
Malam itu, Luna tampil menawan dalam balutan gaun panjang berwana broken white. Meski gaun itu berpotongan tertutup, tapi terlihat amat pas dan seksi di tubuh Luna yang ramping. Zein juga terlihat gagah dalam balutan tuxedo dengan warna senada. Keduanya terlihat mengumbar senyum sambil menyambut para tamu yang datang. Dekorasi terlihat mewah dengan meja-meja kecil yang di tata apik dengan pita merah hati di berbagai sudut taman. Persis seperti keinginan Luna dan Zein, pesta private yang manis dan romantis dengan layanan kelas satu. Para tamu pun terlihat amat menikmati acara. Duduk sambil menikmati hidangan lezat sambil disuguhi hiburan live musik dari band ternama ibu kota. Alunan lagu-lagu romantis mengalun lembut menyatu bagaikan menceritakan perjalanan cinta mempelai. Setelah selesai menyalami para tamu, Zein dan Luna berdansa dengan disaksikan para tamu yang hadir. Semua menatap takjub, sungguh pengantin yang cantik dan amat serasi. Seperti pasangan di negeri dongeng. Beberapa pasangan tamu pun memberanikan diri untuk ikut turun ke lantai dansa. Diantara mereka adalah pasangan artis dengan paras yang tak kalah rupawan dengan pasangan pengantin. Suasana pesta perlahan mencair dan semakin meriah. Para tamu saling mengobrol di tengah jalannya pesta hingga tanpa terasa malam beranjak larut. Satu persatu tamu beranjak pulang. Keluarga yang sedari pagi mengikuti prosesi acarapun sudah lelah dan memilih istirahat di kamar. Dan para pelayan mulai sibuk membereskan sisa-sisa pesta.
Sementara di kamar pengantin, Luna sedang duduk di depan meja rias sambil membersihkan make up di wajahnya. Di sudut lain, Zein yang baru saja melepas baju pengantinnya, memperhatikan Luna dengan senyuman penuh arti.
"Ada yang bisa kubantu?"
Tanya Zein sambil mendekat, membuat Luna semakin gugup.
"Tidak, aku bisa sendiri..."
Luna sudah selesai membersihkan riasan, dan sekarang dia bingung untuk melepas gaunnya. Luna berfikir untuk membawa baju gantinya ke kamar mandi, tapi tiba-tiba Zein memegang lengannya.
"Sini, biar aku bantu membuka resletingnya, kau pasti akan kesulitan kalau membukanya sendiri..."
Zein menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya, lalu memeluknya dari belakang erat-erat.
"Sebentar saja..."
Tubuh Luna sejenak membeku. Zein lalu melepaskan pelukannya dan membuka resleting Luna. Tampaklah punggung Luna yang mulus seputih susu. Sejenak Zein terperangah, namun segera menepis pikirannya.
"Mandilah dulu, kau bisa melepasnya sendiri kan?"
Luna segera melangkah ke kamar mandi untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Selesai mandi Luna mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu memakai baju malam yang seksi. Tapi di luarnya Luna memakai jubah selutut dan mengaitkan talinya rapat-rapat sehingga keseksian tubuhnya tak terlalu terekpos.
Saat keluar dari kamar mandi, Luna melihat Zein sedang berbaring sambil memainkan ponselnya.
"Sudah selesai? biar aku mandi dulu..."
Sepertinya Zein pun sudah tidak sabar untuk membersihkan tubuhnya, lalu bermesraan dengan Luna.
Zein berendam air hangat sebentar untuk menyegarkan badannya, lalu menggosok setiap jengkal tubuhnya agar bersih dan harum. Tak ingin berlama-lama, Zein keluar dengan baju handuk dan segera menghampiri Luna yang sudah meringkuk di balik selimut. Zein tahu Luna belum tidur dan memeluk tubuh berbalut selimut itu erat-erat.
"Bisa kita mulai sekarang?"
Bisik Zein tepat di telinga Luna.
Tubuh Luna seketika meremang.
"Mulai apa?"
"Mulai mengobrol...banyak yang harus kita bahas bukan?"
Luna menghembuskan nafasnya lega. Tapi sepertinya Luna benar-benar lelah dan mengantuk. Entah apa saja yang Zein katakan. Perlahan-lahan matanya terpejam. Lalu saat Zein memeluknya erat-erat, Luna jatuh tertidur semakin dalam.