macam cara agar Luna mau memberinya kesempatan untuk bicara, tapi tidak pernah! Kesempatan itu tak pernah ada! Sejak awal Luna telah menutup pintu rapat-rapat untuknya.


"Aku tidak butuh kata maaf darimu, hidupku sudah tenang sekarang! Aku tidak butuh apapun darimu. Kalau ada yang ingin kau lakukan untuk menebus kesalahanmu, tolong....tolong pergilah dari hidup kami, tolong pergilah dari hidupku dan Pamela...Karena bagi kami sejak awal kamu sudah tidak ada...".


"Luna!"


Lagi-lagi Zein hanya bisa berteriak putus asa. Sepertinya negosiasi ini akan berjalan dengan alot. Luna sungguh sangat keras kepala, seperti dulu dia mengenalnya.


Beberapa saat mereka saling diam dan memilih menyesap minuman masing-masing. Luna tidak menyangka akan berhadapan lagi dengan Zein, setelah bertahun-tahun lamanya mereka hilang kontak. Yah, memang dirinya lah yang memutuskan untuk menghilang. Terlalu menyesakkan rasanya kalau mengingat apa yang terjadi di belakang. Cerita yang tak pernah selesai dan hanya ingin dikuburnya dalam-dalam. Tapi kini secara tiba-tiba sosok Zein muncul di depan matanya tanpa ia siap untuk menghadapinya.


"Luna..."


Kali ini suara Zein terdengar lebih lunak dan lembut. Terasa seperti dulu saat Zein merayunya ketika mereka masih bersama. Tidak-tidak, Luna segera menepis pikiran konyolnya. Luna masih menunduk sambil mengaduk-aduk minumannya. Berusaha menghindari mata Zein yang memandangnya dengan tatapan entah.


"Sekali lagi aku sungguh-sungguh minta maaf...Yah seperti katamu, mungkin kehadiranku hanya menganggu kalian. Tapi ada banyak hal yang dulu tidak sempat kujelaskan...tolong dengarkan aku sekali ini saja...setelah ini aku janji akan menuruti keinginanmu..."


Beberapa saat suasana kembali hening. Luna menunggu Zein meneruskan kalimatnya. Tapi sepertinya Zein juga sedang menunggu persetujuan Luna untuk bicara.


Akhirnya Luna mengangkat kepalanya, dan dalam waktu sepersekian detik pandangan mereka bertemu. Zein sedang menatapnya dalam-dalam, terpancar kesungguhan disana.


"Bicaralah...aku akan dengarkan..."


Kata Luna akhirnya. Untuk pertama kalinya Luna berbicara dengan hati yang jernih tanpa prasangka buruk pada mantan kekasihnya itu.


Pikiran Luna melayang pada masa lalu. Dimasa-masa terpuruknya saat dia merasa sendirian, dibuang, dan ditinggalkan. Rasa sakitnya terlalu dalam, ditambah perasaannya yang sedang sensitif,membuatnya malas bertemu orang dan menjadi pribadi yang lebih tertutup. Dan kebenciannya memuncak saat Zein kembali datang menganggunya setelah menghina dan meninggalkannya. Yang tertanam di benaknya hanyalah Zein yang merasa bisa membelinya dengan uang setelah apa yang mereka lakukan bersama.


"Kenyataannya memang begitu, orang-orang sepertimu hanya menganggap semua bisa dibeli dan diselesaikan dengan uang! Aku tidak perlu itu, meskipun tidak sekaya kamu dan keluargamu, lihatlah! Aku juga bisa menghasilkan banyak uang dan membesarkan anakku!"


Luna masih saja bicara dengan sinis.


"Luna, ada amanah yang ingin kusampaikan padamu. Ini amanah dari Ibuku, kalau belum menyampaikannya aku akan merasa berdosa padamu dan beliau..."


Kali ini Luna diam dan gantian menatap Zein dengan tajam, pandangan menghakimi dan menelisik, mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh lelaki didepannya ini.


"Menjelang wafatnya, Ibuku sempat berubah pikiran dan menyuruhku menemuimu. Ibuku ingin meminta maaf padamu, tolong maafkan beliau....saat itu beliau juga bilang sudah memberikan restu kalau aku ingin menikahimu, beliau menyuruhku mencarimu dan anakku dan bertanggung jawab pada kalian....juga Ibuku mewasiatkan sebuah rumah atas nama Pamela..."


"Lagi-lagi kalian berfikir bisa menggunakan harta, bahkan untuk meminta maaf..."


"Luna tolonglah, jangan berfikir sepicik itu...Setidaknya aku mohon, maafkanlah Ibuku dan terimalah pemberian beliau...hanya itu keinginannya sebelum beliau meninggal..."


Luna memejamkan mata, berat sekali rasanya harus berbicara tentang masa lalu yang sudah dikuburnya dengan susah payah.


"Zein...beri aku waktu...aku tidak bisa berfikir jernih sekarang. Pergilah, aku akan menghubungimu nanti kalau sudah siap. Biarkan aku fokus pada kesembuhan Pamela dan tolong jangan temui dia dulu..."


"Luna..."


"Pergilah..."


"Baiklah, aku akan pergi...aku akan menunggunya...tolong jaga Pamela baik-baik..."


"Tentu saja, dia anakku! Tanpa kamu minta aku pasti menjaganya!"


Luna lembali tersulut emosi.


"Bukan begitu maksudku...baiklah, aku pergi sekarang..."


Setelah Zein meninggalkannya, barulah Luna meneteskan air matanya. Kenapa dia harus membuka lagi luka lama itu?