
Pulang sekolah Mommy menepati janjinya untuk menjemputnya. Pamela mengajak Vanessa untuk ikut pulang bersama, tapi Vanessa menolaknya.
"Gue bisa pulang sendiri, lo pasti butuh waktu berdua buat ngobrol sama nyokap lo..."
"Makasih Nes, lo emang sahabat gue yang paling pengertian..."
Mereka laku berpisah di depan gerbang sekolah dan Pamela langsung masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.
"Kita makan siang dulu ya sayang, kamu mau makan dimana?"
"Aku pengen makan es krim Mommy..."
"Baiklah, tapi jangan lupa pesan makan siangmu juga..."
Mommy memilih sebuah restoran yang menjual gelato, tapi juga menyediakan banyak menu yang lainnya. Kali ini Mommy memilih tuna salad sebagai makan siangnya. Rendah kalori, tapi cukup bergizi. Begitu pikirnya. Setidaknya Pamela tidak akan protes dengan menu makan siangnya. Sementara Pamela memesan spageti bolognaise, orange juice, dan gelato coklat. Kenapa spageti lagi? Entalah! Mungkin Pamela sudah kecanduan dengan masakan Daddy-nya.
"Makan yang banyak Pamela!"
"Ya Mommy, Mommy juga!"
Sejenak mereka sibuk menyantap makanannya.
"Pamela, sejauh apa yang kamu dengar tadi malam?"
Luna tahu, perdebatannya dengan Ibunya semalam pasti menyakiti hati Pamela, hingga anaknya memilih meninggalkan rumah. Dia sangat khawatir. Untunglah tidak terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya.
"Aku mendengar Mommy bertengkar dengan nenek karena membelaku! Terimakasih Mommy sudah membelaku, tapi lain kali Mommy tidak perlu sampai begitu dengan Nenek..."
Benar-benar anak yang manis. Siapa yang mendidikmu sampai bisa bicara semanis ini? Yah benar, pasti Ibuku yang melakukannya, bukan aku!
"Ah sayang, bahkan kami pasti mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatimu, maafkan Mommy sayang, maafkan Mommy! Mommy akan berusaha lebih baik lagi untuk jadi Ibu yang baik untukmu..."
Dan Luna pun mulai terisak karena rasa bersalahnya.
"Sudah Mommy, sudah...jangan menangis nanti malu dilihat orang!"
Pamela menenangkan Mommy sambil menepuk-nepuk punggungnya. Mommy yang selalu terlihat ceria, tiba-tiba bisa berubah jadi sensitif begini.
"Pamela, kamu sudah beranjak dewasa, Mommy pasti akan menjelaskannya secara perlahan-lahan apa yang terjadi pada Mommy di masa lalu, Mommy harap kamu bisa mengerti..."
Pamela mengerti, sangat tidak mudah menjadi Mommy dengan segala tekanannya. Apalagi jika mendengar banyak orang-orang menggunjingkan, ingin rasanya Pamela membelanya. Tapi Mommy berpesan untuk mendiamkannya saja.
"Anak manis, apa kamu sayang Mommy?"
"Tentu saja Mommy, kenapa Mommy tanya begitu, Pamela sayang sekali sama Mommy..."
"Mommy juga sayang sekali sama Pamela, Mommy akan berusaha jadi Ibu yang baik untuk Pamela..."
Dan mereka pun berpelukan sambil terisak, tanpa peduli kalau pengunjung yang lainnya memperhatikan mereka.
"Sudah-sudah Mommy, di lihatin orang-orang tuh!"
"Eh, iya..."
Mommy dan Pamela pun buru-buru menghapus air matanya dan mencoba kembali bersikap biasa.
"Makan es krim Mommy, biar nggak sedih lagi!"
Pamela menyuapkan es krim kepada Mommy, dan Mommy menikmatimya sampai habis setengah.
"Pesan lagi Pamela! Es krim mu jadi Mommy yang habiskan..."
"Nggak papa Mommy, aku sudah kenyang! Enak kan Mommy? lain kali Mommy harus sering-sering makan es krim biar lebih bahagia, jangan diet-diet terus!"
"Iya anak Mommy yang cerewet!"
Setelah itu mereka membicarakan hal-hal ringan saja sambil tertawa. Mommy menceritakan pekerjaannya, sedangkan Pamela menceritakan kegiatan di sekolahnya.
"Pamela, setelah ini kamu ingin pergi kemana?"
"Aku mau pulang saja Mommy, mau ketemu sama nenek, kemarin kan Pamela belum sempat minta maaf sama nenek..."
Ah dasar anak ini! Manis sekali sampai-sampai membuatku ingin menangis. Apa aku pantas menjadi Ibunya?
"Baiklah, ayo kita pulang!"