
Luna mengusap air matanya dan menghabiskan kopinya. Sudah jam berapa ini? Tanpa terasa dua jam berlalu sudah sejak dia meninggalkan Pamela. Pamela pasti menunggunya. Luna lalu memesan sanwich, beberapa cake, juga minuman coklat kesukaan Pamela. Pamela kan tidak suka makanan rumah sakit. Sambil menunggu pesanan Luna pergi ke kamar mandi. Wajahnya terlihat sembab dan bengkak karena habis menangis. Luna mengusapkan bedak dan sedikit blush on agar terlihat segar dan menyamarkan wajah sembabnya. Beres!
Pesanannya sudah jadi dan Luna langsung berjalan cepat untuk kembali ke kamar putrinya.
Sampai di ruang perawatan Pamela terlihat sedang sibuk mengganti-ganti chanel televisi.
"Mommy, kenapa lama sekali? Aku bosan sendiri..."
"Maaf sayang, oh ya Mommy bawa banyak makanan untukmu...ayo kita makan bersama..."
"Aku masih kenyang Mommy, baru saja aku makan pasta yang dibawakan Daddy Zein..."
"Oh..."
Luna tampak kecewa.
"Jangan khawatir Mommy, nanti pasti akan ku makan juga, sekarang Mommy makan saja duluan..."
"Pamela, bagaimana kamu bertemu dengan Zein dan sejauh apa hubungan kalian?"
Luna bicara dengan tegas.
"Maaf Mommy...aku bertemu Daddy Zein lewat perantara. Maafkan aku Mommy, aku tahu aku telah bertindak bodoh. Tapi untunglah Daddy Zein orang yang sangat baik, kami hanya berteman, jalan-jalan bersama dan saling bertukar cerita. Mungkin kami hanya sama-sama kesepian. Mommy tenang saja, tidak ada hal terlarang yang kami lakukan. Mommy juga mengenalnya kan? Apa Daddy Zein juga teman Mommy?"
"Maafkan Mommy, membuatmu merasa kesepian..."
"Ah, bukan begitu maksudku Mommy..."
"Tidak apa Mommy mengerti, beristirahatlah Pamela, supaya lukamu lekas pulih. Kalau sudah sembuh nanti, Mommy janji akan lebih sering mengajakmu jalan-jalan..."
"Hehe, ok Mommy, aku pasti akan cepat sembuh kalau begitu"
Tanpa menunggu lama, Pamela benar-benar sudah berpindah ke alam mimpi. Mungkin itu juga efek dari obat yang diminumnya tadi.
Suasana yang lengang dan tidak adanya kesibukan membuat Luna teringat kembali percakapannya dengan Zein tadi.
Benarkah tentang semua apa yang diceritakan Zein tadi? Atau hanya bualan untuk kembali merayunya dan mendapatkan apa yang diinginkannya?
Dulu semua terasa begitu kacau. Yang dipikirkannya hanyalah fokus untuk mencari uang untuk membesarkan Pamela dan membiayai keluarganya. Luna yang terlanjur sakit hati sama sekali tak ingin Zein menganggu hidupnya. Tapi jika benar semua yang diceritakan Zein padanya tadi, mungkin mantan kekasihnya itu tidak seburuk prasangkanya selama ini. Dan dirinyalah yang selama ini keras kepala hingga tak mau mendengar alasan orang.
Kini, haruskah dia menyesal? Haruskah dia memberi tahu Pamela atau biarkan saja seperti ini. Toh dirinya dan Pamela sudah baik-baik saja sekarang.
Tanpa sadar Pamela sudah menggeliat dan bangun dari tidurnya.
"Momny sedang apa?"
"Oh, Pamela, kamu sudah bangun?"
"Mommy melamun ya? memikirkan apa?"
"Tidak apa-apa...Oh ya Mommy lupa, tadi Mommy beli minuman coklat kesukaanmu, ayo diminum..."
"Ya Mommy, aku juga mau cake nya..."
"Ternyata anak Mommy banyak juga ya makannya, tadi katanya sudah makan..."
"Ini kan suka makanan kecil Mommy..."
Sejenak Luna menikmati memandang Pamela yang sedang makan dengan lahapnya.
"Pamela, apa kamu ingin punya Ayah?"
Tanya Luna tiba-tiba. Pamela terkejut mendengar Mommy menanyakannya. Sebab dulu, kalau dia bertanya tentang Ayahnya, Mommy selalu menghindar
"Tidak Mommy...Mommy sudah cukup buatku. Jangan berfikir yang tidak-tidak dan jangan sedih Mommy. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh lagi dan akan jadi anak Mommy yang baik..."
Pamela tidak ingin Mommy merasa sedih seperti dulu, jika Pamela bertanya soal ayahnya.
"Hmmm, baiklah kalau begitu..."
Diam-diam Luna mulai luluh dan mulai mempertimbangkan permintaan Zein. Luna tahu sejak dulu Pamela penasaran dengan keberadaan ayahnya. Dan pasti Pamela akan senang jika bisa bertemu dengan Ayahnya. Bagaimanapun dia adalah seorang Ibu yang ingin anaknya bahagia.