Oh, My Sugar Daddy!

Oh, My Sugar Daddy!
Bab 62



"What happened Mel? Gue rasa-rasain sejak habis kecelakaan itu lo jadi lebih pendiem dan aura lo jadi suram begini?"


Pamela yang dari tadi hanya mengaduk-aduk minumannya sambil menunggu bakso di mangkoknya sedikit dingin, tidak fokus dengan apa yang dikatakan Vanessa.


"Lo ngomong apa Nes barusan?"


"Tuhkan Lo ngelamun lagi! Lo kenapa kok jadi pendiem dan suram begini?"


Kata Vanessa sambil mengulangi pertanyaannya.


"Nggak papa kok..."


"Tuh kan, males banget deh gue, ngomong sama gue berasa lagi ngambek sama pacar ya? Dijawabnya nggak papa doang! Gue sahabat lo Mel, yang paling tahu gimana elo...Nggak mungkin lo nggak ada apa-apa tapi auranya suram begini, Lagi patah hati ya neng?"


Tembak Vanessa langsung tepat sasaran.


"Ah rese lo! Kalo udah kepo aja, cerewetnya ngelebihin emak-emak nggibah! Lagi males ngomong ni gue, makan aja nggak selera begini"


"Tuh kan bener gue, itu namanya tanda-tanda patah hati, makan tak enak tidur pun tak nyenyak, siang malam merindukanmu, meski hubungan tak menentu! Hhahahaha..."


"Sialan lo, puas ketawa diatas penderitaan orang lain?"


Meskipun mereka saling berseloroh dengan kata-kata tak sopan, tapi hanya dihadapan sahabatnya inilah Pamela bisa melepaskan semua bebannya dan bersikap sesukanya tanpa takut apapun.


"Haha, nggak lah, ada apa si bebeb? Apakah gerangan yang membuatmu bermuram durja begini?"


"Tar lah gue pasti cerita, tapi nanti kalau mood gue udah baikan. Sekarang daripada banyak bacot mendingan sebagai sahabat yang baik lo hibur gue?"


"Siap tuan puteri, butuh hiburan macam apa lo? Jalan? Nonton? Makan? Atau kita hunting Om-om tajir lagi?"


"Sialan lo! Udah kapok gue, itu sih bukan cari hiburan tapi cari masalah namanya!"


"Iya juga sih, bercanda kali, gue juga udah kapok sih! Ya udah yuk cuz, masuk ke kelas, bentar lagi bel nih! tar pulangnya kita mampir nge mall aja gimana? cara refreshing instan di tengah belantara kota cuy! Terus ntar malam kita pajamas party alias nginep bareng di rumah lo! Gue juga udah eneg nih di sodorin soal-soal try out tiap hari..."


"Oke lah gue ngikut aja!"


"Hehe, senyum dong jangan cemberut terus!"


Pamela laku nyengir memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya.


"Nah gitu dong cantik, yuk kita lanjut belajar dulu, menuntut ilmu biar bisa menyongsong masa depan yang cerah gemilang!"


"Bahasa lo absurd banget, tumben omongan lo lurus, hahahaha"


Akhirnya Vanessa berhasil membuat sahabatnya yang sedang bermuram durja tertawa dengan lepasnya.


Kemudian saat jam pelajaran hampir berakhir, Vanessa kembali mengkonformasi rencananya pada Pamela.


"Mel, beneran kan pulang sekolah kita jadi nge -mall?"


"Iya, kan gue udah bilang, nanti diantar sopir gue aja!"


"Sip lah, btw lo keberatan nggak kalau Sisca ikut kita?"


"Sejak elo kelamaan nginep di RS dan bikin gue kesepian..."


"Ok lah no problem, rame-rame makin seru kali ya?"


"Ok lah fix gue ajakin dia juga ya? Kasian dia nggak punya temen..."


"Ketinggalan berita ni gue, gimana ceritanya kalian bisa langsung akrab begini?"


Tok tok tok.


Bu Ida memukulkan penggaris panjang ke papan tulis.


"Yang di belakang harap tenang atau saya suruh maju ke depan untuk menggantikan saya!"


Teguran guru kimia itu terdengar lantang di tengah suasana kelas yang mendadak hening. Praktis Pamela dan Vanessa langsung menyudahi obrolan tanpa di komando.


Selesai jam pelajaran mereka bertiga akhirnya benar-benar pergi ke mall. Sekedar berjalan-jalan bersama sahabat dan teman baru ternyata lumayan memperbaiki perasaan Pamela yang belakangan sering gundah tak menentu. Seperti ada beban yang terangkat dari pundaknya. Ternyata Sisca teman yang cukup menyenangkan, pendengar yang baik meski agak pendiam. Hanya sesekali Sisca menimpali obrolan diantara mereka. Mungkin merasa sungkan atau merasa menjadi orang baru dalam circle yang baru dimasukinya.


"Sama kita santai aja Sis, kita emang kadang sadis kalau ngomong, tapi jujur...no baper-baper ya.."


"Yoi, gue juga lebih suka gini, gue juga nggak baperan kok...udah mati rasa lah malahan, terserah orang mau ngatain gue apalah..."


Image negatif dan rasa rendah diri akibat perbuatan yang pernah dilakukannya membuat mereka bertiga merasa senasib sepenanggungan. Ditambah lagi Sisca yang baru saja berkabung karena kehilangan sosok Ayah membuatnya turut bersimpati pada Vanesaa yang lebih dahulu ditinggalkan ayahnya, juga Pamela yang sama sekali tidak pernah mengenal Ayahnya. Hidup akan tetap berjalan dan semua akan baik-baik saja. Namun tak bisa dipungkiri ketidakhadiran figur seorang Ayah pada diri gadis remaja seperti mereka akan meninggalkan lubang besar dihati, yang sesekali membuat mereka merasa ada yang tak lengkap di dalam hidup.


Mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling, masuk dari satu gerai ke gerai yang lain sambil berbicara tentang hal-hal random, lalu tertawa bersama. Mencoba beberapa baju dan sepatu, tanpa berniat membeli, dan tertawa saat melihat para spg yang tetap tersenyum meski dalam hatinya pasti menahan dongkol. Ternyata bahagia itu sederhana di saat kita bersama orang yang tepat.


Lelah berkeliling akhirnya mereka masuk di salah satu gerai restoran cepat saji. Meski sering di bilang makanan sampah, tapi tak bisa dipungkiri makanan cepat saji adalah comfort food bagi hampir semua orang dengan harga yang relatif terjangkau dan menu yang bisa diterima hampir semua kalangan.


Mereka membawa pesanan masing-masing ke meja. Fiuh. Akhirnya bisa duduk setelah dua jam berkeliling rasanya nyaman sekali. Minuman soda dingin menjadi sasaran pertama untuk membasahi tenggorokan yang kering. Ah, segarnya. Pamela sampai memesan tiga macam minuman karena saking hausnya. Sedangkan Siska dan Vanessa menambahkan satu botol air mineral.


Dan mereka mulai tenggelam menikmati makanan masing-masing. Namun keasyikan Pamela mengunyah makanannya seketika terhenti saat melihat sosok lelaki yang dikenalnya masuk ke gerai yang sama bersama seorang gadis cantik dan seksi. Dan mereka terlihat mengobrol dengan akrab sambil sesekali melempar tawa.


Kak Rayhan.


Pamela menatap keduanya sampai kemudian Kak Rayhan menyadari kehadirannya dan melangkah ke arahnya.


"Hay Mel, kamu disini juga? Kenalin ini teman aku Nadia...Nadia ini Pamela..."


"Hey Pamela salam kenal, Rayhan, aku masih ada urusan habis ini, jadi sebaiknya kita ngobrol dulu sambil nunggu makanan datang, dah Pamela..."


Perempuan bernama Nadia itu menarik tangan Kak Rayhan. Dan Kak Rayhan hanya bisa mengekor sambil memandang Pamela dengan tatapan entahlah. Seperti meminta izin atau merasa bersalah.


Pamela berusaha mengabaikan hal itu dan kembali sibuk dengan makanannya.


"Makan yang banyak Mel, patah hati butuh banyak tenaga!"


Sindir Vanessa pada sahabatnya.


"Dasar temen nggak ada akhlak!"


Sisca tertawa melihat tingkah dua teman barunya.